Press "Enter" to skip to content

MENGOREK BOROK BANK BTN PUSAT (3)

* IRONIS, OJK DAN DIRUT TUTUP MATA

 

Dirut BTN Maryono

JAKARTA, BN – Berbagai kemelut yang terjadi di bank BTN pusat tidak mendapat respon yang baik dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan) RI, bahkan cenderung tutup mata terhadap berbagai permasalahan di BTN. Betapa tidak? PT Lintang Jaya Properti (LJP) yang sekarang nasibnya diombang-ambingkan oleh oknum-oknum di BTN pusat tidak mendapat perlindungan dari OJK. Bahkan, OJK cenderung terkesan tutup mata dan tidak melakukan langkah apapun. Padahal, selama ini PT LJP telah menyelamatkan sejumlah kredit macet/NPL di BTN.

Ironisnya lagi, Dirut BTN Maryono, juga terkesan cuek dan tutup mata terhadap permasalahan PT LJP yang diduga dilakukan oleh bawahannya. Buktinya, sampai saat ini Dirut tidak mengambil langkah apapun untuk mengusut anak buahnya yang tidak mengerjakan perintahnya untuk menyelesaikan PT LJP. “Sampai saat ini tidak ada tindakan dari OJK untuk mengusut sejumlah permasalahan di BTN. Sedang Dirut juga tutup mata, meski jelas-jelas perintahnya tidak dilakukan oleh anak buahnya. Bahkan kasus dibobolnya bank BTN Sidoarjo Rp 1,5 M yang diduga dilakukan PT NAP dirut Eddy George Tauran, sampai saat ini juga tidak diusut. Padahal yang dibobol itu uang rakyat yang menjadi nasabah BTN, ” kata sumber BN.

Sumber itu juga mengatakan, permasalahan di BTN yang menyebabkan PT LJP jadi korban tidak lepas dari intrik-intrik perebutan jabatan di dalam tubuh bank plat merah itu sendiri. Kabar terbaru, dari sejumlah calon direksi yang mengikuti seleksi, telah lolos dua kandidat yakni mantan kepala Asset Management Division (AMD) Satya Wijayantara yang sekarang menjabat Kanwil BTN Jabar dan Yossi, Head Legal Division. Meski Satya lebih senior, pandai dan visinya sangat bagus untuk memajukan BTN ke depan, dalam fit propertest terakhir tidak diloloskan dengan alasan tidak masuk akal. Di antaranya, adanya laporan di Polda Metro Jaya oleh PT NAP Edy George Tauran berkaitan dengan novasi kredit perumahan di Mojosari dan Cepu Jateng oleh PT LJP. Padahal laporan tersebut sudah di SP3 dan diduga dibuat dan didalangi oleh oknum BTN sendiri. Dengan gugurnya Satya, kata sumber itu, maka Yossi yang lolos menjadi direksi dan sekarang menunggu pelantikan. “Yossi sendiri diduga masih ada hubungan kerabat dengan Dirut Maryono,” kata sumber itu.

Seperti diberitakan BN edisi sebelumnya, oknum-oknum di Bank BTN diduga bermain sendiri-sendiri dan menunjukkan pola kerja yang tidak sesuai dengan aturan perbankan, bahkan cenderung merugikan rekan kerja/debiturnya. Betapa tidak? Debitur sebagus PT Lintang Jaya Property (LJP) yang telah menyelamatkan NPL/kredit macet di BTN nasibnya diombang-ambingkan, bahkan jadi bulan-bulanan oknum tak bertanggungjawab di kantor pusat Jl Gajah Mada Jakarta ini. Buktinya, permohonan restrukturisasi hutang/bunga berjalan yang diajukan PT LJP mulai bulan Oktober tidak kunjung ada putusan. Padahal restrukturisasi hutang itu kewajiban dari Bank itu sendiri untuk memberikan keringanan kepada Debitur apabila mengalami kesulitan karena akibat kesalahan dan tidak dijalankannya perintah dirut oleh oknum-oknum BTN itu sendiri.

Menurut sumber BN, perlakuan berbeda dilakukan BTN terhadap Dirut PT Nugra Alam Prima (NAP), Edy George Tauran. Pasalnya, PT NAP yang melakukan novasi kredit macet dari pengembang perumahan di Mojosari Mojokerto PT Graha Permata Wahana (GPW), malah mendapat pencairan dana segar Rp 1,5 M (dari total Rp 5 M) yang dicairkan melalui BTN Sidoarjo tanpa prosedur yang ada (lihat bukti foto, red). Betapa tidak? Saat itu PT NAP kantornya tidak jelas, belum membayar kewajiban sebagai Debitur (belum membayar Provisi dan administasi sebelum melakukan pencairan dana Rp 1, 5 M).” Kok bisa semua prosedur perbankan belum dipenuhi kok dana Rp 1,5 M sudah dicairkan ke PT NAP. Ini murni korupsi, pembobolan uang BTN, mohon ditelusuri oleh BN,” kata sumber yang tahu persis permainan di BTN ini.

Ironisnya, kata sumber itu, uang rakyat yang ditabung di BTN sebesar Rp 1.5 milyar yang dikucurkan kepada PT NAP Dirut Edy George Tauran, sama sekali tidak digunakan untuk pembangunan perumahan di Mojosari Mojokerto. Uang Negara itu diduga dibuat bancakan oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. “Infonya Edy George Tauran adalah teman Dirut BTN Sumaryono. Karena teman dekat Sumaryono, maka orang BTN Sidoarjo yakni Tiyok (Kepala Cabang Sidoarjo), Andrean (Analis kantor cabang Sidoarjo dan analis AMD Sidoarjo), tidak berkutik dan langsung mencairkan uang tersebut, meski prosedur perbankan belum dipenuhi oleh PT NAP,” kata sumber tersebut.

Dikatakan sumber itu, saat ini Tiyok dan Andrean serta orang-orang yang diduga terlibat pencairan dana tersebut telah dipindah tugaskan ke daerah lain dan mendapat promosi jabatan. Ini nampaknya strategi BTN untuk mengamankan mereka agar tidak terjerat hukum. Ironisnya, pejabat BTN yang membantu PT LJP untuk menyelamatkan kredit macet/NPL BTN akibat ulah PT NAP, sekarang malah dibuang di bidang lain yang tidak bisa menangani bidang tersebut. Akibatnya, proses restrukturisasi hutang dan realisasi KPR Perumahan Mojosari dan Cepu oleh PT LJP tidak diproses oleh oknum-oknum BTN sampai saat ini. Sementara PT LJP tiap bulan terus membayar bunga berjalan ke BTN, “Ini benar-benar gila PT LJP dipaksa tiap bulan membayar bunga, tapi PT LJP tidak bisa menjual rumah melalui KPR karena ulah oknum BTN sendiri. Ini scenario untuk mematikan PT LJP,” tandas sumber itu.

Sementara bagian hukum Bank BTN Pusat Yosy saat ditemui BN mengatakan, pihaknya masih melakukan audit internal di BTN Sidoarjo. Jika nanti dalam audit ditemukan data yang cukup adanya dugaan penyimpangan, pihaknya akan memproses secara hukum. “Tolong kami dibantu datanya, nanti saya proses,” pinta Yossi.

Ketika ditanya soal jaminan dari BTN yang diberikan kepada PT LJP jika ada permasalahan soal novasi, ia mengatakan, jaminan itu kan Satya yang tandatangan. Begitu juga saat ditanya soal restruk yang dibilang pihak AMD pusat harus minta pendapat bagian hukum BTN, Yossy menegaskan, itu jelas ngawur, “Restruk itu bukan di tempat saya,” tandasnya. Sementara salah satu pejabat di AMD Pusat menanggapi apa yang disampaikan Yossi, balik mengatakan, bagian hukum itu yang banci, tidak berani mengambil putusan.

Adalah Perusahaan Perumahan (developer) PT Lintang Jaya Property (LJP) yang berdomisili di Surabaya, Jawa Timur yang merasa jadi korban dan diplokotho (dipermainkan) oleh oknum-oknum di bank plat merah tersebut. PT LJP sebagai debitur yang telah menyelamatkan NPL (kredit macet) Bank BTN itu malah diombang-ambingkan dan diduga sengaja akan dimatikan perusahaannya oleh sebagian oknum pejabat di kantor Bank BTN di Jl Gajah Mada, Jakarta Pusat ini. Selama ini reputasi PT LJP sebagai debitur sangat bagus dan mendapat acungan jempol dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), karena sudah beberapakali menyelamatkan NPL Bank BTN dari debitur nakal yang menyebabkan kredit macet. Salah satunya menyelamatkan pembangunan Perumahan di wilayah Kebomas Gresik JawaTimur yang saat ini sudah terjual habis dan mendapat apresiasi dari OJK.

Dengan pengalaman dan reputasi bagus itu, BTN menawari lagi Proyek penyelamatan asetnya yang macet kepada PT LJP. Tidak tanggung-tanggung beberapa waktu lalu, 4 pejabat Bank BTN yang sangat berpengaruh datang ke rumah Dirut PT LJP di kawasan Pagesangan Surabaya. Mereka menawari Novasi Kredit (penyelamatan kredit macet) untuk Proyek perumahan yang macet di 2 lokasi sekaligus. Yakni; 1) Proyek perumahan lokasi di Mojosari, Mojokerto Jawa Timur dari PT Graha Permata Wahana (GPW) yang telah macet dan selanjutnya dinovasi ke PT Nugra Alam Persada (NAP) yang telah macet 1 tahun lebih dengan kucuran dana Rp 5 M, telah dicairkan Rp 1.5 m tanpa ada pembangunan sama sekali dan Dirutnya kabur. 2) Lokasi di Blora Jawa Tengah, macet karena pengembang PT Tiara Patubah bermasalah.

Karena diyakinkan oleh BTN dan pihak BTN menjamin tidak ada masalah, Dirut PT LJP menerima tawaran novasi tersebut. Kemudian ditandatangani perjanjian novasi antara BTN dan PT LJP. Setelah dinovasi, PT LJP kemudian bergerak cepat, menyulap kawasan di Mojosari- Jawa Timur yang semula mangkrak, jadi tempat pengembalaan ternak dan hanya 10 rumah dan 8 user, menjadi perumahan yang bagus. Sekarang telah terbangun seratus rumah dan ruko, serta asset Jalan yang dulu tidak boleh dilalui, PT. LJP telah musyawarah dengan warga akhirnya boleh dilalui dengan kompensasi pembangunan Masjid. Dan saat ini di Mojosari telah memperoleh user 170 User dan sekitar 70 user telah diwawancarai oleh BTN. Ironisnya, para user yang sudah diwawancarai oleh BTN dan telah menyetor berkasnya tidak ada jawaban apapun sampai saat ini. Padahal sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur) Bank BTN, mestinya 14 hari setelah wawancana BTN harus memberi jawaban. “Sampai saat ini tidak ada penjelasan dari BTN mas. Padahal aku sudah menyerahkan data pendukung dan slip gaji dan lain-lainnya, “ Kata Yuni, salah satu user pada BN, dengan nada kesal.

Ironisnya lagi, BTN tetap mewajibkan PT LJP untuk membayar bunga berjalan dari ke 2 proyek tersebut, meski jelas-jelas PT LJP tidak memperoleh pemasukan apapun karena sampai saat ini tidak ada realisasi KPR. Pihak BTN setiap ditanya oleh PT LJP mengapa tidak kunjung ada realisasi KPR, mereka saling lempar tanggungjawab dengan alasan sertifikat belum di balik nama atas nama PT LJP dan alasan-alasan lain yang tidak benar.

Padahal BTN melalui kepala Asset Management Division (AMD) Satya Wijayantara pada point 3 menegaskan; “Bahwa dapat kami beritahukan kepada PT LJP apabila terdapat kendala dalam proses peralihan hak atas tanah pada obyek perumahan sebagaimana disebutkan pada point 2 diatas, maka kami selalu kreditur bertanggungjawab secara hukum untuk penyelesaiannya dan Asset Management Division PT BTN (Persero) Tbk, akan melakukan upaya-upaya hukum baik secara perdata ataupun pidana terhadap pihak-pihak yang mengganggu ataupun terindikasi memiliki niat menghalang-halangi dalam hal penyempurnaan pembaharuan utang (novasi) yang telah dilakukan oleh PT LJP, sehingga mengakibatkan langkah penyelamatan kredit bank menjadi terganggu.

” Dari indikasi yang ada oknum BTN diduga sengaja mau membunuh PT LJP, karena situasi seperti ini seharusnya BTN membantu PT LJP, bukan malah memplokotho dan mengombang ambingkan seperti ini. Lebih gila lagi, permohonan Restrukturisasi Hutang PT LJP yang dikirim ke kantor pusat tidak ditanggapi sampai hari ini. Padahal restrukturisasi hutang adalah system otomatis yang ada di BTN dan bergerak jika ada masalah, tidak usah menunggu berbulan-bulan, yang tidak jelas. “ Ini gila dan jelas- jelas melanggar Undang-undang Perbankan, “ kata sumber BN.

Menurut sumber BN di BTN, dari rangkaian permasalahan itu terjadi karena salah satu dari debitur, yaitu PT. Nugra Alam Prima (NAP) Dirut Edy George Tauran disebut – sebut teman dekat Dirut BTN Maryono. Bawahan Maryono yakni, Elizabet Novy dan Nixon Napitupulu diduga sengaja mengkondisikan PT LJP macet dengan tujuan menjual lagi asset PT LJP kepada Edy George Tauran. Perbuatan ini diduga dilakukan Nixon dan Novy untuk mencari muka di hadapan Dirut BTN Maryono karena mereka tahu bahwa Edy GeorgeTauran adalah teman baik Dirut BTN. Padahal ulah tersebut jelas-jelas melanggar Undang-undang Perbankan. Padahal perintah Dirut sudah jelas segera diselesaikan masalah PT LJP .

Nixon dan Novy, lanjut sumber itu, untuk membuktikan bahwa putusan AMD yang dulu itu salah, agar mereka dapat reward dan tidak kena pergantian yang akan dilakukan dalam waktu dekat. Padahal apa yang dilakukan AMD pusat waktu itu Satya Wijayantara tidak ditemukan kejanggalan sama sekali. Bahkan untuk melindungi debitur yang baik AMD lama berani melindungi dengan mengeluarkan Jaminan apabila debitur itu tunduk dan patuh dengan aturan BTN, maka BTN akan melindungi debitur. Namun para oknum pejabat AMD BTN Pusat dan Area Surabaya malah mengatakan, “ itu kan tanda tangan Satya, “ bahkan mereka mengabaikan kop surat serta stempel Bank BTN.

Sedangkan, Dirut PT LJP saat ditemui BN mengatakan, “Saya sangat kecewa dengan rekan saya di BTN karena saya selaku pembeli kewajiban saya selalu dikejar, tetapi kewajiban BTN selaku penjual tidak ada sama sekali. Terus jaminan yang mereka berikan sendiri oleh BTN diingkari Institusi BTN itu sendiri. Sudahlah oknum BTN sadarlah ingat anak istrimu, jangan kamu hidupi anak- anakmu dengan niatan buruk,” tandas Abah. (tim/bersambung edisi depan)



Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.