“Jalani Dawuh”, Berkunjung ke Pertapaan Pringgondani di Lereng Gunung Lawu
Catatan Spiritual Mbah Woto

Suwoto/Mbah Woto saat perjalanan mendaki menuju Pertapaan Pringgondani dan bertemu seorang murid di depan Pertapaan Pringgodani (foto: ist/BN)
KARANGANYAR, BIDIKNASIONAL.com – Ketika menerima petunjuk leluhur agar berkunjung ke sebuah tempat yang nota bene bernuansa sakral, yakni lokasi pertapaan yang belakangan mulai dikenal kalayak ramai, khususnya para pelaku budaya dan penggiat spiritual.Tempat tersebut dikenal dengan nama “Pertapaan Pringgondani” berada di lereng Gunung Lawu sisi barat, tepatnya di Desa Blumbang, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.
Kalian wajib mengunjungi pertapaan pringgondani yang ada di lereng gunung lawu untuk meditasi”, dawuh leluhur –yang sudah diterjemahkan dalam bahasa wadag– memberikan petunjuk. Dawuh tersebut diterima tatkala melakukan giat spiritual di Petirtaan Candi Jolotundo yang merupakan petilasan Prabu Airlangga, Raja Kahuripan di lereng Gunung Penanggungan, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur pada awal bulan Desember 2025.
Pada minggu pertama bulan Januari 2026 kebetulan hari sakral bagi kami, dawuh leluhur hasil komunikasi gaib itu dijalankan. Bersama 2 orang murid, giat spiritual dilaksanakan menuju lokasi Pertapaan Pringgondani. Dengan niat yang kuat serta ditopang berdoa minta ridhoning Gusti Alloh, perjalanan lelaku itu diyakini mendapatkan kelancaran dan keselamatan. Alhamdulillah…mulai start dari Hotel Pose In Solo jam 07.30, hingga sampai tempat parkiran Pertapaan Pringgondani menempuh waktu sekitar 1 jam dengan mengendarai motor sewaan. Dari tempat parkiran, kami harus berjalan kaki sekitar 1,5 jam menempuh jalan setapak naik turun. Bagi saya yang berumur 58 tahun merupakan ujian mental dan fisik. “Kamu pasti kuat sampai pertapaan bila dilakukan dengan sabar dan ikhlas”, pesan energi positif yang diterima otak kanan. Berkat info gaib itu menjadi meningkatkan semangat diri. Dengan perjuangan berat akhirnya berhasil sampai tempat tujuan, meski selama perjalanan diiringi hujan gerimis berkolaborasi suhu dingin dan rasa mistis.
Sebelum melakukan meditasi, kami bertiga istirahat sejenak, lantas pesan mie goreng di warung sebelah pertapaan. Usai mengisi perut, kami menunggu petunjuk. Ternyata tidak begitu lama menunggu, petunjukpun datang. “Setelah meditasi kamu langsung turun dan pulang,” demikian bunyi petunjuk gaib yang aku terima.
Aura di lokasi pertapaan terasa adem ayem yang terbalut suasana sakral. Syukur alhamdulillah…laku berkunjung ke Pertapaan Pringgondani saya yakini lancar dan sukses berkat ridho Tuhan Yang Maha Kuasa. Aamiin. (Suwoto)
