
Penandatanganan Penguatan Ekosistem Jaminan Sosial Melalui Pendidikan di Gedung Rektorat Kampus C UNAIR Surabaya (Foto: ist)
SURABAYA, BIDIKNASIONAL.com – BPJS Kesehatan berkomitmen membangun kolaborasi lintas sektor, dengan perguruan tinggi sebagai pelopor, demi terwujudnya sistem jaminan kesehatan inklusif, merata, dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.
Hadir dalam acara Grand Launching Penguatan Ekosistem Jaminan Sosial Melalui Pendidikan di Gedung Rektorat Kampus C UNAIR Surabaya, Kamis (14/8/2025), Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ghufron Mukti, menekankan pentingnya sinergi dengan dunia pendidikan melalui integrasi materi jaminan sosial di lingkungan civitas academica.
Langkah ini bertujuan membekali mahasiswa dengan pengetahuan, sekaligus membentuk pola pikir bahwa jaminan sosial Program JKN wajib dipertahankan eksistensinya.
“Dengan pemahaman ini, mereka diharapkan menjadi agen perubahan di keluarga, kampus dan masyarakat. Per 1 Agustus 2025, peserta JKN mencapai 281,13 juta orang,” ucap Ghufron.
Ghufron mengungkapkan, BPJS Kesehatan juga memiliki big data yang dapat dimanfaatkan akademisi, peneliti dan masyarakat untuk penelitian serta kebijakan berbasis bukti.
Dengan demikian, dapat menjadi ruang berbagi masukan, pengalaman dan strategi implementasi terkait pelaksanaan Program JKN, sekaligus memperkuat kolaborasi dengan dunia akademik.
Dalam acara tersebut, hadir Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar dan Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Pramudya Iriawan Buntoro.
Acara Grand launching Penguatan Ekosistem Jaminan Sosial melalui Pendidikan tersebut, juga melibatkan 16 perguruan tinggi. Semua untuk memperkuat, sekaligus mendorong integrasi materi jaminan sosial ke dalam kurikulum pendidikan tinggi di Indonesia.
Sejalan dengan Direktur Utama BPJS Kesehatan, Rektor Universitas Airlangga, Muhammad Madyan menegaskan pentingnya membekali mahasiswa dengan pemahaman menyeluruh terkait konsep, kebijakan, hingga implementasi jaminan sosial.
Hal ini menurutnya krusial untuk mencetak lulusan yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan keterampilan praktis untuk berkontribusi nyata di tengah masyarakat.
“Di UNAIR sendiri, kami memiliki sejumlah muatan pembelajaran yang mengintegrasikan konteks jaminan sosial, seperti mata kuliah Komunikasi Kesehatan dan Layanan Dasar Kesehatan. Kami ingin menghasilkan lulusan yang inovatif, mandiri, dan mampu menciptakan solusi terkait isu-isu jaminan sosial,” tegas Madyan.
Menurut Madyan mahasiswa ini dapat menjadi agen perubahan yang mampu merancang program lebih efektif, mengadvokasi kebijakan yang berpihak kepada rakyat, dan memastikan setiap warga negara mendapatkan haknya. Selain itu, peluncuran penguatan ekosistem jaminan sosial melalui pendidikan dapat mempererat sinergi antara dunia akademik dan pemerintah.
“Mari bersama-sama membangun sumber daya manusia yang unggul, yang mampu memastikan sistem jaminan sosial di Indonesia berjalan optimal dan memberi manfaat maksimal bagi seluruh rakyat,” tutupnya.
Diketahui sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Abdul Muhaimin Iskandar, memberikan apresiasi tinggi kepada Universitas Airlangga (Unair) yang menjadi pelopor dalam menghadirkan pendidikan jaminan sosial di Indonesia. Hal tersebut disampaikan saat menghadiri acara Grand Launching Penguatan Ekosistem Jaminan Sosial melalui Pendidikan yang digelar di Surabaya.
Dalam sambutannya, Cak Imin sapaan akrabnya menekankan pentingnya semangat gotong royong dalam sistem jaminan sosial di Indonesia, khususnya dalam implementasi BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.
“Kita tahu persis bahwa BPJS Kesehatan ini mengandung semangat gotong royong, spirit kolaborasi, dan sinergi dari semua unsur yang terlibat di dalamnya. BPJS Kesehatan membutuhkan semangat kita semua untuk berbagi dan bergotong royong menyelesaikan masalah kesehatan bangsa,” ungkapnya, Kamis (14/8/2025).
Lebih lanjut dikatakan, pentingnya perluasan jaminan sosial tenaga kerja, tidak hanya untuk pekerja formal tetapi juga bagi sektor informal yang selama ini belum sepenuhnya terlindungi.
“Model dan manfaat BPJS Ketenagakerjaan menjadi bagian integral dari solusi dunia industri kita. Sudah saatnya perlindungan tenaga kerja bergeser ke sektor informal agar mereka juga mendapat jaminan yang layak,” ujar Cak Imin.
Ia pun menegaskan pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak dalam membangun ekosistem jaminan sosial yang kuat, berkelanjutan, dan inklusif.
“Kita harus terus bekerja dan berkolaborasi bersama-sama untuk memastikan kedua BPJS ini tumbuh dan menjamin kesehatan serta kesejahteraan seluruh bangsa. Terima kasih kepada UNAIR yang telah memulai pembelajaran jaminan sosial lebih awal dibanding kampus-kampus lain. Ini adalah langkah strategis dalam membangun ekosistem yang lebih luas,” tambahnya.
Menko PM juga menggarisbawahi bahwa kerja sama antara pemerintah, swasta, akademisi, media, dan publik merupakan kunci keberhasilan sistem jaminan sosial nasional yang berbasis gotong royong.
Acara ini menjadi tonggak penting bagi penguatan ekosistem jaminan sosial di Indonesia, dengan UNAIR sebagai pelopor dalam integrasi pendidikan dan kebijakan jaminan sosial yang berdampak luas bagi masyarakat.
Laporan: red
Editor: Budi Santoso



