Deteksi Energi Negatif di Kuburan Tumenggung Endranata, Pengkhianat Mataram
Catatan Spiritual Mbah Woto

Mbah Woto saat menunjuk kuburan potongan tubuh Tumenggung Endranata (ist/BN)
BANTUL, BIDIKNASIONAL.com – Hari Sabtu tanggal 21 Desember 2025 sekira jam 5 sore, saya sudah berada di sebuah penginapan Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Kedatangan ke sekian kalinya di daerah pariwisata ini untuk giat spiritual.Acara giat sudah dijadwalkan Minggu 22 Desember 2025 yakni ziarah ke makam Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram Islam di kompleks makam raja raja Imogiri, Kabupaten Bantul, Provinsi Yogyakarta.
Jam setengah sepuluh sudah sampai di lokasi, lanjut bertawasulan mengirim doa sekitar berlangsung 30 menit. Usai berdoa, istirahat sejenak di pendopo, tiba tiba kontak gaib berlangsung spontan agar saya mendekati kuburan Tumenggung Eandranata. Lokasinya berada di trap anak tangga, dan di tepat tengah gapura supit urang pintu masuk utama ke areal pendopo tempat istirahat para pengunjung, sebelum melakukan ritual ziarah masuk cungkup pesarean Sultan Agung.

Di bawah dasar kolam ini menurut cerita, dikubur bagian kaki
“Potongan badannya di kubur di sini, kepala di tengah gapura itu, kakinya di bawah dasar kolam, ” Jelas seorang abdi penjaga komplek makam Imogiri menjawab pertanyaan saya. Kebetulan posisi saya pas berada di dekat kuburan potongan tubuh, langsung duduk mengambil sikap mendeteksi.Waktu pendeteksian berlangsung sekitar 10 menit, tapi radar batin saya tidak menangkap energi negatif.
Demikian juga ketika melakukan pendeteksian di kuburan potongan kepala dan bagian kaki, juga tidak benturan dengan energi negatif.Dikisahkan Tumenggung Endranata dipercaya Sultan Agung sebagai panglima perang tentara Kesultanan Mataran untuk memimpin penyerangan markas VOC (Belanda) di Batavia. Tapi Tumenggung Endranata berkhianat, membocorkan strategi rencana penyerangan kepada VOC. Lantaran pengkhianatan yang dilakukan Tumenggung Endranata itu, penyerangan tentara Mataram gagal alias kalah.

Menurut cerita di tempat ini dikubur bagian kepala
Sultan Agung marah dan menghukum mati Tumenggung Endranata, sekaligus jasadnya dimutilasi menjadi 3 bagian, dan di kubur di tempat yang berbeda meski jaraknya tidak berjauhan.
Dari renungan batin saat meditasi saya, digaris bawahi memang Tuhan Maha Kuasa, Maha Tahu, Maha Adil, Maha Bijaksana, dan Maha segala galanya. (suwoto)
