Press "Enter" to skip to content

Akibat Gempa Dan Tsunami Pangandaran, SDN 3 Pamotan Butuh Perbaikan Ruang Kelas

PANGANDARAN, JABAR, BN – Srinendah.S.Pd. Sd, Kepala Sekolah Dasar Negeri 3 Pamotan di Dusun Ciawitalu, Desa Pamotan Kecamatan Kalipucang mengatakan bahwa pihaknya sangat mengharapkan adanya rehab dan membuatan ruangan kelas dari pemerintah karena longsor akibat gempa dan tsunami tahun lalu.

Hal tersebut dikatakan Srinendah kepada wartawan Bidik Nasional diruang kerjanya.

Menurut Srinendah sebenarnya ada ruangan perpustakaan bisa digunakan secepatnya karena pekerjaannya sudah rampung, tapi pihak sekolah masih belum bisa memanfaatkannya karena terbentur aturan.

“Memang ruangan tersebut sangat di butuhkan mengingat satu ruangan kelas yaitu kelas 2 tak bisa digunakan sehubungan satu ruang kelas tersebut dinding samping ruangan terkena longsor. Akibat Imbas dari gempa tsunami Pangandaran tahun lalu,” terang Srinendah.

“Kami bersama komite sekolah untuk sudah membersihkan dan mengangkut material yang menimpa dinding ruangan kelas tadi dengan mengerahkan orang tua murid bergantian secara bergilir. Karena khawatir tebing yang curam itu longsor kembali, maka kami mengambil langkah menjaga keselamatan anak didik supaya tidak menempati ruangan tersebut,” jelas Srinendah

Kendati demikian, kata Srinendah pihaknya tetap memakai ruangan tersebut untuk UKS.

Pembangunan perpustakaan itu, terang Srinendah menyisakan persoalan baru, pihak sekolah ditagih hutang material dan upah kerja.

“Pihak sekolah masih terbebani hutang pada toko material dan tenaga pekerja karena belum terbayar, hal itu disebabkan anggaran dari dinas belum turun. Kami sangat berharap sekali supaya secepatnya di selesaikan,” harap Srinendah.

Namun Srinendah berterimakasih kepada dinas terkait yang telah mengupayakan membantu sekolah merehab dan membuat satu ruangan perpustakaan.

“Sekalipun sekolah kami termasuk dipinggiran tapi alhamdulilah pemerintah masih memperhatikan apa yang menjadi kendala yang ada disini terutama prasarana tempat belajar mengajar,” ujar Srinendah.

Kesulitan yang dihadapi proses belajar mengajar, terang Srinendah tidak hanya masalah gedung sekolah namun pengadaan air bersih untuk kebersihan warga sekolah.

“Bila ada anak-anak yang hendak membuang hajat besar terpaksa harus pulang kerumahnya. Begitu juga bila ada tamu kami merasa malu, karena tak cukup menyediakan air bersih.

“Mudah-mudahan kedepannya kami mempunyai sumber air bersih dan karena sebagian besar sekolah dasar yang ada di daerah seperti kami tidak mempunyai sumber air bersih. Ini menjadi bahan pemikiran kita semua termasuk dinas terkait tentunya,” pungkasnya. (Asep)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.