
Dugaan malpraktik Klinik Siaga Medika. (Foto: Teddy Syah/BN.com)
SIDOARJO, BIDIKNASIONAL.com – Kasus dugaan malpraktik medis mencuat di Sidoarjo setelah seorang balita Hanania Fatin Majida (2 tahun 10 bulan) meninggal dunia usai menjalani perawatan di Klinik Siaga Medika, Porong , Sidoarjo.
Kuasa hukum keluarga korban, Frendi Septi Fauzan, S.H., resmi melaporkan pihak klinik ke Polresta Sidoarjo melalui LP: LPB/ 234 1 VIl 12025|JATIMRESTA SDA tanggal 3 September 2025 atas dugaan kelalaian tenaga medis yang berujung hilangnya nyawa pasien.
Frendi menjelaskan, awalnya balita hanya mengalami demam biasa dan dibawa ke Klinik Siaga Medika pada 30 Mei 2025. Namun setelah dirawat inap, kondisi pasien memburuk akibat dugaan kesalahan dalam pemasangan infus yang menimbulkan infeksi serius pada kedua tangan.
“Infeksi menyebabkan pembengkakan, hingga akhirnya pasien meninggal setelah dirujuk ke RSUD Sidoarjo pada 4 Juni 2025. Itu pun perujukan dilakukan terlambat,” ungkapnya, (4/9/2025).
Menurut Frendi, keluarga menilai penanganan pihak klinik tidak profesional. Ia menyebut, selain dugaan pemasangan infus yang tidak tepat, proses rujukan juga terhambat dengan berbagai alasan, mulai dari ketersediaan kamar di rumah sakit, proses administrasi, hingga keterlambatan memberikan rekam medis.
“Kami menduga adanya kelalaian sebagaimana diatur dalam Pasal 359 KUHP. Yang kami laporkan adalah dokter serta petugas yang menangani langsung pasien di Klinik Siaga Medika,” tegasnya.
Baca Juga : Dugaan Pungli di SMAN 2 Sidoarjo, Wali Murid Keluhkan Iuran Bulanan
Ia menambahkan, pihak keluarga sudah menerima rekam medis beberapa hari lalu. Namun, sebelumnya, rekam medis sempat tidak diberikan dengan berbagai alasan, bahkan saat diminta dalam forum hearing DPRD Sidoarjo.
Siti Nur Aini (35), ibu dari balita Hanania yang meninggal, tak kuasa menahan tangis saat menceritakan kembali peristiwa tersebut. Ia menegaskan akan terus mencari keadilan untuk anaknya.
“Saat mau dirujuk, kondisi anak saya sudah kritis. Saya tetap minta keadilan untuk anak saya. Nyawa anak saya hilang karena kelalaian ini,” ujarnya dengan suara terbata-bata.
Siti juga menyampaikan, sebelum dirujuk ke RSUD, pihak keluarga sudah berinisiatif mendesak agar dilakukan tindakan penyelamatan karena pasien tampak kritis. Bahkan sempat dilakukan pompa jantung manual. Namun, upaya itu tidak berhasil menyelamatkan nyawa sang anak.
Keluarga berharap aparat penegak hukum dapat bertindak tegas terhadap dugaan kelalaian medis ini. “Kami ingin ada pertanggungjawaban dari pihak klinik. Hilangnya nyawa balita bukanlah hal yang bisa dianggap biasa,” tegas Frendi.
Laporan : Teddy Syah



