OPINI

Menagih Nalar di Balik Debu Aspal dan Bayang-Bayang Kursi Kekuasaan

Daud Djoni WD. (Foto: istimewa)

BANYUWANGI, BIDIKNASIONAL.com – Sinar matahari siang ini seolah membakar kesadaran kita tentang realita yang terjadi di bumi pertiwi. Di saat deru mesin menggilas sedang berjuang menambal lubang-lubang di jalan raya, sebuah lubang yang lebih besar dan menganga justru muncul di tengah birokrasi yakni lubang integritas.

Laporan demi laporan tentang oknum pejabat yang terjerembab kasus korupsi hingga jeratan gelap narkoba menjadi potret buram yang belum juga usai.

Di Banyuwangi, suasana kian riuh ketika isu lama tentang Tumpang Pitu kembali diduga “digoreng” ke permukaan. Sebuah langkah yang memicu tanda tanya besar apakah ini murni suara rakyat, atau sekadar desain politik yang dipoles ulang untuk kepentingan sesaat?

Sementara, di sudut jalan yang sedang diperbaiki, rakyat harus bersabar di tengah kemacetan dan risiko kecelakaan lalu lintas yang mengintai. Proyek infrastruktur yang seharusnya menjadi solusi, seringkali berubah menjadi titik rawan laka lantas jika koordinasi di lapangan tumpul.

Di sinilah letak ujian sesungguhnya bagi pemerintah, mampukah membangun fisik tanpa mengabaikan keselamatan jiwa warga?

Memaknai hal ini, Ketua DPC LSM Kobra Banyuwangi sekaligus Pemerhati Sosial K-3, Daud Djoni WD, melempar alarm peringatan keras. Baginya, tugas pejabat bukan sekadar duduk di balik meja, melainkan mengemban amanah sesuai Visi Misi dan aturan main yang berlaku.

“Kami ingatkan dengan tegas bagi pejabat di jajaran Pusat, Provinsi, hingga Kabupaten/Kota jangan sekali-kali menyentuh ranah kriminal, apalagi narkoba dan korupsi. Itu adalah garis merah yang tidak boleh dilanggar,” tegas Djoni dengan sorot mata tajam pada Rabu (11/2/2026).

Ia menekankan bahwa pelayanan publik hanya bisa berjalan maksimal jika ada sinergi, komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi. Tanpa itu, birokrasi hanyalah mesin tua yang berkarat dan tak berfungsi.

Namun, di balik kritik tajam itu, terselip pesan moral yang dalam. Sebuah pengingat bahwa di balik seragam dan lencana jabatan, ada jiwa yang akan dimintai pertanggungjawaban.

“Ingat! Hidup hanya sekali. Tetaplah berbuat kebaikan, kejujuran, dan kemanusiaan dalam menjalani kehidupan ini,” pungkas Djoni, menutup penjelasannya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button