
Desytarius Nurilasari yang akrab disapa Dita peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Foto: ist
PASURUAN, BIDIKNASIONAL.com – Perjalanan hidup Desytarius Nurilasari (36), atau yang akrab disapa Dita, menjadi bukti nyata bahwa semangat, kebersamaan, dan perlindungan kesehatan yang tepat dapat menyelamatkan hidup seseorang. Warga Kota Pasuruan yang berprofesi sebagai wiraswasta di bidang katering dan terapi kesehatan ini tak pernah menduga bahwa keputusannya mendaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan sejak tahun 2014 akan menjadi langkah yang begitu berarti dalam hidupnya.
Semua bermula ketika sang ayah mengalami serangan jantung di Balikpapan. Demi memastikan ayahnya mendapatkan perawatan terbaik, Dita sekeluarga mendaftar sebagai peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Namun tak lama berselang, Dita didiagnosis menderita kanker payudara.
“Saat dokter menyampaikan hasil diagnosa, saya sempat terdiam. Rasanya campur aduk antara takut dan tidak percaya,” Jelas Dita, Senin (10/25).
Proses pengobatan yang ia jalani tidaklah mudah. Dita harus melewati operasi, pemeriksaan patologi, hingga serangkaian kemoterapi yang menguras tenaga, waktu, dan emosi. Namun di balik semua itu, ada rasa lega yang luar biasa karena seluruh biaya pengobatan ditanggung penuh oleh BPJS Kesehatan.
“Benar-benar tidak keluar uang sepeser pun. Kalau dihitung sendiri, biayanya bisa ratusan juta. Saya tidak tahu bagaimana jadinya kalau waktu itu belum terdaftar di JKN,” ujarnya.
Di tengah perjuangan melawan penyakit, Dita menemukan kekuatan baru melalui Malang Breast Cancer Community (MBCC). Komunitas penyintas kanker payudara ini menjadi ruang bagi para anggotanya untuk saling berbagi cerita dan saling menguatkan.
“Saya dikenalkan teman untuk bergabung di MBCC. Dari sana, saya merasa punya keluarga baru. Kami saling mendukung, menyemangati, bahkan saling menjenguk kalau ada yang sedang drop,” tuturnya.
Melalui MBCC, Dita tak hanya mendapatkan dukungan moral, tetapi juga kesempatan untuk terus belajar. Komunitas ini rutin mengadakan jalan sehat mingguan, edukasi kesehatan bersama dokter dari RS Onkologi Surabaya, hingga kegiatan memperingati Hari Kanker Sedunia.
“Kegiatan itu membuat kami lebih optimis. Saya belajar menerima kondisi dengan hati lapang, dan percaya kalau semangat bisa mempercepat proses sembuh,” tambahnya.
Kini, Dita aktif menjadi penyebar semangat positif bagi masyarakat agar tidak menunda menjadi peserta JKN. Ia memahami betul betapa berharganya perlindungan kesehatan di saat tak terduga.
“Jangan tunggu sakit dulu baru daftar. Dengan rutin membayar iuran, kita bukan hanya melindungi diri sendiri, tapi juga menolong peserta lain yang sedang berjuang. Itulah makna gotong royong yang sesungguhnya,” pesannya.
Bagi Dita, kesembuhan bukan sekadar urusan medis. Ia percaya bahwa dukungan sosial, mental, dan jaminan kesehatan adalah kunci untuk kembali bangkit. Bersama JKN dan komunitas MBCC, Dita menemukan kembali harapan, kekuatan, dan arti hidup yang baru.
“Sekarang saya ingin membalas dengan membantu orang lain, seperti dulu saya dibantu,” ujarnya dengan senyum penuh keberanian. (rn/ra/red)



