
Pedagang batu mulia serta berbagai jenis akik ditawarkan di Kayon (foto: poedji)
SURABAYA, BIDIKNASIONAL.com – Kayon, adalah salah satu tempat wisata di kota Surabaya yang pernah menjadi ikon kota tersebut. Letaknya mudah dijangkau karena berada di tengah kota. Jadi bagi para tamu luar daerah yang ingin mampir ke Kayon sangat mudah mengaksesnya.
Di sana kita bisa menjumpai tempat jajanan khas daerah, pasar bunga dan bursa batu mulia. Tempatnya juga sudah tertata rapi tidak bercampur dengan yang lain. Paling ujung kanan pedagang makanan, tengah pedagang batu mulia dan ujung kiri pedagang bunga.
Namun dalam perjalanan waktu, untuk pedagang jajanan khas daerah sudah tidak ada lagi dan digantikan dengan resto-resto yang menjajakan makanan dan minuman masa kini.
Kemudian untuk pasar bunga, masih bertahan hingga saat ini. Berbagai macam tanaman hias tersedia disana. Ada juga toko-toko bunga yang menyediakan hiasan bunga untuk ucapan berbagai acara seperti resepsi perkawinan, acara ulangtahun dan lain sebagainya.
Selanjutnya juga ada yang masih eksis yakni bursa batu mulia. Di Kayon dijajakan berbagai permata seperti; safir, jamrod, rubi dan jenis permatan lainnya. Kemudian untuk berbagai jenis akik juga tersedia disini. Ada bulu macan, batu garut, bacan, pirus, yaman, kecubung dan akik lain yang menjadi andalan berbagai daerah.
Para pembeli bisa melakukan transaksi langsung dengan menawar barang yang sudah dipatok oleh pedagang sampai deal. Tidak ada pihak ketiga yang mempengaruhi dan hanya pedagang dan pembeli saja yang tahu. Selain itu pedagang juga menerima penjualan batu dari orang lain dengan syarat tertentu misalnya barang bagus dan tidak teelalu mahal.
Sejarah perjalanan kayon yang pernah berjaya khususnya di tempat bursa batu mulia, menarik para penggemar batu mulia dari berbagai daerah. Mereka datang dan melakukan bisnis dengan pedagang Kayon. Membeli atau menjual terjadi disini dan itulah yang menjadikan bursa batu mulia dan akik Kayon cukup ramai.
Bahkan tidak saja penggemar dari daerah yang datang ke Kayon tetapi pedagang dan pembeli manca negara berseliweran disini. Walau dibatasi dengan bahasa, antara pedagang dan turis manca negara bisa melakukan bahasa “isyarat”.
Jadi walau melakulan komunikasi dengan isyarat, tapi sering terjadi transaksi karena satu sama lain sama-sama diuntungkan. Pembeli bisa mendapatkan barang sesuai harapan dan penjual juga demikian mendapatkan harga yang sesuai harapannya.
Menurut Ketua P3 Bapin (Peratuan Pedagang dan Pengrajin Batu Permata Indah) Kayon, Nuri, kepada BN, kehadiran tamu manca negara itu terjadi saat bursa batu mulia ini sedang booming sekitar 2015.
Berbagai bangsa pernah datang kesini untuk membeli batu sesuai selera atau sebagian lainnya menawarkan batu-batu yang mereka bawa dari negaranya. Untuk komunikasi tidak begitu sulit bisa menggerakkan tangan atau.menulisnya disecarik kertas.
“Para turis dari negara lain itu macam-macam seperti Amerika, Inggris, Belanda dan juga dari turis Asia dan ASEAN,” katanya sembari menambagkan jumlah kios yang ada sebanyak 62 dan itu belum termasuk pedagang yang membuka lapak di pinggir kali mas.
Dalam memberikan penjelasan, Nuri bahkan menyebut ada salah satu turis asal Amerika yang menawarkan batu permata yang diambilkan dari mulutnya. “Baru kali ini saya melihat ada orang yang menyimpan batu mulia didalam mulut,” katanya ketua P3 Bapin yang keempat ini.
Nuri juga tidak bertanya bagaimana cara menyimpannya di mulut karena terheran-heran waktu itu. Turis yang menawarkan batunya minta harga terlalu tinggi karenanya dia tidak melanjutkan transaksi. Si turispun pergi ke toko-toko lain di bursa batu mulia kayon untuk menawarkan barangnya tersebut.
Selain turis asing juga ada artis atau pejabat yang datang untuk berbelanja, bahkan diantaranya menjadi pembeli tetap. Biasanya mereka memang mengoleksi beberapa jenis batu kesayangan.
SANTAI DI PINGGIR KALI
Belanja batu mulia di Kayon juga termanjakan. Pengurus disana membangun tempat tongkrongan di pinggir kali mas. Jadi pembeli bisa nyantai duduk-duduk sembari menikmati Kali Mas yang cukup besar.
Sembari duduk bisa memesan minuman sesuai selera mau yang panas atau dingin. Sebagian tongkrongan itu juga diisi oleh pedagang batu mulia dan jumlah maksimal 6 orang.
Biasanya para pedagang itu berasal dari daerah. Untuk berjualan di lapak tongkrongan mereka cukup memberitahu pengurus dan mengisi kas. Pembeli yang mengetahui kalau dari luar daerah biasanya menjadi perhatian.
Maklum pedagang luar daerah sering membawa akik asal daerah dan juga ada yang istimewa. Tidak mengherankan kalau kedatangan mereka dikerumuni calon pembeli.
Kehadiran bursa batu mulia hingga saat ini berkat keuletan dari para pedagang disana. Mereka sudah tertempa saat jaman keemasan akik ataupun sepinya bursa akik itu sendiri. Apalagi saat ada covid hampir tidak ada pengunjung yang datang saat itu.
Seperti dituturkan H Zaini yang punya kios disana, saat sepi dia tetap saja bertahan dan dia mengaku kalau rejeki itu pasti sudah ada yang mengatur. “Itu sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Jadi saya tetap bertahan,” katanya.
Sedangka Reza menyatakan kalau dirinya tidak ada pekerjaan lain sehingga menjadi pedagang batu mulia dan akik tetap dipertahankan.
Anak muda ini yakin kalau bekerja rutin dan tetap berlaku baik dan profesional pasti dicari pembeli. “Yang penting tidak menipu dan jujur,” tuturnya.
Nuri sendiri selaku ketua P3 Bapin berharap kepada para pedagang untuk berjuang bersama-sama dalam memajukan pasar batu mulia Kayon. Salah satunya menggelar lomba dan setiap Kamis diminta untuk seluruh pedagang hadir. “Biar kelihatan ramai,” tuturnya.
Dia juga meminta peran serta Pemprov Jatim dan Pemkot Surabaya untuk memberikan binaan kepada anggota. “Kami selalu mengundang mereka manakala ada event batu mulia dan akik, seperti pameran dan lomba batu akik,” demikian kata Nuri.
Laporan: dji
Editor: Budi Santoso



