Connect with us

Mengintip Budidaya Lebah Madu Klanceng di Desa Glodogan Klaten Selatan

35 views

JATENG

Mengintip Budidaya Lebah Madu Klanceng di Desa Glodogan Klaten Selatan

Lebah Madu Klanceng

KLATEN, JATENG, BN – Bagi salah seorang warga Dukuh Padangan, Desa Glodogan, Kecamatan Klaten Selatan, usaha budidaya lebah madu klanceng yang telah dirintisnya lima tahun yang lalu kini telah membuahkan hasil yang menggembirakan.

Terbukti, permintaan akan madu klanceng kini tidak hanya datang dari warga Klaten saja namun sudah merambah hingga kota-kota besar lainnya seperti Jogjakarta, Surabaya, Bandung, Bogor, Bali, Jakarta dan Medan. Bahkan dengan permintaan yang mulai meningkat tersebut terkadang harus menunggu hingga adanya ketersediaan stok madu.

“Usaha budidaya lebah madu klanceng ini berawal saat istri saya divonis harus menjalani cuci darah pada Oktober 2013. Saat itu salah seorang kerabat dari Kalimantan menyarankan agar istri saya mengkonsumsi madu yang dihasilkan dari lebah yang ada di wilayah Sumatera. Pada April 2014 istri saya mulai mengkonsumsi madu klanceng. Dan ternyata ada khasiat yang cukup menggembirakan setelah mengkonsumsi madu klanceng selama empat bulan itu,” kata Widodo saat ditemui di rumahnya di Dukuh Padangan RT 4 RW 3 Desa Glodogan Klaten Selatan, Kamis (8/8) pagi.

Ia menambahkan, pada Agustus 2014 istrinya sudah tidak perlu menjalani cuci darah lagi. Menurutnya, pengalaman itulah yang menjadi inspirasi baginya untuk melakukan usaha budidaya lebah madu klanceng.

Tempat Tinggal Koloni Lebah Madu Klanceng

Menurutnya, budidaya lebah tidak menyengat ini sangat mudah. Ada 2 jenis yang ia budidayakan yaitu, lebah yang biasa disebut dengan lebah endemik Jawa dan lebah dengan ukuran lebih besar jenis Itama. Tawon berukuran lebih kecil dari lalat ini hanya membutuhkan tempat tinggal yang sama persis dengan habitatnya di Tapanuli Selatan sana. Tawon ini hidup secara berkoloni yang jumlahnya bisa mencapai ribuan ekor.

Menurut Widodo, produksi madu klanceng yang dihasilkan dari tawon jenis endemik Jawa ini bisa diambil setiap 4 sampai 5 bulan dengan produksi sebanyak 250 ml. Sementara untuk jenis tawon besar jenis Itama setiap 3 sampai 4 bulan bisa menghasilkan 1 liter yang bisa dikemas dalam 4 botol.

“Madu yang dihasilkan dari lebah ini meski rasanya asam dan berbeda dengan madu yang banyak beredar di pasaran namun memiliki khasiat yang tidak perlu diragukan lagi karena mengandung propolis dan bee pollen yang berguna bagi kesehatan. Adapun penyakit yang bisa disembuhkan seperti vertigo, maag, diabetes dan jantung. Pesanan yang saya terima tidak hanya dalam bentuk madu saja namun juga bisa dalam bentuk koloni yang jumlahnya mencapai ribuan ekor,” katanya. (rkt)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in JATENG

Advertisement




Trending

Advertisement Free counters!
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
To Top
%d blogger menyukai ini: