
Sofi Wahyu Putri (30) ditemani sang ibu Sulikha (53) sedang menjalani cuci darah di ruang Hemodialia RSUD dr. Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto (Foto: istimewa)
MOJOKERTO, BIDIKNASIONAL.com – Terlihat berbaring di ruang Hemodialia RSUD dr. Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto, Sofi Wahyu Putri (30) ditemani sang ibu Sulikha (53) sedang menjalani cuci darah yang sudah ia jalani selama 8 tahun terakhir. Wanita muda ini sudah menjalani cuci darah sejak tahun 2017 untuk penyakit gagal ginjal yang dideritanya sejak umur 22 tahun.
Sulikha menceritakan bahwa saat awal penyakit muncul Sofi mengalami bengkak di seluruh tubuh sampai tidak bisa berjalan. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter, Sofi dikejutkan bahwa dirinya didiagnosa mengalami gagal ginjal. Saat itu dirinya merasa sangat panik karena kejadian berlangsung cepat dan Sofi tiba-tiba drop padahal saat itu usia Sofi tergolong masih sangat muda.
“Kondisinya waktu itu sangat tidak bagus, tiba-tiba badannya bengkak semua sampai tidak bisa jalan, Sofi langsung dirawat di Intensive Care Unit (ICU) dan divonis gagal ginjal dan diminta segera cuci darah. Saya panik saat itu belum terdaftar sebagai peserta JKN jadi pengobatan awal menjadi pasien umum,” cerita Sulikha.
Sulikha melanjutkan bahwa saat itu karena kondisi anaknya yang sangat buruk setelah dirawat di ICU, masih perlu dilanjutkan dengan perawat rehabilitasi medik untuk Sofi bisa berjalan kembali. Saat itulah ia menyadari biaya pelayanan kesehatan terutama cuci darah sangat mahal sekali dan harus dilakukan rutin oleh Sofi seumur hidupnya.
“Saat itu keluarga kami belum terdaftar menjadi peserta JKN dan saya merasakan sendiri betapa mahalnya semua biaya untuk berobat. Saat itu satu kali cuci darah lebih dari Rp1 juta rupiah dan dalam seminggu anak saya harus dua kali cuci darah, bisa dibayangkan berapa banyak uang yang harus keluarkan untuk pengobatan cuci darah yang harus dilakukan seumur hidup,” tutur Sulikha.
Sulikha juga menjelaskan bahwa setelah itu ia segera mendaftarkan dirinya dan keluarganya ke Program JKN dan memilih hak perawatan kelas 3. Sulikha menyadari sangat penting memiliki jaminan kesehatan karena risiko sakit bisa saja datang tiba-tiba tidak melihat usia atau apapun. Sulikha juga menyadari hanya Program JKN yang dapat menjadi penjamin bahkan saat sudah sakit sekalipun.
“Sebelumnya saya tidak begitu sadar untuk memiliki penjamin kesehatan. Namun kejadian ini menyadarkan saya bahwa risiko sakit bisa menimpa siapa saja. Saya sangat bersyukur ada Program JKN yang bisa menjadi penjamin kesehatan saya bahkan disaat risiko sakit tersebut telah terjadi,” lanjut Sulikha.
Sulikha dan suami yang merupakan pekerja serabutan ini menyampaikan bahwa dengan adanya Program JKN ini membuat dirinya menjadi lebih tenang. Dirinya merasa rakyat kecil sepertinya dapat mengakses pelayanan kesehatan yang sama melalui Program JKN. Menurutnya segala fasilitas dan pelayanan kesehatan Program JKN yang dikelola BPJS Kesehatan ini semakin lama semakin baik sehingga anaknya dapat menjalankan perawatan dengan nyaman.
“Saya merasa sangat tenang, karena tanpa Program JKN tentu saya dan suami akan sangat kewalahan untuk terus melanjutkan perawatan Sofi hingga saat ini. Selama ini juga selalu dilayani dengan baik, Sofi tidak pernah dibedakan saat menjadi pasien umum maupun setelah menjadi peserta JKN. Sebagai pengguna yang rutin memanfaatkan pelayanan tentu saya sangat merasakan perkembangan yang semakin baik dibandingkan 8 tahun yang lalu, dan sekarang semakin nyaman. Terima kasih Program JKN telah banyak meringankan beban masyarakat seperti saya dan keluarga,” tutup Sulikha. (rn/tp/red)



