
Eko Indarwati (59)/ Foto: ist/BN
SURABAYA, BIDIKNASIONAL.com – Selama hampir tujuh tahun, Eko Indarwati (59) harus menjalani hidup dengan bergantung pada mesin cuci darah. Wanita asal Kota Surabaya tersebut rutin menjalani cuci darah atau hemodialisis akibat gagal ginjal kronis yang dipicu oleh hipertensi. Kondisi ini bermula ketika tubuhnya terasa semakin lemah dan energinya seolah terkuras. Selain itu, tekanan darahnya kerap meningkat meskipun telah mengonsumsi obat.
“Awalnya, saya beberapa kali memeriksakan kesehatan di puskesmas dan tekanan darah saya selalu tinggi, sehingga dokter merujuk saya ke RSUD dr. Soetomo. Setelah menjalani pemeriksaan darah lengkap dan CT scan, hasilnya menunjukkan adanya kerusakan ginjal. Selanjutnya, saya langsung diminta untuk menjalani cuci darah,” tutur Eko, Kamis (04/02).
Eko menjelaskan, sejak didiagnosis gagal ginjal, ia sempat merasa stres karena penyakitnya tergolong berbahaya dan mengancam nyawa. Terlebih biaya perawatan serta prosedur medis yang harus dijalani untuk jangka panjang tidaklah murah. Namun, ia bersyukur memperoleh dukungan dari tenaga medis agar tetap semangat menjalani cuci darah dan tidak perlu memikirkan biaya, karena seluruh pengobatan ditanggung oleh Program JKN.
“Saya harus cuci darah secara rutin dua kali seminggu, yang berarti delapan kali dalam sebulan. Bayangkan jika saya tidak terdaftar sebagai peserta JKN, setiap bulan saya harus mengeluarkan biaya sekitar Rp15 juta, sementara saya sudah tidak bekerja dan suami saya seorang pensiunan,” ungkap Eko.
Eko mengaku bersyukur dan semakin bersemangat untuk menjalani pengobatan. Menurutnya, selama masih ada Program JKN, harapan hidupnya masih terbuka lebar. Ia menambahkan, layanan yang diberikan oleh Program JKN sangat lengkap, mulai dari pemeriksaan awal, pemeriksaan lanjutan oleh dokter spesialis, pengambilan obat rutin setiap bulan, hingga layanan cuci darah, seluruhnya ditanggung oleh Program JKN.
“Makanya saya heran kalau sampai saat ini masih ada orang yang belum terdaftar JKN, padahal tidak ada yang tahu kapan sakit datang dan tidak ada yang dapat memprediksi besarnya biaya pengobatan. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya masyarakat menyadari pentingnya memiliki jaminan kesehatan,” kata Eko.
Hingga kini, ia terus berupaya menjaga kesehatan agar kondisi tubuhnya tetap bugar dan dapat beraktivitas dengan lebih baik. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi pelajaran bagi banyak orang untuk lebih memperhatikan pola makan serta menjaga kesehatan tubuh.
“Program JKN yang sangat baik dan mulia ini, dengan berbagai kemudahan yang diberikan, diharapkan dapat terus berjalan dengan baik. Selain itu, Program JKN diharapkan semakin memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi peserta dengan penyakit kronis yang membutuhkan perawatan jangka panjang,” pungkasnya. (rn/md/red)


