

KEDIRI, BIDIKNASIONAL.com – Sebanyak 41 peserta program magang asal Kabupaten Kediri resmi menandatangani kontrak kerja dengan berbagai perusahaan di Jepang. Pencapaian ini menjadi langkah konkret Pemerintah Kabupaten Kediri dalam memperluas akses lapangan kerja global sekaligus menekan angka pengangguran di daerah.
Momen penandatanganan kontrak ini menjadi sorotan dalam penutupan Pelatihan Daerah (Pelatda) Magang Jepang tahap I angkatan 388 tahun 2026 yang digelar di Convention Hall Simpang Lima Gumul (SLG), Rabu (22/4/2026).
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Kediri, Ibnu Imad, menjelaskan bahwa dari total 96 peserta yang dinyatakan lolos tahap Pelatda, baru 41 orang yang sudah mengamankan posisi melalui kontrak resmi. Hal ini menunjukkan betapa ketatnya standar yang ditetapkan perusahaan-perusahaan di Negeri Sakura tersebut.
”Yang belum kontrak masih punya peluang. Mereka akan mengikuti wawancara lanjutan, baik secara daring maupun luring. Ini yang harus dimanfaatkan dengan baik,” ujar Ibnu.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan keluarga untuk menjaga disiplin dan kondisi fisik peserta selama menunggu giliran wawancara lanjutan.
Di tempat yang sama, Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri, M. Solikin, mengingatkan para peserta bahwa bekerja di luar negeri membawa tanggung jawab besar terhadap citra bangsa. Kesiapan mental dan adaptasi budaya menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar.
”Perbedaan budaya dan kebiasaan di Jepang harus disikapi dengan kesiapan yang matang. Jangan sampai persoalan di tempat kerja justru diunggah ke media sosial tanpa komunikasi yang baik, karena ini bisa berdampak pada reputasi,” tegas Solikin.
Langkah kuat Pemkab Kediri dalam memfasilitasi program magang ini terbukti efektif dalam membenahi data ketenagakerjaan. Saat ini, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Kediri sukses ditekan ke angka 4,71 persen dari sebelumnya 5,4 persen.
”Kabupaten Kediri bahkan masuk lima besar di Jawa-Bali dalam penurunan angka pengangguran. Program seperti ini menjadi salah satu faktor pendorongnya,” tambah Solikin.
Reputasi tenaga kerja asal Indonesia pun diakui oleh International Manpower Japan. Perwakilan lembaga tersebut, Kumagai Sensei, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat sekitar 6.800 peserta Indonesia yang aktif bekerja di sana.
”Program ini tidak hanya diikuti Indonesia, tetapi juga negara lain. Karena itu, kedisiplinan dan etos kerja menjadi kunci agar tetap dipercaya,” terang Kumagai.
Bagi para peserta, peluang ini adalah jalan untuk mengubah nasib meski tantangan biaya hidup di Jepang cukup tinggi. Ramli Kurniawan, peserta asal Ponorogo, mengaku siap menghadapi realita tersebut demi pengalaman internasional.
”Gaji di Jepang memang lebih tinggi, tapi biaya hidup juga besar. Jadi tergantung bagaimana kita mengelola penghasilan,” ungkap Ramli. (ND)



