ARTIKEL

Hujan Mikroplastik: Implikasi Lingkungan dan Ancaman Kesehatan Keluarga di Masa Depan

Oleh : Rika Yuliwulandari, Zulfan Febriawan, Sekar Arum Annafi’, Raihan Mahesa Ardiansyah, Fakultas Kedokteran, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

Gambar Perumpamaan Hujan Mikroplastik

FENOMENA hujan mikroplastik menjadi salah satu temuan ilmiah paling mengejutkan dalam dua dekade terakhir. Hujan yang selama ini kita kenal sebagai simbol kesegaran dan pembersihan alam kini justru membawa partikel plastik berukuran sangat kecil bahkan lebih kecil dari debu yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia. Partikel dari mikroplastik memiliki ukuran diameter kurang dari 5 mm, serta memiliki beberapa bentuk seperti fragmen, fiber (serat), granula, atau lapisan tipis. Mikroplastik terdiri dari dua jenis, yaitu mikroplastik primer dan sekunder. Mikroplastik primer adalah mikroplastik yang berasal dari produk kesehatan atau kosmetik yang mengandung microbead atau microexfoliate, seperti polietilen (PE), polipropilen, dan polistiren (PS). Serat pakaian sintetis merupakan salah satu contoh dari Mikroplastik primer. Sedangkan, mikroplastik sekunder adalah mikroplastik yang berasal dari proses degradasi plastik melalui proses kimia, fisika, dan biologi. Kantong kresek, pecahan botol plastik, serpihan ban kendaraan, adalah beberapa contoh yang termasuk jenis mikroplastik sekunder. Berbagai jenis mikroplastik tersebut, baik yang berasal dari sampah plastik yang terurai, gesekan ban kendaraan, serat pakaian sintetis, hingga limbah industri yang terbawa angin, naik ke atmosfer, bercampur dengan uap air, lalu turun kembali bersama hujan. Proses ini menciptakan siklus polusi baru yang jauh lebih kompleks dan hampir mustahil dikendalikan. Fakta bahwa langit kini dapat menurunkan plastik menunjukkan betapa luasnya pencemaran lingkungan yang selama ini kita ciptakan, dan bagaimana plastik telah menyusup ke seluruh aspek kehidupan manusia tanpa disadari. Fenomena hujan mikroplastik pertama kali ditemukan di beberapa negara maju, termasuk Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat, di mana partikel plastik ditemukan pada salju, kabut, hingga hujan di daerah terpencil seperti pegunungan Pyrenees dan taman nasional di utara Inggris. Temuan ini membuktikan bahwa mikroplastik dapat berpindah ribuan kilometer melalui aliran udara, melewati gunung, lautan, dan benua, sebelum akhirnya jatuh kembali ke tanah. Bahkan di Antartika, benua yang sangat jauh dari aktivitas manusia. Salju yang turun telah mengandung mikroplastik, menandakan bahwa polusi plastik telah mencapai titik yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Dunia kini berada dalam kondisi di mana tidak ada tempat yang benar-benar bebas dari plastik, dan manusia tidak bisa lagi bersembunyi dari paparan partikel mikroskopis ini. Sepanjang tahun 1990-2018, terjadi peningkatan enam kali lipat penyerapan mikroplastik melalui udara dan makanan di beberapa negara, seperti di Amerika Serikat, Cina, serta negara-negara di benua Asia lainnya dan Afrika. Indonesia pun tidak luput dari fenomena ini. Sebagai negara dengan tingkat penggunaan plastik sekali pakai yang tinggi, di mana Indonesia menjadi negara Asia Tenggara dengan konsumsi mikroplastik global tertinggi, yang diperkirakan konsumsi produk oral yang tercemar sekitar 15 gram/bulan, serta dipadukan dengan masalah pengelolaan sampah yang belum optimal. Indonesia menjadi salah satu negara yang berpotensi kuat mengalami hujan mikroplastik. Selain Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung, polusi udara yang dihasilkan oleh kendaraan dan industri telah diketahui mengandung serat mikroplastik yang berasal dari ban, pakaian sintetis, serta debu plastik dari sampah yang tidak terkelola dengan baik. Ketika musim hujan tiba, partikel itu ikut turun bersama air hujan dan mencemari tanah, sungai, bahkan sumber air bersih. Dengan perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, para ahli memprediksi hujan mikroplastik akan menjadi lebih intens dan lebih sering dalam beberapa tahun mendatang.

Dari sisi Kesehatan keluarga, paparan hujan mikroplastik membawa ancaman serius yang tidak bisa diabaikan. Ketika hujan turun, udara yang lembap dan relatif bersih ternyata masih membawa partikel mikroplastik yang siap masuk ke saluran pernapasan manusia. Mikroplastik yang sangat kecil dapat terhirup dengan mudah dan menembus jauh ke dalam paru-paru hingga mencapai alveoli. Paparan jangka pendek dapat menyebabkan iritasi tenggorokan, batuk, alergi, dan memperburuk kondisi seperti asma atau bronkitis. Selain itu, mikroplastik yang mengendap pada kulit ketika terkena air hujan juga dapat memicu reaksi kulit pada orang yang sensitif. Partikel kecil ini bahkan bisa memasuki sistem air rumah tangga, mencemari air minum, sawah, hingga tanaman pangan, sehingga paparan dapat terjadi tanpa kita sadari, baik melalui pernapasan maupun konsumsi sehari-hari. Dampak jangka panjangnya jauh lebih mengkhawatirkan. Penelitian awal menunjukkan bahwa mikroplastik dapat menumpuk dalam tubuh manusia, menyebabkan peradangan kronis, kerusakan sel, dan memengaruhi sistem imun. Lebih berbahaya lagi, plastik mengandung bahan kimia seperti BPA dan ftalat yang dikenal sebagai pengganggu hormon (endocrine disruptors). Ketika bahan kimia ini masuk ke tubuh manusia dalam jangka panjang, mereka berpotensi menyebabkan gangguan reproduksi, penurunan kualitas sperma, gangguan siklus menstruasi, gangguan tiroid, hingga masalah pertumbuhan pada anak. Bahkan ditemukan bahwa mikroplastik telah berada dalam darah manusia, plasenta ibu hamil, dan ASI, yang berarti generasi baru telah terpapar bahkan sebelum mereka lahir. Para ilmuwan juga mengkhawatirkan potensi hubungan antara paparan mikroplastik jangka panjang dengan peningkatan risiko penyakit jantung, peradangan pembuluh darah, dan beberapa jenis kanker, walaupun penelitian ini masih terus berkembang.

Fenomena hujan mikroplastik ini sangat relevan untuk dibahas dalam kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Paling tidak, terdapat beberapa SDG utama yang terdampak secara langsung. Pertama, SDG 3: Kehidupan yang Sehat dan Sejahtera, karena paparan mikroplastik mengancam kesehatan masyarakat, meningkatkan beban penyakit, dan memperburuk ketimpangan kesehatan di wilayah berpolusi tinggi. Kedua, SDG 6: Menjamin ketersediaan dan pengelolaan air bersih serta sanitasi yang berkelanjutan untuk semua, karena hujan mikroplastik dapat kembali mencemari air tanah, air hujan, dan sumber air bersih, sehingga meningkatkan risiko mikroplastik masuk ke rantai makanan dan sistem air minum. Ketiga, SDG 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan, sebab kualitas udara perkotaan kini tidak hanya dibayangi polusi partikel-partikel halus dengan diameter kurang dari 2.5 Mikrometer, tetapi juga mikroplastik yang sulit difiltrasi oleh sistem konvensional. Keempat, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, yang menekankan pentingnya pengurangan sampah plastik, daur ulang, dan desain produk yang ramah lingkungan untuk mencegah generasi baru polusi plastik udara. Kelima, SDG 14 dan 15 (Pembangunan Berkelanjutan untuk ekosistem laut dan darat), karena mikroplastik yang turun ke tanah dan air akan masuk kembali ke ekosistem, mengganggu kesehatan makhluk hidup, dan mempercepat kerusakan lingkungan.

Melihat skala ancaman tersebut, upaya penanggulangan hujan mikroplastik membutuhkan pendekatan sistemik. Pemerintah perlu memperketat regulasi terkait penggunaan plastik sekali pakai, meningkatkan kualitas pengelolaan sampah, dan memperkuat pemantauan kualitas udara yang memasukkan parameter mikroplastik. Industri juga harus melakukan transformasi produksi menuju material alternatif yang lebih aman dan berkelanjutan. Sementara itu, masyarakat perlu mengurangi konsumsi plastik, memilah sampah, serta meningkatkan kesadaran tentang dampak polusi plastik terhadap kesehatan. Langkah-langkah ini tidak hanya melindungi tubuh manusia dari paparan mikroplastik, tetapi juga berkontribusi terhadap pencapaian SDGs secara keseluruhan. Pada akhirnya, hujan mikroplastik adalah peringatan bahwa krisis lingkungan telah mencapai titik yang tidak lagi bisa diabaikan. Masa depan kesehatan manusia sangat bergantung pada kemampuan kita menekan polusi plastik dari sumbernya, memperbaiki tata kelola lingkungan, dan mengadopsi pola hidup yang lebih bertanggung jawab. Dengan tindakan kolektif dan konsisten, masih ada harapan bahwa anggota keluarga dan generasi mendatang bisa hidup di bawah langit yang lebih bersih bukan langit yang membawa plastik dalam setiap tetes hujannya.

 

 

 

 

 

Referensi

Abbas, G., Ahmed, U., Ahmad, M.A. 2025. Impact of Microplastics on Human Health: Risks, Diseases, and Affected Body Systems. Microplastics. 4(23): -21.

Alam FC, Rachmawati M. 2020. Perkembangan Penelitian Mikroplastik di Indonesia. Jurnal Presipitasi. 17(3):344-352.

Allen, S., Allen, D., Baladima, V.R., Phoenix, J.L., Thomas, G., Le Roux., et al. 2021. Evidence of Free Tropospheric and Long-range Transport of Microplastic at Pic du Midi Observatory. Nature Communications. 12.

Basri, S., Basri, K., Syaputra, E.M., Handayani, S. 2021. Microplastic Pollution in Waters and Its Impact on Health and Environment in Indonesia: A Review. Journal of Public Health for Tropical and Coastal Region. 4(2): 63-77.

Dong, J., Zhao, T., Wang, Y., Zhao, S., Zhu, L., Li, H., Wang, M., An, L. 2024. Microplastic Characteristics in Rain/Snow Sampled from Two Northern Chinese Cities. Science of the Total Environment. 956.

Ecoton. 2024. ECOTON and SIEJ Research Reveals Jakarta Has the Highest Airborne Microplastic Exposure in Indonesia. ECOTON. Retrieved from https://ecoton.or.id/ecoton-and-siej-research-reveals-jakarta-has-the-highest-airborne-microplastic-exposure-in-indonesia/

Jiayan, W., Ye, Q., Sun, L., Liu, J., Huang, M., Wang, T., Wu, P., Zhu, N. 2023. Impact of Persistent Rain on Microplastics Distribution and Plastiphere Community: A Field Study in the Pearl River, China. Science of the Total Environment. 879.

Liaquat, A., Kashif, A., Rathi, S., Raza A. 2022. Microplastics in Freshly Fallen Snow: How May it Adversely Impact Human Health and Exacerbate the COVID-19 Crisis? Ann Med Surg. 31.

Syafei, A., Nurasrin, N.R., Assomadi, A.F., Boedisantoso, R. 2019. Microplastic Pollution in the Ambient Air of Surabaya, Indonesia. Current World Environment. 14(2): 290-298.

Wati MS, Asih AYP, Zanzam M, Wikurendra EA. 2025. Characterization of Airborne Microplastics Particles on Urban Roads: Types, Sizes, and Total Particles. Journal of Environmental Health. 17(2):168-176. (red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button