
Aktivis Sidoarjo FoR Gress saat gelar forum diskusi. (Foto: ist)
SIDOARJO, BIDIKNASIONAL.com — Komunitas aktivis Sidoarjo FoR Gress terus menyalakan budaya dialog di tengah dinamika politik lokal. Pada Jumat malam (24/10/2025), mereka menggelar forum diskusi bertajuk “Membaca Sidoarjo: Konflik Elite, Budaya Gaduh, dan Jalan Perbaikan Tata Kelola Daerah.”
Diskusi yang berlangsung di Li Masan Kopi, Desa Sidodadi, Kecamatan Candi. Sekitar 40 peserta hadir, terdiri dari akademisi, praktisi pendidikan, pegiat budaya, jurnalis, hingga tokoh masyarakat.
Kegiatan ini merupakan seri ketiga dari forum yang rutin diadakan FoR Gress. Selama sekitar tiga setengah jam, peserta berbagi pandangan tentang peran masyarakat sipil dalam memperkuat tata kelola pemerintahan di Sidoarjo.
Sebagai pembicara utama, pemerhati kebijakan publik Badrus Zaman memantik diskusi dengan topik “Dari Konflik Elite ke Masyarakat Epistemik.” Ia menilai, konflik di antara elite politik daerah kerap menjauhkan pemerintah dari kepentingan publik.
“Konflik elite bukan sekadar drama politik. Ia mengganggu layanan publik, melemahkan tata kelola, dan menurunkan transparansi,” kata Badrus yang akrab disapa Cak Sudrab.
Menurut dia, persoalan itu tidak hanya bersumber dari elite, tetapi juga dari lemahnya kapasitas masyarakat sipil. Banyak kelompok masyarakat masih bersikap reaktif dan emosional, serta belum memiliki kekuatan dalam riset dan argumentasi berbasis data.
Baca Juga : Uji KIR Gratis, Dishub Sidoarjo Himbau Masyarakat Tertib Lakukan Pengujian
Badrus mengajak masyarakat sipil bertransformasi dari sekadar suara yang marah menjadi pikiran yang dihormati. Kritik, katanya, harus disertai data, metodologi, dan tawaran solusi.
“Kita perlu melampaui aktivisme sektoral. Civil society harus menjadi komunitas epistemik—penghasil pengetahuan dan gagasan yang kredibel,” ucapnya.
Ia menekankan, demokrasi lokal yang sehat tidak lahir dari dekrit elite, tetapi dari masyarakat sipil yang tangguh dan berintegritas.
“Masa depan Sidoarjo akan ditentukan oleh keberanian warganya menjadi sumber pengetahuan dan pengendali moral kekuasaan,” katanya.
Diskusi malam itu berlangsung hangat meski hujan sempat turun. Suasana forum dibuat egaliter. Semua peserta duduk setara tanpa pembeda status. Setiap orang mendapat kesempatan menyampaikan pandangan tentang kondisi Sidoarjo terkini.
Sejumlah peserta menyoroti pentingnya memperkuat budaya politik dialogis serta mendorong partisipasi publik agar konflik elite tidak terus menghambat pelayanan dan pembangunan daerah.
Menutup diskusi, FoR Gress mengumumkan rencana forum berikutnya yang akan membahas tema “Menyoroti Pendidikan di Sidoarjo.” Tema itu dipilih untuk memperluas jangkauan dialog publik yang berorientasi pada masa depan daerah.
Founder Center for Participatory and Development (Cepad), Kasmuin, menilai ruang seperti FoR Gress penting dipertahankan. Menurutnya, Sidoarjo tidak boleh hanya ramai oleh baliho dan proyek-proyek pembangunan, tetapi juga oleh gagasan dan perbincangan yang berkualitas.
“FoR Gress ingin menjaga agar Sidoarjo tetap waras di tengah bisingnya politik lokal,” ujarnya.
“Dengan Ruang dialog, ini cara kita merawat akal sehat publik.” pungkas Kasmuin.
Laporan : Teddy Syah



