Bencana Alam dan Risiko Putus Obat pada Pasien Penyakit Kronis

Gambar ilustrasi dampak banjir terhadap kesehatan dan risiko putus obat (dibuat dengan AI)
Oleh : Prof. dr. Hj. Rika Yuliwulandari, M.Hlt.Sc., M.MB., Ph.D., Sp.KKLP., Subsp. FOMC, Fakultas Kedokteran, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur
BENCANA alam tidak hanya menyebabkan kerusakan infrastruktur dan kerugian materi, tetapi juga memberikan dampak besar terhadap kesehatan masyarakat. Banjir, gempa bumi, tanah longsor, maupun cuaca ekstrem sering kali mengganggu akses layanan kesehatan dan distribusi obat-obatan. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi pasien dengan penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan rutin setiap hari. Ketika bencana terjadi, banyak pasien kesulitan mendapatkan obat karena fasilitas kesehatan terdampak atau akses transportasi terhambat. Akibatnya, risiko putus obat menjadi semakin tinggi dan dapat memperburuk kondisi kesehatan pasien. Permasalahan ini berkaitan erat dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera bagi seluruh masyarakat.
Pasien penyakit kronis seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung, asma, dan gagal ginjal sangat bergantung pada terapi jangka panjang. Pengobatan yang teratur diperlukan untuk menjaga kondisi tubuh tetap stabil dan mencegah terjadinya komplikasi. Namun dalam situasi bencana, kebutuhan dasar masyarakat sering kali lebih difokuskan pada makanan, tempat tinggal, dan evakuasi darurat. Persediaan obat-obatan sering kali menjadi hal yang terlupakan, baik oleh pasien maupun sistem pelayanan kesehatan. Padahal, keterlambatan atau penghentian terapi dapat menyebabkan kondisi pasien memburuk dalam waktu singkat. Oleh karena itu, keberlanjutan akses pengobatan menjadi bagian penting dalam mendukung pencapaian target SDGs di bidang kesehatan.
Banjir merupakan salah satu bencana yang paling sering terjadi di berbagai wilayah Indonesia dan memiliki dampak besar terhadap pelayanan kesehatan. Genangan air dapat memutus akses jalan menuju rumah sakit, puskesmas, maupun apotek. Selain itu, obat-obatan yang disimpan di rumah juga dapat rusak akibat terendam air atau hilang saat proses evakuasi. Banyak pasien akhirnya tidak dapat melanjutkan pengobatan sesuai jadwal yang dianjurkan. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko komplikasi seperti lonjakan tekanan darah, kadar gula darah yang tidak terkontrol, hingga serangan penyakit akut. Situasi tersebut menunjukkan pentingnya pembangunan sistem kesehatan yang tangguh terhadap bencana sebagai bagian dari SDG 11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan.
Tidak hanya kesehatan fisik, kondisi pasca-bencana juga dapat memengaruhi kesehatan mental pasien penyakit kronis. Situasi darurat, kehilangan tempat tinggal, serta ketidakpastian kondisi lingkungan dapat menimbulkan stres dan kecemasan berlebihan. Pada beberapa pasien, stres dapat memperburuk penyakit yang diderita dan mengganggu kepatuhan minum obat. Selain itu, keterbatasan akses informasi selama bencana membuat banyak pasien tidak mengetahui cara mendapatkan layanan kesehatan darurat. Hal ini menunjukkan bahwa dampak bencana terhadap kesehatan bersifat sangat kompleks dan saling berkaitan. Karena itu, penguatan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana juga menjadi bagian penting dari upaya pembangunan berkelanjutan.
Kelompok lansia menjadi salah satu kelompok paling rentan dalam situasi bencana. Banyak lansia memiliki lebih dari satu penyakit kronis dan membutuhkan konsumsi beberapa jenis obat setiap hari. Dalam kondisi evakuasi, lansia sering mengalami kesulitan membawa obat-obatan maupun mengingat jadwal pengobatan mereka. Keterbatasan mobilitas juga membuat lansia lebih sulit menjangkau fasilitas kesehatan yang masih beroperasi. Jika kondisi ini tidak segera ditangani, maka risiko komplikasi dan peningkatan angka kesakitan pada lansia dapat semakin tinggi pasca-bencana. Hal ini sejalan dengan prinsip SDGs yaitu no one left behind, yang menekankan bahwa seluruh kelompok masyarakat harus memperoleh perlindungan kesehatan tanpa terkecuali.
Permasalahan putus obat saat bencana sebenarnya dapat dicegah melalui kesiapsiagaan yang baik. Masyarakat, khususnya pasien penyakit kronis, perlu memiliki persediaan obat darurat yang cukup untuk beberapa hari ke depan. Penyimpanan obat juga harus diperhatikan agar tetap aman saat terjadi banjir atau keadaan darurat lainnya. Selain itu, penting bagi pasien untuk menyimpan catatan pengobatan dan nomor kontak fasilitas kesehatan terdekat. Langkah sederhana tersebut dapat membantu pasien tetap melanjutkan terapi meskipun berada dalam situasi bencana. Upaya kesiapsiagaan ini merupakan bentuk dukungan terhadap terciptanya masyarakat yang lebih tangguh dan sehat sesuai tujuan SDGs.
Pemerintah dan tenaga kesehatan juga memiliki peran penting dalam melindungi pasien penyakit kronis saat terjadi bencana. Sistem pelayanan kesehatan perlu memiliki strategi khusus untuk memastikan distribusi obat tetap berjalan dalam kondisi darurat. Posko kesehatan di lokasi pengungsian harus dilengkapi dengan obat-obatan esensial untuk penyakit kronis. Selain itu, edukasi mengenai kesiapsiagaan kesehatan perlu dilakukan secara rutin kepada masyarakat. Dengan kesiapan yang baik, risiko putus obat dan komplikasi penyakit dapat diminimalkan. Kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi langkah penting dalam mendukung pencapaian SDGs, terutama pada sektor kesehatan dan ketahanan masyarakat terhadap bencana.
Bencana alam memang sulit diprediksi, tetapi dampaknya terhadap kesehatan dapat dikurangi melalui persiapan yang matang. Kesadaran masyarakat mengenai pentingnya keberlanjutan terapi penyakit kronis harus terus ditingkatkan. Pasien tidak hanya perlu mempersiapkan kebutuhan logistik, tetapi juga memastikan ketersediaan obat-obatan selama kondisi darurat. Menjaga keberlanjutan pengobatan merupakan bagian penting dari upaya melindungi kesehatan saat bencana terjadi. Dengan kerja sama antara masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah, ketahanan kesehatan di tengah bencana dapat semakin diperkuat sekaligus mendukung terwujudnya tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs di Indonesia. (Wot /Adv)



