JATIMSIDOARJO

PCNU Sidoarjo Ziarah Makam para Muassis, Dalam Rangka Peringati Harlah NU ke 103 Tahun

PCNU Sidoarjo saat ziarah di makam KH Hosein Idris, Taman, Sidoarjo. (Foto: Teddy Syah/BN.com)

SIDOARJO, BIDIKNASIONAL.com – PCNU Sidoarjo menggelar giat ziarahi para Muassis NU dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama ke-103, Sabtu (24/1). Kegiatan yang sudah dimulai sejak pagi hari itu, menjadikan agenda rutin tahunannya.

Sekretaris PCNU Sidoarjo, K.H. Agus Mahbub Ubaidillah menjelaskan, bahwa kegiatan ini sebagai bentuk khidmah dan penghormatan kepada para pendiri tokoh-tokoh NU yang berjasa membangun organisasi di Kabupaten Sidoarjo.

“Kegiatan hari ini merupakan kegiatan rutin setiap Harlah NU di Sidoarjo. Dibagi menjadi tiga rombongan, yakni rombongan selatan, tengah, dan barat,” ujarnya.

Ubaidillah menambahkan, pembagian rombongan menjadi 3 tersebut dilakukan untuk menjangkau seluruh titik makam ulama NU yang tersebar di berbagai wilayah.

“Total hari ini kita ziarah di 18 titik makam di seluruh Kabupaten Sidoarjo, meliputi wilayah Sidoarjo Tengah, Barat, dan Timur,” kata Kiai Agus.

PCNU Sidoarjo
Sekretaris PCNU Sidoarjo, K.H. Agus Mahbub Ubaidillah. (Foto: Teddy Syah/BN.com)

Ia menegaskan, ziarah muassis bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga sarana menanamkan nilai sejarah dan perjuangan NU kepada kader.

“Ini bagian dari khidmah kita di NU, menghargai jasa-jasa para leluhur Nahdlatul Ulama yang telah membangun organisasi di Sidoarjo. Kita mengeling-eling, nguri-nguri jasa beliau-beliau agar perjuangannya bisa kita lanjutkan,” tuturnya.

Salah satu titik penting ziarah adalah makam KH Hosein Idris, tokoh sentral pendirian NU di wilayah Sidoarjo.

Dalam kesempatan itu, cucu KH Hosein Idris, H. Ahmad Humam, mengungkapkan sejarah awal berdirinya NU di kawasan Sepanjang.

“NU itu berdiri di sini bermula tahun 1928. Waktu itu ada dua santri, Kiai Hamim Syahid dan Kiai Hosein Idris. Mereka dipanggil ke Jombang oleh Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari, lalu diminta kembali ke daerah Sepanjang untuk mendirikan NU,” jelas Ahmad Humam.

PCNU Sidoarjo
H. Ahmad Humam, cucu dari KH Hosein Idris. (Foto: Teddy Syah/BN.com)

Ia menyebutkan bahwa ranting NU pertama di Indonesia berdiri di wilayah Sepanjang. “Tahun 1928 berdirilah NU ranting pertama se-Indonesia, namanya Kring Bebekan. Lokasinya dulu ada di rumah sebelah sini,” tambahnya.

Ahmad Humam juga menegaskan bahwa ziarah ke makam para pendiri NU di Sidoarjo selalu dilakukan setiap peringatan Harlah NU.

“Setiap Harlah NU pasti ada ziarah ke makam pendiri NU Sidoarjo. Ketua Ranting NU pertama itu Mbah KH Hosein Idris,” katanya.

Terkait perawatan makam dan langgar bersejarah tersebut, ia menyebut masih dikelola oleh keluarga.

“Pengurusannya masih keluarga. Langgar ini sampai sekarang tidak masuk dalam waris, jadi masih utuh milik Mbah Buyut,” pungkasnya.

Melalui kegiatan Ziarah Muassis NU ini, PCNU Sidoarjo berharap semangat perjuangan para ulama pendiri NU terus hidup dan menjadi teladan bagi generasi muda dalam mengawal Indonesia menuju peradaban yang mulia.

Laporan : Teddy Syah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button