ARTIKEL

Letusan Gunung Semeru dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Keluarga dan Masyarakat

Oleh : Rika Yuliwulandari, Zulfan Febriawan, Sekar Arum Annafi’, Siti Wahyu Windarti, Fakultas Kedokteran, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

LETUSAN Gunung Semeru, gunung berapi aktif tertinggi di Pulau Jawa, kembali menjadi perhatian dunia ketika aktivitas vulkaniknya meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Letusan Semeru tidak hanya memuntahkan abu vulkanik, tetapi juga aliran awan panas, lava pijar, serta material piroklastik berbahaya yang bergerak cepat dan mengancam kehidupan di sekitarnya. Abu vulkanik yang dihasilkan mengandung partikel berukuran sangat halus, termasuk silika kristalin, mineral oksida, dan unsur mikroskopis lainnya yang mudah terdispersi ke atmosfer dan terbawa angin hingga jarak puluhan kilometer. Dalam kondisi tertentu, abu ini dapat bertahan di udara selama berhari-hari. Penyebaran abu menyebabkan kualitas udara menurun drastis, sehingga wilayah yang jauh dari pusat erupsi pun dapat merasakan dampaknya. Fenomena inilah yang menjadikan letusan gunung berapi seperti Semeru bukan hanya isu lokal, tetapi isu kesehatan publik yang luas.

Dari perspektif kesehatan, dampak abu vulkanik Semeru sangat kompleks dan dapat dirasakan dalam jangka pendek maupun Panjang bagi anggota keluarga dan Masyarakat yang terdampak. Dalam periode awal setelah letusan, mereka biasanya mengalami gejala iritasi pernapasan seperti batuk kering, rasa terbakar di tenggorokan, hidung tersumbat, dan sesak napas. Abu vulkanik memiliki sifat abrasif dan tajam pada level mikroskopis sehingga dapat melukai saluran napas bagian atas. Pada anggota keluarga yang telah memiliki penyakit paru kronis seperti asma atau PPOK, paparan abu dapat memicu serangan akut yang berpotensi mengancam jiwa. Pada jangka lebih panjang, paparan berulang terhadap abu yang mengandung silika dapat meningkatkan risiko silikosis, kondisi serius yang menyebabkan jaringan parut pada paru-paru dan penurunan kemampuan pernapasan permanen. Selain itu, abu yang menutupi permukaan tanah, atap rumah, hingga sumber air dapat meningkatkan paparan tidak langsung seperti iritasi kulit, konjungtivitis, hingga gangguan pencernaan ketika air yang terkontaminasi digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Efek kesehatan ini semakin diperparah oleh kondisi sosial dan geografis masyarakat yang tinggal di kawasan sekitar Semeru. Banyak pemukiman berada di zona merah atau daerah berisiko tinggi yang seharusnya menjadi kawasan terbatas bagi aktivitas harian. Ketergantungan masyarakat pada pertanian dan peternakan juga membuat mereka tetap tinggal di lokasi rawan, karena kehilangan lahan berarti kehilangan mata pencaharian. Dalam konteks ini, bencana letusan menjadi lebih dari sekadar fenomena alam; ia memperlihatkan kerentanan struktural yang berakar pada pola pemukiman, kemiskinan, dan ketidakmerataan akses terhadap layanan kesehatan. Ketika letusan terjadi, tidak semua warga memiliki akses terhadap masker berkualitas, obat-obatan, atau fasilitas evakuasi yang aman. Hal ini memperbesar kemungkinan dampak kesehatan jangka panjang yang sulit untuk dipulihkan.

Jika dikaitkan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, atau Sustainable Development Goals (SDG), dampak letusan Semeru secara langsung selaras dengan SDG 3 (Good Health and Well-Being). SDG 3 berfokus pada upaya mengurangi penyakit akibat polusi udara, memperkuat ketahanan sistem kesehatan, serta memastikan masyarakat mampu bertahan dalam kondisi krisis. Letusan Semeru menunjukkan betapa rentannya kesehatan masyarakat ketika polusi udara meningkat secara tiba-tiba akibat bencana alam. Abu vulkanik bukan hanya polusi biasa; ia adalah campuran partikel berbahaya yang memiliki dampak akut dan kronis. Maka upaya mitigasi, seperti edukasi penggunaan masker yang tepat (misalnya masker N95), penyediaan pos medis darurat, serta penjangkauan kesehatan bagi kelompok rentan, adalah wujud nyata kontribusi terhadap pencapaian SDG 3. Selain itu, pemantauan kualitas udara, sistem peringatan dini, dan layanan kesehatan primer yang siap menghadapi lonjakan pasien merupakan bagian penting dari implementasi SDG 3 dalam konteks bencana letusan gunung berapi. (Red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button