JATIMSURABAYA

Kakanwil BPJS Ketenagakerjaan Jatim Terapkan Strategi 3C Kejar Target Universal Coverage

Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) BPJS Ketenagakerjaan Jawa Timur yang baru, Irvansyah Utoh Banja didampingi Iwan Ry, Wakil Kepala Wilayah Digitalisasi Human Capital dan Aset resmi memperkenalkan diri, memberikan keterangan pers di Surabaya, Rabu (26/6/2026). Foto: dok.red

SURABAYA, BIDIKNASIONAL.com – Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) BPJS Ketenagakerjaan Jawa Timur yang baru, Irvansyah Utoh Banja, resmi memperkenalkan diri dan membeberkan strategi besar institusinya di Surabaya, Rabu (26/6/2026).

Langkah strategis ini diambil untuk mengejar target Universal Coverage Jamsostek (UCJ), program yang memastikan seluruh pekerja terlindungi oleh jaminan sosial ketenagakerjaan di wilayah Jawa Timur lewat penerapan jargon 3C, yaitu Coverage (Cakupan), Compliance (Kepatuhan/Pelayanan), dan Credibility (Kredibilitas).

Baru satu minggu menjabat, Utoh langsung dihadapkan pada tantangan besar untuk mengejar gap kepesertaan.

Hingga akhir tahun 2026, BPJS Ketenagakerjaan Jatim mematok target kepesertaan sebesar 7.237.923 pekerja. Artinya, BPJS Ketenagakerjaan Jawa Timur harus merangkul sekitar 2,34 juta tenaga kerja baru dari posisi saat ini yang berada di angka 5,2 juta pekerja aktif.

Berdasarkan data per 23 Juni 2026, potensi pekerja wajib lindungi di Jatim mencapai 21 juta orang, yang berarti masih ada 15,7 juta pekerja yang belum memiliki jaminan sosial.

Utoh sapaan lekatnya menegaskan bahwa BPJS Ketenagakerjaan tidak bisa berjalan sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan rumah (PR) besar ini.

Ia mengajak kolaborasi aktif dari seluruh stakeholder, mulai dari pemerintah, pemberi kerja, serikat pekerja, hingga media massa.

Tantangan terberat perluasan kepesertaan ini berada di sektor Pekerja Bukan Penerima Upah (BPU) atau pekerja informal seperti petani, pedagang, dan pengemudi ojek daring.

Berbeda dengan sektor formal (Pekerja Penerima Upah/PU) yang cakupannya sudah mencapai 58% (3,8 juta pekerja), sektor informal di Jatim baru tercakup 522.957 pekerja dari total potensi masif yang mencapai 12 juta orang.

Meski tantangan perluasan pasar sangat besar, kinerja BPJS Ketenagakerjaan Jatim menunjukkan tren pertumbuhan positif Year-on-Year (YoY) per Mei 2026.

Kepesertaan aktif tumbuh 10,4% (tambah 497.000 peserta) yang didominasi pertumbuhan sektor informal sebesar 14%.

Dari sisi finansial, pencapaian iuran (collectible) mencapai Rp3,89 triliun atau tumbuh 7,9% secara tahunan.

Sebagai bentuk pembuktian kredibilitas, BPJS Ketenagakerjaan Jatim telah menggelontorkan dana klaim sebesar Rp3,1 triliun kepada peserta per Mei 2026, naik Rp350,2 miliar (11,9%) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Total klaim tersebut didominasi oleh Jaminan Hari Tua (JHT) sebesar Rp2,5 triliun, disusul Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) Rp241 miliar, Jaminan Kematian (JKM) Rp240,6 miliar, Jaminan Pensiun (JP) Rp109,4 miliar, dan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) Rp27,9 miliar.

Pada bagian akhir, Utoh menggarisbawahi pentingnya edukasi publik untuk meluruskan miskonsepsi merek “BPJS” yang sering kali hanya dikaitkan dengan BPJS Kesehatan.

Pihaknya berkomitmen untuk terus menggencarkan sosialisasi mengenai lima program utama BPJS Ketenagakerjaan agar seluruh pekerja di Jawa Timur memahami hak jaminan sosial mereka. (*/red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button