CIAMISJABAR

Waduh! Kekeringan Paksa 8.000 Hektare Sawah di Dua Kabupaten Hanya Panen Sekali Setahun

CIAMIS, BIDIKNASIONAL.com – Ribuan hektare lahan pertanian yang tersebar di dua kabupaten, yakni Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Pangandaran, hingga kini masih mengalami persoalan serius terkait ketersediaan air.

Total luas lahan pertanian di empat kecamatan, meliputi Kecamatan Purwadadi, Banjarsari, dan Pamarican di Kabupaten Ciamis, serta Kecamatan Sindangjaya di Kabupaten Pangandaran, mencapai sekitar 8.000 hektare. Namun ironisnya, lahan seluas itu hanya mampu ditanami dan dipanen satu kali dalam setahun.

Kondisi tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun dan sangat dirasakan oleh para petani. Keterbatasan sumber air menjadi faktor utama, meskipun di sejumlah titik saluran irigasi sudah dibangun, namun belum berfungsi maksimal karena tidak adanya bendungan atau sumber air permanen sebagai penyuplai utama.

Salah seorang warga sekaligus petani, Ujek, menyampaikan bahwa masyarakat sudah lama berharap adanya pembangunan bendungan. Menurutnya, tanpa ketersediaan air yang memadai, petani selalu berada dalam posisi rentan, terutama saat musim kemarau panjang.

“Sudah puluhan tahun kami kesulitan air. Saluran irigasi memang ada, tapi kalau tidak ada sumber airnya, ya tetap saja kering.

Akibatnya sawah cuma bisa tanam padi sekali setahun,” ungkap Ujek.

Ia menambahkan, apabila bendungan dapat direalisasikan, petani meyakini indeks pertanaman bisa meningkat menjadi dua bahkan tiga kali dalam setahun. Hal itu tentu berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani serta ketahanan pangan daerah.

Harapan serupa juga disampaikan masyarakat lainnya di wilayah lintas kabupaten tersebut. Mereka menilai pembangunan bendungan bukan hanya kebutuhan satu desa atau satu kecamatan, melainkan kebutuhan bersama yang mencakup dua kabupaten dan empat kecamatan dengan luasan lahan yang sangat besar.

Sementara itu, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pangandaran, melalui Holik, anggota DPRD dari Komisi II Partai Gerindra, menyatakan dukungannya terhadap rencana pembangunan bendungan tersebut. Menurutnya, lahan yang direncanakan untuk lokasi bendungan sudah dalam kondisi bebas, sehingga tinggal menunggu keseriusan pemerintah dalam merealisasikannya.

“Lahan sudah siap dan aspirasi masyarakat sangat kuat. Pembangunan bendungan ini strategis untuk ketahanan pangan, karena mencakup ribuan hektare sawah di dua kabupaten,” ujar Holik.

Ia menegaskan, sektor pertanian merupakan tulang punggung ekonomi masyarakat pedesaan. Tanpa dukungan infrastruktur air yang memadai, potensi besar lahan pertanian tersebut tidak akan maksimal.

Dengan luas lahan mencapai 8.000 hektare, masyarakat berharap pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat dapat segera turun tangan. Pembangunan bendungan dinilai sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi kekeringan, meningkatkan produktivitas pertanian, serta mendukung program nasional ketahanan pangan.

Hingga kini, masyarakat petani di empat kecamatan tersebut masih menunggu realisasi nyata, agar sawah-sawah yang selama ini bergantung pada hujan dapat kembali produktif dan memberikan kesejahteraan yang lebih baik bagi para petani. (Asep sujana)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button