JATIMPASURUAN

Bayar Iuran Meski Sehat, Bukti Nyata Gotong Royong dalam Program JKN

PASURUAN, BIDIKNASIONAL.com – Sebagian masyarakat masih menganggap iuran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sebagai kewajiban rutin yang tidak terasa manfaatnya karena jarang menggunakan layanan kesehatan. Padahal, iuran tersebut memiliki arti penting bagi keberlangsungan sistem jaminan kesehatan yang menjamin seluruh rakyat Indonesia.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Pasuruan, Dina Diana Permata, menjelaskan bahwa iuran JKN merupakan bentuk gotong royong dari seluruh peserta untuk membantu sesama. Prinsip solidaritas sosial menjadi dasar pelaksanaan program ini, di mana peserta yang sehat membantu peserta lain yang sedang membutuhkan pelayanan kesehatan.

“Iuran yang dibayarkan setiap bulan tidak pernah sia-sia. Mungkin kita belum pernah berobat, tapi iuran yang kita bayarkan sudah membantu peserta lain yang sedang sakit. Melalui semangat gotong royong ini, masyarakat saling melindungi satu sama lain,” ujar Dina. Rabu (14/10).

Menurutnya, sistem ini dirancang agar setiap warga negara memiliki akses terhadap layanan kesehatan tanpa harus khawatir dengan besarnya biaya. Dina mencontohkan bagaimana iuran JKN dapat meringankan beban biaya pengobatan penyakit berat yang nilainya bisa mencapai ratusan juta rupiah.

“Biaya operasi jantung bisa mencapai Rp150 juta. Jika jumlah itu ditanggung bersama oleh sekitar 4.200 peserta JKN kelas 3, maka beban per orang hanya sekitar Rp35.700. Tapi bila harus menanggung sendiri, seseorang mungkin perlu menabung hingga 350 tahun untuk mencapai jumlah tersebut. Dari sini kita bisa melihat betapa kuatnya manfaat gotong royong dalam sistem JKN,” jelasnya.

Menurutnya, sistem ini merupakan perwujudan nyata dari amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan, yang menegaskan bahwa jaminan kesehatan diselenggarakan berdasarkan prinsip kebersamaan, keadilan, dan nirlaba.

“Program ini bukan asuransi komersial. BPJS Kesehatan tidak mencari keuntungan, melainkan memastikan seluruh peserta mendapatkan perlindungan kesehatan tanpa diskriminasi kemampuan ekonomi,” tambahnya.

Ia menegaskan bahwa seluruh dana iuran dikelola secara transparan dan akuntabel. BPJS Kesehatan tidak mencari keuntungan, melainkan menyalurkan seluruh dana untuk pelayanan kesehatan peserta yang membutuhkan, di bawah pengawasan lembaga pemerintah dan audit rutin lembaga independen.

“Setiap rupiah yang dibayarkan peserta akan digunakan sesuai peruntukannya. Tidak ada dana yang mengendap atau disalahgunakan. Ini murni sistem sosial yang dibangun untuk kepentingan bersama,” tegas Dina.

Dina menekankan bahwa peserta yang sehat bukan berarti tidak mendapatkan manfaat dari program JKN. Mereka tetap terlindungi secara finansial bila suatu saat membutuhkan layanan medis. Selain itu, dengan rutin membayar iuran, mereka turut menjaga keberlangsungan sistem yang menolong banyak orang.

“Justru peserta yang tidak pernah menggunakan JKN bisa bersyukur karena masih diberi kesehatan. Tapi ketika waktunya tiba dan mereka memerlukan layanan medis, sistem ini akan bekerja memberikan perlindungan yang sama,” ujarnya.

Rizal Maulana (32), seorang karyawan swasta dan peserta JKN asal Kecamatan Bangil, mengakui bahwa pandangannya terhadap iuran JKN berubah setelah melihat manfaatnya secara langsung.

“Dulu saya berpikir, untuk apa rutin membayar iuran kalau saya jarang sakit. Rasanya seperti uangnya hilang begitu saja,” kenang Rizal.

Namun pandangan itu berubah ketika ia sendiri mengalami sakit dan harus menjalani perawatan di rumah sakit. Saat itu, seluruh biaya pengobatan ditanggung oleh JKN tanpa perlu mengeluarkan biaya tambahan. Pengalaman itu membuat Rizal benar-benar merasakan manfaat dari program ini.

“Begitu saya dirawat dan semua biayanya dijamin oleh JKN, saya baru sadar betapa pentingnya ikut program ini. Rasanya lega sekali karena tidak perlu pusing memikirkan biaya rumah sakit,” ujarnya.

Rizal mengaku lebih tenang dan justru merasa bangga menjadi peserta JKN. Ia kini menyadari bahwa iuran yang dibayarkannya setiap bulan bukan hanya melindungi dirinya dan keluarga, tetapi juga membantu peserta lain yang membutuhkan.

“Sekarang saya sadar, iuran JKN bukan beban. Ini bentuk gotong royong yang nyata, di mana kita saling membantu sesama. Saya sendiri sudah merasakan manfaatnya,” tutupnya. (rn/ra/red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button