
BOYOLALI, BIDIKNASIONAL.com – Masyarakat Desa Dologan melaksanakan tradisi adat dan sunnah Nabi yaitu sadranan dimakam Kembar Klicung, pada hari Sabtu, 14 Februari 2016 dan Makam Gedek pada Hari Minggu 15 Februari 2026. Acara ini dihadiri oleh Kepala Desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, masyarakat Desa Dologan, KKN Unnes Semarang dan masyarakat Dologan dan sekitarnya.
Kepala Desa Dologan Sugeng Riyanto dalam sambutannya menyampaikan bahwa, Nyadran adalah salah satu tradisi adat istiadat yang masih dilaksanakan dalam kehidupan masyarakat Jawa pada umumnya khususnya di Desa Dologan yaitu di Makam kembar Klicung dan Makam Gedeg di Desa Dologan.
Nyadran sebagai ajang sarana silaturohim dan memperkokoh ajang silaturohim pada kesempatan ini disampaikan untuk makam kembar klecung dimakam kan tokoh besar yaitu Simbah Demang Kromo Wijoyo dan di makam Gedeg dimakamkan Kyai Gedeg (Simbah Ahmad Karyo Doso / Resi Dewandaru) beliau berdua banyak jasa dan pengorbanan, perjuangan di bumi Dologan ini.
“Harapan nya, dengan adanya sadranan bisa untuk sarana mendoakan ahli kubur dan bisa dilestarikan untuk ajang silaturohim”, ungkapnya.
Di akhir acara diadakan pengajian akbar dimakam kembar Klecung pembicara kiyai Abdul Matin dari Ampel Kota Boyolali dan Makam Gedeg pembicara pengajian dan doa Kyai Abdullah dari Sragen.
Sebagai informasi, Nyadran adalah salah satu tradisi dan adat yang masih melekat dalam kehidupan masyarakat Jawa. Nyadran berasal dari bahasa sangsekerta sraddha yang artinya keyakinan yaitu sarana untuk mendoakan saudara, orang tua, leluhur yang sudah meninggal dunia. Seiring dengan berjalannya waktu mengalami proses perkembangan budaya sehingga menjadi adat dan tradisi yang memuat berbagai macam seni budaya, kultur Agama, Nyadran identik dengan Ruwahan karena dilaksanakan pada bulan Ruwah.
Tradisi nyadran berdasarkan sejarah merupakan suatu akulturasi budaya Jawa dan Islam, dikarenakan dilaksakan menjelang Bulan suci Romadhon umat Islam menjalankan ibadah puasa.
Ke makam (ziarah) leluhur dimaksudkan sebagai sarana mendoakan arwah (ahli waris) yang telah meninggal dunia dan untuk mengingatkan bahwa semua manusia pada akhirnya akan mengalami kematian dan juga dijadikan sebagai sarana guna melestarikan budaya gotong-royong dalam masyarakat sekaligus upaya untuk dapat menjaga keharmonisan bertetangga, melalui kegiatan ini orang Jawa bilang kembul bujono (makan bersama) dan ajang bertatap muka silaturohim
Tradisi nyadran terdiri dari berbagai rangkaian yaitu :
1. Melakukan bersih area Makam dari kotoran dan bersih rumput.
2. Kirap budaya, arak – arak an masyarakat menuju tempat makam sambil membawa aneka makanan dan makan untuk di santap bersama – sama.
3. Ujub artinya menyampaikan maksud dan tujuan diadakan nyadran yang disampaikan pemangku Desa yaitu kepala Desa apa panitia sadranan.
4. Pengajian dan Doa dalam rangka ini diadakan pengajian akbar dan doa ( Dhikir dan Tahlil) berjamaah. (Rilis/Ahmad Mukhlis)



