
Kolaborasi BPJS Kesehatan Surabaya bersama TP PKK Kota Surabaya menuju Indonesia bebas TBC pada 2030 (Foto: ist)
SURABAYA, BIDIKNASIONAL.com – Angka kasus penyakit tuberkulosis (TBC) di Jawa Timur tercatat masih tinggi termasuk Kota Surabaya sebagai salah satu penyumbang terbesar karena jumlah penduduknya yang padat. Kondisi tersebut mendorong Rumah Sakit Ubaya bersama Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Surabaya, berkolaborasi dengan BPJS Kesehatan melakukan upaya pencegahan penyebaran penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis itu melalui kegiatan Community Wellness Program.
Ketua TP PKK Kota Surabaya, Rini Indriani Eri Cahyadi, menyampaikan bahwa kolaborasi ini menjadi langkah nyata menuju Indonesia bebas TBC pada 2030.
“Kolaborasi antarpihak, termasuk PKK, rumah sakit, dan BPJS Kesehatan, sangat penting untuk menekan angka kasus TBC di Surabaya. Salah satu upaya promotif yang dapat dilakukan adalah memberikan edukasi kepada masyarakat melalui PKK mengenai cara mendeteksi suspek TBC. Apabila ibu-ibu menemukan tetangga dengan gejala TBC seperti batuk yang tidak kunjung sembuh, penurunan berat badan yang cukup drastis, dan gejala lainnya, dimohon segera melaporkannya ke puskesmas setempat,” ujar Rini ketika ditemui di Surabaya, Kamis (28/08).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, pada tahun 2024 estimasi penemuan kasus TBC mencapai 16.127 kasus dan sebanyak 16.098 kasus pada tahun 2025. Di Kota Surabaya, penemuan kasus TBC pada periode Januari–Desember 2025 tercatat sebanyak 12.096 kasus atau 75 persen dari estimasi 16.127 kasus. Sementara itu, berdasarkan data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) per 24 Maret 2025, penemuan kasus TBC di Surabaya mencapai 1.917 dari estimasi 16.098 kasus pada tahun 2025.
“Mengingat Indonesia menempati peringkat kedua kasus TBC setelah India, para penderita perlu menjalani pengobatan secara rutin hingga tuntas agar dapat sembuh sepenuhnya serta mencegah penularan kepada orang lain. Saya memberikan apresiasi kepada RS Ubaya yang telah berperan aktif dalam menyediakan layanan kesehatan bagi masyarakat Surabaya. Saya juga berharap ibu-ibu PKK, sebagai perpanjangan tangan dari kami, dapat turut mengedukasi warga sekitar mengenai pentingnya deteksi dini, pencegahan, serta kepatuhan dalam menjalani pengobatan TBC, sehingga penularan dapat ditekan dan kesehatan masyarakat semakin terjaga,” ungkap Rini.
Sementara itu, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Surabaya, Hernina Agustin Arifin, menyatakan dukungannya terhadap upaya pencegahan TBC melalui edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini, pencegahan, serta kepatuhan dalam menjalani pengobatan.
Menurutnya, langkah tersebut dapat diawali dengan melakukan skrining riwayat kesehatan secara rutin sekali dalam setahun. Tujuannya adalah untuk mengetahui kondisi kesehatan sejak dini, sehingga apabila ditemukan gejala suspek TBC dapat segera ditangani secara tepat serta mencegah penularannya kepada orang lain.
“Skrining riwayat kesehatan tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat, tetapi juga menjadi sarana bagi dokter di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) untuk mengidentifikasi potensi penyakit kronis yang mungkin dialami pasien. Apabila hasil skrining menunjukkan adanya dugaan TBC, dokter dapat menetapkan tindak lanjut yang tepat, baik melalui pemeriksaan lanjutan, pemberian pengobatan sesuai standar, maupun rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap agar pasien memperoleh penanganan secara optimal,” tutur Hernina.
Hernina menjelaskan bahwa pengisian skrining riwayat kesehatan sangat mudah dilakukan, hanya membutuhkan waktu sekitar 5–10 menit, serta dapat diakses kapan saja dan di mana saja melalui Aplikasi Mobile JKN maupun laman webskrining.bpjs-kesehatan.go.id. Masyarakat cukup menjawab pertanyaan dengan memilih pernyataan yang sesuai dengan kondisi terkini. Langkah ini sekaligus mendukung upaya promotif dan preventif dalam rangka mewujudkan Indonesia bebas TBC pada 2030.
“Saya mengimbau seluruh masyarakat yang mengalami kondisi tidak enak badan berkepanjangan agar segera memeriksakan diri dan mendapatkan pengobatan di fasilitas kesehatan terdekat. Saat ini, akses layanan kesehatan semakin mudah, khususnya bagi masyarakat yang telah terdaftar sebagai peserta JKN. Oleh karena itu, saya berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga kepesertaan JKN tetap aktif dengan mendaftarkan diri beserta keluarganya dan membayar iuran secara rutin, karena penyakit dapat menyerang siapa saja tanpa mengenal waktu,” tutup Hernina.
Laporan: rn/md/red
Editor: Budi Santoso



