ARTIKEL

Banjir di Musim Hujan: Ancaman Tersembunyi bagi Kesehatan Keluarga dan Masyarakat

Oleh : Rika Yuliwulandari, Zulfan Febriawan,  Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

BANJIR yang terjadi pada musim penghujan merupakan salah satu bencana yang paling sering melanda berbagai wilayah di Indonesia. Faktor penyebabnya sangat kompleks, mulai dari curah hujan tinggi, kerusakan daerah resapan air, urbanisasi tidak terkontrol, hingga masalah sistem drainase yang tidak memadai. Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan iklim juga meningkatkan intensitas dan frekuensi hujan ekstrem, sehingga memperbesar risiko banjir terutama di kawasan perkotaan padat. Banjir bukan hanya persoalan lingkungan atau kerugian material, tetapi juga ancaman langsung terhadap kesehatan masyarakat. Genangan air, lumpur, sampah yang hanyut, serta rusaknya fasilitas publik menciptakan kondisi yang ideal bagi penyebaran penyakit dan gangguan kesehatan lainnya. Oleh sebab itu, banjir di musim penghujan harus dipahami bukan hanya sebagai fenomena hidrometeorologi, tetapi juga sebagai isu kesehatan masyarakat yang membutuhkan pendekatan sistemik dan berkelanjutan.

Dari perspektif kesehatan, dampak banjir dapat dibagi menjadi beberapa kategori utama: penyakit menular berbasis air, penyakit yang dibawa oleh vektor, gangguan kesehatan fisik akibat kecelakaan atau cedera, serta dampak psikologis jangka panjang. Air banjir yang bercampur limbah rumah tangga, kotoran hewan, hingga sampah pasar menjadi media ideal untuk berkembangnya bakteri, virus, dan parasit. Kondisi ini membuat penyakit bagi anggota keluarga maupun Masyarakat seperti diare, leptospirosis, kolera, hepatitis A, dan infeksi saluran pencernaan meningkat tajam setelah banjir. Leptospirosis menjadi salah satu penyakit yang sering muncul, terutama karena air banjir terkontaminasi urine tikus yang mengandung bakteri Leptospira. Selain itu, banjir menciptakan banyak genangan yang menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk. Hal ini meningkatkan risiko penyakit berbasis vektor seperti demam berdarah dengue (DBD), chikungunya, dan malaria di beberapa wilayah tertentu.

Gangguan kesehatan fisik juga sering muncul akibat terbatasnya akses terhadap fasilitas umum dan layanan kesehatan. Banyak warga mengalami luka akibat terjatuh, tergelincir, atau tertusuk benda tajam yang terbawa air. Luka yang tidak segera diobati berpotensi terinfeksi, terutama karena lingkungan pascabanjir penuh bakteri patogen. Banjir juga menyebabkan terganggunya pasokan air bersih, sehingga masyarakat sering menggunakan air yang tercemar untuk mandi atau memasak. Dalam jangka panjang, dampak kesehatan mental seperti stres, kecemasan, trauma, dan depresi juga harus diperhatikan. Kehilangan rumah, harta benda, hingga anggota keluarga dapat meninggalkan luka psikologis yang memengaruhi kualitas hidup masyarakat. Sering kali dampak mental ini tidak ditangani secara serius, padahal dapat membawa konsekuensi jangka panjang, terutama pada anak-anak dan lansia yang lebih rentan.

Apabila dikaitkan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG), banjir musim penghujan memiliki hubungan erat dengan beberapa tujuan inti. Yang paling utama adalah SDG 3 (Good Health and Well-Being), karena banjir secara langsung meningkatkan risiko penyakit menular, keracunan air, hingga gangguan kesehatan mental. Salah satu target dalam SDG 3 adalah mengurangi kematian dan penyakit akibat polusi serta kontaminasi lingkungan, hal yang sangat relevan ketika banjir menyebabkan pencampuran limbah dengan air yang dikonsumsi masyarakat. Upaya mitigasi banjir seperti edukasi kebersihan air, distribusi air bersih, penyediaan layanan kesehatan darurat, dan pemberantasan vektor menjadi bagian penting dari pencapaian SDG 3 di Indonesia. Banjir juga sangat terkait dengan SDG 6 (Clean Water and Sanitation). Ketika banjir merusak sumber air bersih, mencemari sumur warga, dan merusak jaringan sanitasi, maka target untuk menyediakan air minum yang aman dan sanitasi layak menjadi semakin sulit dicapai. Air yang tercemar dapat memicu wabah penyakit massal, terutama di daerah dengan kepadatan tinggi. Peningkatan infrastruktur air bersih, pengolahan limbah, sistem drainase yang baik, dan pengamanan sumber air tanah merupakan langkah-langkah yang sejalan dengan SDG 6 dan sangat krusial untuk mencegah dampak lebih lanjut terkait kesehatan pasca banjir. (red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button