EcoHealth Habit: Gerakan Mahasiswa Membangun Kebiasaan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan Berkelanjutan

Oleh:
Marcello Nakaya Firmansyah,
Prof. dr. Rika Yuliwulandari, M.Hlt.Sc., Sp.KKLP., M.MB., Ph.D., Subsp.FOMC.
Wisnu Tegar Firmansyah
Seno Dwi Saputra,
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur
DI TENGAH permasalahan lingkungan dan gaya hidup tidak sehat yang semakin mengkhawatirkan, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur melalui proyek mata kuliah kepemimpinan menginisiasi gerakan inovatif bernama EcoHealth Habit. Proyek kepemimpinan ini hadir sebagai respons terhadap tantangan penumpukan sampah plastik, minimnya aktivitas fisik, serta rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Permasalahan tersebut tidak hanya berdampak pada kualitas lingkungan, tetapi juga berimplikasi langsung terhadap derajat kesehatan masyarakat. Dalam konteks global, isu ini sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs) yang menekankan keterkaitan antara kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, EcoHealth Habit dirancang sebagai gerakan terpadu yang mengintegrasikan aspek kesehatan, lingkungan, dan kepemimpinan berbasis komunitas.
Perubahan gaya hidup modern yang cenderung sedentari dan rendahnya kepedulian terhadap lingkungan menjadi isu serius dengan dampak jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat. Data Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa 33,5% penduduk Indonesia menghabiskan waktu duduk lebih dari enam jam per hari, sementara WHO menyatakan kurangnya aktivitas fisik sebagai penyebab kematian nomor empat di dunia. Kondisi ini menunjukkan urgensi intervensi promotif dan preventif yang mendukung pencapaian SDG 3 (Good Health and Well-Being). EcoHealth Habit dirancang tidak hanya sebagai kegiatan sosial sesaat, tetapi sebagai gerakan perubahan perilaku melalui pembentukan kebiasaan sehat dan aktif. Lima manfaat utama program ini, mulai dari peningkatan kesadaran masyarakat hingga pembentukan komunitas produktif, menjadi strategi konkret dalam mendukung kesehatan berkelanjutan.
Pelaksanaan kegiatan perdana pada Minggu, 5 Oktober 2025, di Perumahan Medokan Utara, Surabaya, mencerminkan implementasi nyata SDG 11 (Sustainable Cities and Communities). Kegiatan bersih lingkungan yang melibatkan mahasiswa dan masyarakat berkontribusi langsung pada terciptanya lingkungan permukiman yang bersih, aman, dan nyaman. Meskipun menghadapi tantangan seperti keterbatasan peserta dan sarana, kegiatan tetap berjalan efektif berkat koordinasi dan kepemimpinan tim yang adaptif. Pendekatan ini menunjukkan bahwa keterlibatan komunitas lokal merupakan kunci keberhasilan pembangunan berkelanjutan di tingkat akar rumput. Dengan demikian, EcoHealth Habit memperkuat peran masyarakat sebagai subjek utama pembangunan lingkungan.
Hasil kegiatan menunjukkan partisipasi aktif mahasiswa dan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan serta meningkatkan aktivitas fisik. Dampak ini sejalan dengan SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pengurangan sampah plastik dan peningkatan kesadaran pengelolaan lingkungan. Umpan balik positif dari masyarakat menunjukkan bahwa pendekatan edukatif berbasis aksi mampu menumbuhkan motivasi dan rasa memiliki terhadap program. Kegiatan ini juga mendorong perubahan pola pikir masyarakat bahwa kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Dengan demikian, EcoHealth Habit berperan sebagai katalis perubahan perilaku menuju gaya hidup yang lebih berkelanjutan.
Evaluasi kegiatan menunjukkan bahwa pendekatan kepemimpinan partisipatif yang diterapkan berhasil memperkuat kolaborasi dan komunikasi dua arah antara mahasiswa dan masyarakat. Model kepemimpinan ini relevan dengan SDG 4 (Quality Education), khususnya dalam konteks pembelajaran sepanjang hayat dan penguatan kapasitas individu sebagai agen perubahan. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pelaksana kegiatan, tetapi juga sebagai fasilitator pembelajaran sosial di masyarakat. Pembentukan kebiasaan positif, seperti meningkatnya kepedulian terhadap kebersihan dan aktivitas fisik, menjadi indikator awal keberhasilan program. Namun demikian, perubahan perilaku jangka panjang tetap memerlukan pendampingan dan konsistensi program.
Dampak positif EcoHealth Habit terlihat dari lingkungan yang lebih bersih dan meningkatnya kesadaran akan pentingnya aktivitas fisik sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Kondisi ini mendukung SDG 6 (Clean Water and Sanitation) melalui upaya pencegahan pencemaran lingkungan permukiman. Lingkungan yang bersih juga berkontribusi terhadap pencegahan penyakit berbasis lingkungan, sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan. Pembentukan komunitas EcoHealth Agents menjadi modal sosial penting dalam menjaga keberlanjutan program. Komunitas ini berperan sebagai penggerak utama dalam mempertahankan praktik hidup bersih dan sehat di lingkungan setempat.
Meskipun demikian, beberapa kendala masih dihadapi, seperti keterbatasan waktu, variasi tingkat kesadaran peserta, dan konsistensi kehadiran dalam kegiatan rutin. Tantangan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran dalam implementasi pembangunan berkelanjutan berbasis komunitas. Tim pelaksana merekomendasikan perencanaan program yang lebih terstruktur, perluasan jangkauan peserta, serta pelaksanaan monitoring dan evaluasi berkala dengan indikator yang terukur. Strategi ini penting untuk memastikan kontribusi program terhadap pencapaian SDGs dapat terukur secara berkelanjutan. Dengan evaluasi yang sistematis, EcoHealth Habit berpotensi dikembangkan sebagai model pengabdian masyarakat berbasis SDGs.
Secara keseluruhan, EcoHealth Habit membuktikan bahwa langkah kecil yang dilakukan secara konsisten mampu memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan dan kebersihan lingkungan. Program ini menunjukkan keterkaitan erat antara SDG 3, SDG 4, SDG 6, SDG 11, dan SDG 12 dalam satu gerakan terpadu berbasis komunitas. Melalui kepemimpinan transformasional dan partisipasi aktif masyarakat, EcoHealth Habit mampu membangun kebiasaan positif yang berkelanjutan. Keberhasilan ini dapat menjadi inspirasi bagi institusi pendidikan dan komunitas lain untuk mengembangkan program serupa. Dengan demikian, EcoHealth Habit berkontribusi nyata dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan dari tingkat lokal.
Referensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. https://layanandata.kemkes.go.id/katalog- data/riskesdas/ketersediaan-data/riskesdas-2018
World Health Organization. (2010). Global Recommendations on Physical Activity for Health.
Geneva: WHO.
World Health Organization. (2024). Physical Activity Fact Sheet. Geneva: WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/physical-activity. (Adv/wot)


