SPIRITUAL

“Dawuh Leluhur”, Kesucian Air Petirtaan Jolotundo Harus Dijaga

Catatan Spiritual Mbah Woto

Petirtaan Candi Jolotundo (Foto: Suwoto/BN)

MOJOKERTO, BIDIKNASIONAL.com – Sebuah peninggalan leluhur masa Kerajaan Kahuripan yang berwujud petirtaan, terletak di Dusun Biting, Desa Selo Liman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur, harus diperhatikan kesucian airnya. Lantaran, obyek wisata religi dan budaya yang berupa candi tersebut, semakin membludak jumlah pengunjungnya, sehingga orang yang melakukan ritual mandi di petirtaan itu cukup berjubel.

Oleh karenanya alangkah bijaknya bila, tata tertib ritual mandi ditata ulang khususnya perihal busana yang dikenakan ketika saat ritual mandi untuk menjaga kesucian air.

“Saya pernah melihat di kolam pria disaat pengunjung yang mandi ramai sekali, air kolam terlihat buthek (keruh), karena orang yang mandi cukup banyak dan mayoritas mengenakan celana pendek dan sejenisnya, yang mungkin sebagian besar dalam kondisi sudah dipakai sejak dari rumah,” tutur Yono, seorang pengunjung asal Surabaya menganalisa.

Memang, sejak era sosmed (sosial media) muncul dalam kehidupan masyarakat, sangat berpengaruh terhadap perkembangan jumlah pengunjung yang datang di obyek wisata patirtan itu. Perlahan tapi pasti, situasi dan kondisi pengunjung Petirtaan Jolotundo tersebut semakin meningkat jumlahnya. Dibanding saat Saya pertama kali berkunjung ke Petirtaan Jolotundo pada tahun 1996, kondisinya jauh berbeda, orang yg ritual mandi masih sepi dan waktu mandi tidak boleh mengenakan busana alias telanjang bulat.

Mbah Woto saat berada di area Candi Jolotundo (Foto: Suwoto/BN)

Demikian ketika ritual mandi, waktunya harus malam hari.Bisa dikata ritual mandi siang hari ‘terlarang’. Dan suasana lokasi di area kolam petirtaan, bila malam susananya gelap gulita.Tapi kini, sikon Petirtaan Jolotundo berubah total, malam hari sudah terang benderang, pengunjung yang datang untuk ritual mandi bertambah banyak. Orang orang yang datang mayoritas melakukan ritual mandi dan saat pulang membawa air yang diyakini bisa bermanfaat untuk kesehatan badan juga untuk pengobatan penyakit. Ritual mandi bisa dilakukan malam atau siang hari alias bebas semaunya pengunjung.

Beberapa waktu lalu, tatkala Saya berkunjung ke Petirtaan Jolotundo, mendapat ‘dawuh’ dari leluhur yang diterima otak kanan. Isi dawuhnya agar menjaga kesucian air petirtaan Jolotundo.

Perlu diketahui, petirtaan Jolotundo tersebut secara pandangan spiritual merupakan tempat petilasan Prabu Airlangga, Raja Kahuripan.Titik tempat petilasanya berada di atas candi. Banyak juga pengunjung yang datang hanya ritual ‘SOWAN’ saja.Setiap bulan Syuro, di tempat tersebut dilaksanakan acara “Ruwatan Air Petirtaan Jolotundo” yang digelar oleh Dewan Adat desa setempat.

Mengapa Ritual mandi di Petirtaan Jolotundo digandrungi banyak orang…? Hal ini dimungkinkan lantaran, ada keyakinan orang yang ritual mandi di kolam Petirtaan Jolotundo, konon bisa mendapat manfaat kesehatan, awet muda dan panjang umur. Faktanya memang pengunjung yang datang melakukan ritual mandi cukup ramai, pria, wanita, ibu, bapak, remaja dan anak anak pun ada.Terdapat dua kolam, sebelah kanan untuk mandi pria, kiri untuk perempuan. Sementara, meski jumlah pengunjung bertambah banyak, namun fasilitas untuk kamar ganti belum disediakan.Sehingga untuk bisa ganti pakaian seusai ritual mandi ya menggunakan toilet. Karena jumlah toilet cuma ada 2 toilet pria dan 2 toilet wanita, sehingga harus antri lama hanya untuk ganti pakaian.”Fasilitas khusus untuk ganti pakaian harusnya ada, tidak jadi satu dengan toilet,” komentar Mia pengunjung asal Sidoarjo. Untuk masuk ke lokasi Petirtaan Jolotundo, tiap pengunjung dewasa harga tiket Rp.12.500. (Suwoto)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button