ARTIKEL

Kesiapsiagaan Keluarga Dalam Menghadapi Bencana Meminimalkan Potensi Risiko Kesehatan

Oleh : Rika Yuliwulandari, Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

Lokasi Gempa Bumi di Simeulue (Sumber: https://www.bmkg.go.id/gempabumi/gempabu mi-m5)

PADA Kamis, 27 November 2025, pukul 11.56 WIB, wilayah Simeulue di Aceh diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,3 pada kedalaman sekitar 10–14 kilometer. Getaran akibat gempa ini dirasakan cukup luas, meliputi tidak hanya Simeulue, tetapi juga sejumlah wilayah lain di Aceh dan Sumatera Utara. Hingga saat ini, belum ada laporan resmi terkait korban jiwa atau kerusakan berat pada bangunan.

Berdasarkan analisis dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut tergolong sebagai gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas pergerakan lempeng tektonik, tepatnya subduksi lempeng Indo-Australia di bawah Lempeng Eurasia. Mekanisme gempa dengan jenis thrust fault seperti ini cenderung memperbesar kekuatan getaran pada permukaan. Meski episentrum gempa berada di laut dekat Simeulue, BMKG memastikan bahwa gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Meskipun belum terdapat laporan signifikan terkait kerusakan dan BMKG menyatakan bahwa tidak ada risiko tsunami, namun potensi risiko kesehatan akibat gempa tetap harus diwaspadai. Gempa dapat menimbulkan cedera langsung jika terjadi reruntuhan bangunan atau benda-benda yang jatuh; bahkan getaran ringan sekalipun dapat memicu kepanikan, khususnya pada malam hari, yang berpotensi menyebabkan orang terjatuh atau terluka akibat tindakan tergesa-gesa. Selain itu, gangguan pada akses infrastruktur dan layanan kesehatan — apabila fasilitas mengalami kerusakan fisik — dapat memperumit penanganan korban, terutama bagi mereka yang mengalami luka terbuka atau patah tulang.

Pasca gempa, risiko kesehatan yang muncul bisa beragam, seperti luka yang tidak segera ditangani dapat berpotensi terinfeksi. Selain itu, risiko lainnya dapat berupa terganggunya akses untuk persalinan serta perawatan ibu dan bayi, hingga peningkatan penyakit menular akibat kondisi padat di tempat pengungsian atau penampungan sementara. Selain dampak fisik, ancaman pada kesehatan mental juga tak kalah serius, meliputi trauma psikologis seperti stres, kecemasan, atau gangguan tidur yang disebabkan oleh situasi penuh ketidakpastian, kehilangan tempat tinggal, atau rasa takut terhadap kemungkinan gempa susulan.

Dengan mempertimbangkan situasi tersebut, sangat penting bagi otoritas lokal, tenaga medis, dan relawan kemanusiaan untuk segera bertindak — tidak hanya memeriksa kondisi struktur bangunan, tetapi juga memastikan tersedianya layanan kesehatan dasar, obat-obatan, akses air bersih dan sanitasi, serta dukungan kesehatan mental. Protokol darurat untuk penanganan luka, pencegahan infeksi, serta pelayanan persalinan atau perawatan ibu dan anak perlu disiapkan. Selain itu, penyampaian informasi yang jelas kepada masyarakat menjadi kunci agar warga tetap tenang dan memahami langkah-langkah aman serta tindakan mitigasi jika terjadi gempa susulan.

Gempa di Simeulue menjadi pengingat penting bahwa wilayah rawan gempa di Indonesia harus selalu berada dalam kondisi siaga, baik melalui upaya mitigasi teknis maupun kesiapan kesehatan dalam menghadapi bencana di tingkat keluarga dan masyarakat. Semua pihak, termasuk masyarakat, pemerintah, dan lembaga kesehatan, perlu bersinergi untuk membangun ketahanan komunitas serta sistem tanggap darurat yang efektif. Edukasi mengenai kesiapsiagaan bagi anggota keluarga dan masyarakat sebagai barisan terdepan harus terus digalakkan.

Sumber edukasi dan alat untuk menilai skesiapan keluarga dalam menghadapi bencana dapat diakses diantaranya melalui website www.keluargasiaga.com atau www.lansiatangguh.com. Keluarga di Indonesia dapat mengakses secara gratis untuk menilai apakah termasuk ke dalam keluaarga siaga bencana (KAGANA). Apabila memerlukan edukasi mengenal bencana (E-BEN), edukasi peringatan dini bencana (E-PDB), edukasi penyelamatan diri E-PDB, edukasi evakuasii dan pertolongan (E-Vaper), serta perlengkapan yang perlu disiapkan dalam meenhadapii bencana (KITANA). Ketersediaan media edukasi dan penilaian kesiapsiagaan bencana yang dapat dilakukan secara mandiri ini dapat digunakan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan keluarga Indonesia serta mengurangi risiko maupun dampak bencana yang mungkin qqtimbul di masa mendatang.(red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button