SPIRITUAL

Dapat Petunjuk Kisah Pribadi Tunggul Ametung Saat Sowan di Petilasannya

■ Catatan Spiritual Mbah Woto

Kiri ke Kanan: Petilasan Tunggul Ametung dan Mbah Woto saat berada di dekat papan petunjuk yang tertulis Makam Akuwu Tunggul Ametung (Foto:ist/BN)

MALANG, BIDIKNASIONAL.com – Berawal saat giat spiritual di kawasan lereng Gunung Penanggungan, di Dusun Biting Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, persisnya saat ziarah Makam Mbah Tunggul Wulung. Kami mendapat petunjuk atau dawuh gaib dari leluhur, agar selanjutnya sowan ke petilasan Tunggul Ametung. Sosok Tunggul Ametung adalah seorang Akuwu (setingkat Adipati/Bupati) Tumapel dalam wilayah kerajaan Kediri. Sepontan Saya bersama seorang murid langsung bersemangat merespon baik atas petunjuk tersebut, dan segera melaksanakan kunjungan ke tempat petilasan leluhur dimaksud.

“Setelah kamu ke sini, selanjutnya sowanlah ke tempat leluhur Tunggul Ametung. Tempatnya tidak jauh dari sini, masih masuk wilayah Singosari “, bunyi petunjuk leluhur yang diterima murid saya saat dawuh gaib berlangsung.Tentunya petunjuk dimaksud segera di tindaklanjuti dengan menelusuri mencari info dan data dengan metode dhohir.Pelacakan lewat media sosial dilakukan akhirnya dapat petunjuk, disebutkan sebuah makam Tunggul Ametung berada di kawasan Perkebunan Teh Wonosari, Kabupaten Malang. Meski disebutkan dalam medsos berupa makam Tunggul Ametung, saya lebih meyakini yang dimaksud adalah petilasan Tunggul Ametung.

Setelah jadwal ditentukan, perjalanan pelacakan ‘Makam’ Tunggul Ametung dilaksanakan.Dari petunjuk media informasi kekinian, lokasinya berada di tengah tengah kebun teh yang sudah menjadi tempat wisata agro wilayah kecamatan Singosari. Karena memasuki lokasi wisata sehingga wajib membayar ongkos loket masuk. Dan tidak meyangka sebelumnya bila lokasi ‘makam’ leluhur Tunggul Ametung itu sulit dijangkau dengan berjalan kaki, melainkan lebih muda naik akomodasi berupa kendaraan roda 4 yang dikhususkan untuk pengunjung yang berminat muter keliling kebun teh.

Menurut info dari seorang security wisata kebun teh, untuk menuju ke tempat ‘makam’ Tunggul Ametung tersebut, disarankan naik transportasi khusus itu lebih mudah dan cepat menjangkau lokasi ‘makam’. Akhirnya setelah naik moda transportasi itu dengan ongkos Rp.350 ribu pergi pulang, memang lebih cepat dan mudah. Sampailah kami di petilasan Tunggul Ametung. Kenapa saya sebut petilasan…?, karena saat ritual kontak gaib di lokasi, kami menerima petunjuk bila tempat yang kami kunjungi tersebut adalah petilasan. Sementara bila ada sedulur lain yang meyakini tempat itu sebuah makam, ya monggo. Memang tempatnya berwujud sebuah makam, tapi bukan makam kuno, melainkan bangunan baru yang menunjukkan bentuk makam. Menurut saya antara makam atau petilasan tidak masalah…, hakekatnya sama.

Yang penting dalam giat spiritual ke petilasan Akuwu Tunggul Ametung tersebut, kami menjadi tahu kisah pribadi Eyang Tunggul Ametung lewat dawuhnya saat sowan di petilasannya. (Suwoto)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button