ADVERTORIALARTIKEL

Edukasi Gerakan “Sadar Lingkungan dan Kesehatan Melalui Program One Day One Rubbish” UPN Veteran Jawa Timur

Oleh :

Amelia Melinda Ramadani,

Prof. dr. Rika Yuliwulandari, M.Hlt.Sc., Sp.KKLP., M.MB., Ph.D., Subsp.FOMC.

Nindya Aqila Puspitaningrum

Achmad Viki Nur Cahyono

Auliya Putri Istiqomah

Jenny Vina Agustin

Muhammad Tafazzul Zafir Akbar

Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

SURABAYA, BIDIKNASIONAL.com – Masalah sampah hingga saat ini masih menjadi persoalan klasik di berbagai lingkungan, termasuk di sekolah. Sampah sering kali ditemukan berserakan di halaman, lorong kelas, hingga area kantin, yang menunjukkan rendahnya kesadaran warga sekolah terhadap kebersihan lingkungan. Ironisnya, kondisi ini kerap dianggap sebagai hal sepele dan sepenuhnya dibebankan kepada petugas kebersihan. Padahal, kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang seharusnya ditanamkan sejak usia dini, terutama kepada pelajar sebagai generasi penerus bangsa. Dalam konteks pembangunan global, permasalahan ini berkaitan erat dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) yang menekankan pentingnya pengelolaan lingkungan secara partisipatif dan berkelanjutan.

Melalui program “One Day One Rubbish” sebagai bagian dari proyek mata kuliah Kepemimpinan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur, masyarakat sekolah diingatkan bahwa perubahan besar tidak selalu harus dimulai dari tindakan yang rumit atau berskala besar. Program ini mengajak setiap individu, khususnya siswa, untuk memungut dan membuang minimal satu sampah setiap hari. Meskipun terlihat sederhana, kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten ini mampu menumbuhkan rasa peduli, tanggung jawab, dan kesadaran lingkungan. Program ini sejalan dengan SDG 12, karena mendorong perubahan perilaku individu dalam mengurangi dampak negatif sampah terhadap lingkungan. Selain itu, pendekatan berbasis kebiasaan ini menunjukkan bahwa pencapaian SDGs dapat dimulai dari tindakan sederhana di tingkat sekolah.Kebiasaan membuang sampah pada tempatnya bukan hanya berdampak pada kebersihan fisik lingkungan, tetapi juga berpengaruh pada pembentukan karakter. Ketika siswa terbiasa menjaga kebersihan, mereka belajar tentang disiplin, kepedulian sosial, serta sikap tidak acuh terhadap kondisi di sekitarnya. Dari tindakan sederhana tersebut, siswa mulai memahami bahwa lingkungan yang bersih akan menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman, sehat, dan menyenangkan.

Kebiasaan membuang sampah pada tempatnya bukan hanya berdampak pada kebersihan fisik lingkungan, tetapi juga berpengaruh terhadap pembentukan karakter siswa. Ketika siswa terbiasa menjaga kebersihan, mereka belajar tentang disiplin, kepedulian sosial, dan tanggung jawab bersama. Nilai-nilai tersebut berkontribusi terhadap pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), khususnya dalam aspek pendidikan karakter dan pembelajaran kontekstual. Dari tindakan sederhana tersebut, siswa mulai memahami bahwa lingkungan yang bersih akan menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman, sehat, dan menyenangkan. Kondisi ini juga mendukung SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui pencegahan penyakit berbasis lingkungan.

Sekolah sebagai tempat pembentukan karakter memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai kepedulian lingkungan tersebut. Melalui kegiatan seperti “One Day One Rubbish”, sekolah tidak hanya mengajarkan teori tentang kebersihan dan kesehatan, tetapi juga membiasakan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Siswa dilatih untuk memiliki rasa kepemilikan terhadap lingkungan sekolah sebagai ruang bersama. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip SDG 11, yang menekankan pentingnya keterlibatan komunitas dalam menjaga lingkungan yang layak huni. Dengan demikian, sekolah berperan sebagai agen perubahan dalam pembangunan berkelanjutan sejak tingkat dasar.

Pelaksanaan program “One Day One Rubbish” di SMP Muhammadiyah 7 Surabaya menunjukkan bahwa siswa mampu menerima dan menjalankan kebiasaan ini dengan baik apabila disampaikan melalui pendekatan yang komunikatif dan edukatif. Antusiasme siswa dalam mengikuti kegiatan, bertanya, dan berdiskusi menjadi indikator keberhasilan metode partisipatif. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi lingkungan tidak harus bersifat menggurui, tetapi dapat dikemas secara sederhana dan menyenangkan. Pendekatan ini mendukung SDG 4, yang menekankan pentingnya proses pembelajaran yang inklusif, relevan, dan berorientasi pada pengembangan sikap serta keterampilan hidup.

Program seperti ini perlu terus dikembangkan dan dijadikan budaya di lingkungan sekolah, bukan sekadar kegiatan seremonial. Kebiasaan kecil yang diterapkan secara rutin akan membentuk pola pikir dan perilaku positif dalam jangka panjang. Jika sejak sekolah siswa sudah terbiasa peduli terhadap kebersihan, maka nilai tersebut akan terbawa hingga ke lingkungan rumah dan masyarakat. Dampak jangka panjang ini mendukung SDG 12 melalui perubahan pola konsumsi dan perilaku masyarakat terhadap sampah. Dengan demikian, sekolah menjadi fondasi penting dalam menciptakan masyarakat yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Pada akhirnya, program “One Day One Rubbish” bukan hanya tentang memungut sampah, melainkan tentang membangun karakter, kesadaran, dan tanggung jawab sosial. Langkah kecil yang dilakukan secara bersama-sama mampu membawa perubahan besar bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Program ini menunjukkan keterkaitan yang kuat antara SDG 3, SDG 4, SDG 11, dan SDG 12 dalam satu kegiatan sederhana berbasis sekolah. Dengan konsistensi dan dukungan seluruh warga sekolah, kebiasaan positif ini dapat menjadi bagian dari upaya nyata mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Oleh karena itu, “One Day One Rubbish” layak dipandang sebagai praktik baik pengabdian kepada masyarakat yang mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.

Referensi

Hidayati, S., & Lestari, P. (2022). Sosialisasi pentingnya membuang sampah pada tempatnya terhadap kesehatan dan karakter siswa. Jurnal Media Akademik, 1(4), 210–217.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. (2021). Program Adiwiyata: Sekolah peduli dan berbudaya lingkungan.

Sari, M., & Putri, A. (2022). Edukasi pemilahan sampah sejak dini untuk meningkatkan kesadaran lingkungan siswa. Jurnal Pengabdian Masyarakat Pharmacon, 3(2), 56–63. (Wot/adv)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button