
Lapas Kelas ll B Purwodadi Mengembangkan Produksi Kerajinan Mainan Hewan dari Sabut Kelapa (Foto: istimewa)
GROBOGAN, BIDIKNASIONAL.com – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Purwodadi kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung program pembinaan kemandirian warga binaan. Melalui kerja sama dengan PT Chewy Louis, Lapas Purwodadi mengembangkan produksi kerajinan mainan hewan dari sabut kelapa (cocorope) yang telah menembus pasar ekspor, yang telah terlaksana dikirim ke negara UK melalui Lapas Kelas I Semarang, dan Belgia melalui Lapas Kelas IIA Sragen. Dalam ekspor ini Lapas Kelas IIB Purwodadi telah berkontribusi bersama 13 UPT Pemasyarakatan di Jawa Tengah lainnya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pembinaan keterampilan di bawah Subsi Kegiatan Kerja, yang bertujuan untuk menyiapkan warga binaan agar memiliki bekal keterampilan dan semangat kewirausahaan setelah bebas nanti. Saat ini, produksi dilakukan oleh enam warga binaan pekerja yang telah melalui proses asesmen kelayakan dan kompetensi kerja.
Setiap bulan, Lapas Purwodadi mampu memproduksi antara 1.500 hingga 3.600 unit mainan hewan berbahan sabut kelapa. Produk tersebut memiliki nilai jual tinggi di pasar luar negeri karena ramah lingkungan, kreatif, dan dibuat dengan ketelitian tinggi oleh para warga binaan.
Kepala Lapas Purwodadi menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada ekonomi, tetapi juga merupakan bentuk nyata dari pemberdayaan dan rehabilitasi sosial warga binaan. “Kami berharap program ini menjadi contoh bagaimana pembinaan di Lapas mampu menghasilkan karya bernilai ekspor, sekaligus mendukung pengembangan UMKM berbasis keterampilan warga binaan,” ujarnya.
Program ini juga merupakan implementasi dari salah satu 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam upaya meningkatkan produktivitas dan kemandirian warga binaan pemasyarakatan melalui kegiatan yang berorientasi ekonomi kreatif dan ekspor.
Dengan keberhasilan ini, Lapas Purwodadi menunjukkan bahwa pembinaan di dalam lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada aspek moral dan disiplin, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang berkelanjutan bagi para warga binaan setelah mereka kembali ke masyarakat.
Laporan : Heru Budianto



