JATIMSIDOARJO

Sejarah Rumah Tua di Taman Sidoarjo, Lahirnya Ranting NU Pertama Indonesia

H. Ahmad Humam saat menunjukkan foto Kyai Hosein bersama para ulama. (Foto: Teddy Syah/BN.com)

SIDOARJO, BIDIKNASIONAL.com – Sebuah rumah tua di kawasan Bebekan Sepanjang, Kecamatan Taman, Sidoarjo, sejarah besar Nahdlatul Ulama (NU) pernah ditorehkan. Bangunan sederhana yang masih berdiri utuh hingga kini itu menjadi saksi lahirnya ranting NU pertama di Indonesia pada tahun 1928.

Kisah ini dituturkan langsung oleh H. Ahmad Humam, cucu dari KH. Hosein Idris, salah satu tokoh sentral pendiri NU di wilayah Sidoarjo.

Ahmad Humam bercerita, awal mula berdirinya NU di Sidoarjo tidak lepas dari peran dua santri Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari.

“Tahun 1928 itu ada dua santri beliau, Kiai Hamim Syahid dan Kiai Hosein Idris. Dua-duanya itu kakek saya, dari jalur ibu dan bapak,” terangnya.

Ia melanjutkan, NU sejatinya berdiri pertama kali di Surabaya pada 1925, tepatnya di kawasan Bubutan, di sebuah rumah yang kini menjadi Kantor Cabang NU Surabaya.

“Berdirinya di Surabaya pada tahun 1925, lalu diresmikan secara organisatoris tahun 1926 di Jombang. Baru dua tahun kemudian, 1928, berdiri ranting pertama di sini, di rumah ini,” jelas Ahmad Humam.

Ranting pertama tersebut dikenal dengan nama Kring Bebekan. Istilah “kring” kala itu belum menggunakan sebutan ranting seperti sekarang.

“Bukan ranting, tapi namanya Kring Bebekan. Tulisan ‘kring’ itu masih ada. Istilahnya mungkin berbeda, karena waktu itu belum ada struktur ranting seperti sekarang,” katanya.

Baca Juga : PCNU Sidoarjo Ziarah di Makam Para Muassis, Peringati Harlah NU ke 103 Tahun

Sidoarjo
H. Ahmad Humam saat menunjukkan foto sejarah. (Foto: Teddy Syah/BN.com)

Ahmad Humam menegaskan, kisah ini bukan sekadar cerita tutur turun-temurun. namun ia juga memiliki dokumen autentik yang menjadi bukti sejarah.

“Ini bukan cerita lisan saja. Dokumen-dokumen NU dari awal berdiri di Surabaya sampai ke sini ada semua. Bahkan sudah saya serahkan ke PBNU supaya sejarahnya lurus,” ujarnya.

Ia menyinggung bagaimana sejarah NU sempat mengalami perbedaan versi sebelum akhirnya diluruskan.

“Alhamdulillah, sekarang sudah lurus. Di YouTube juga Kiai Said Aqil Siroj pernah menyampaikan, NU berdiri 1925 di Surabaya, diresmikan 1926, dan ranting pertama 1928 di sini,” tuturnya.

Tak hanya sebagai tokoh agama, KH. Hosein Idris juga dikenal sebagai saudagar besar pada masanya. “Beliau itu pengusaha beras dan material bangunan. Salah satu saudagar besar di Surabaya waktu itu,” kata Ahmad Humam.

Rumah bersejarah tersebut juga menyimpan jejak perjuangan fisik bangsa. Saat perang kemerdekaan, bangunan itu pernah menjadi markas Hizbullah.

“Dulu ini markas Hizbullah. Bahkan ada bekas tembok kena bom Belanda, keramiknya sampai copot dan belum diperbaiki sampai sekarang,” ungkapnya.

Hingga kini, rumah dan langgar di kompleks tersebut masih dirawat keluarga tanpa perubahan bentuk.

“Bangunannya masih asli, tidak diubah. Sengaja kami jaga supaya sejarahnya tetap ada dan bisa dikenang,” pungkas Ahmad Humam, menutup kisah panjang rumah tua yang menjadi saksi lahirnya sejarah besar ranting Nahdlatul Ulama.

Laporan : Teddy Syah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button