
NGANJUK, BIDIKNASIONAL.com – Sebuah musibah mendadak dan menyayat hati mengguncang dunia pendidikan di Kabupaten Nganjuk. Seorang guru Geografi di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Prambon, Suaidi, S.Pd., meninggal dunia pada Sabtu (5/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB di RS Muhammadiyah Kediri, setelah mengalami lonjakan tekanan darah yang sangat fatal pasca-terlibat adu mulut dengan siswa.
Semua bermula pada Selasa (1/9/2026), saat jam pembelajaran sedang berlangsung. Almarhum berada di dalam toilet siswa, ketika beberapa siswa yang mengira di dalam adalah teman sebaya, dan menganggap toilet itu khusus untuk siswa menggedor pintu secara bergantian. Kebingungan dan kesalahpahaman pun tak terelakkan.
Waka Humas MAN 3 Prambon, Muhammad Ikhwanus Shofa, S.E., menjelaskan kronologi tersebut, “Sebenarnya yang menggedor pintu tidak hanya satu anak, bahkan lebih, secara bergantian dengan selang waktu berbeda. Mungkin mereka mengira itu temannya yang di dalam. Padahal itu toilet untuk siswa, bukan untuk guru.”
Saat keluar, almarhum merasa terganggu dan langsung menegur siswa tersebut. Suasana memanas, terjadilah adu mulut. Suaidi sempat refleks hendak menjewer sebagai peringatan, namun dihalau oleh siswa tidak ada kontak fisik maupun perkelahian. Namun di saat itulah, Suaidi tiba-tiba terhuyung-huyung, hampir jatuh, dan segera ditolong oleh guru serta murid di tempat kejadian.
Usai kejadian, almarhum duduk di teras gazebo sekolah untuk menenangkan diri, tampak sangat lemas. Ia sempat bercerita kepada rekan sesama guru bahwa niatnya semata-mata hanya untuk memperingatkan murid. Namun tak lama berselang, saat hendak menaiki tangga menuju ruang kelas untuk mengajar, kondisinya jatuh drastis ia muntah-muntah dan tak sanggup melanjutkan aktivitas.
Para guru langsung memberikan pertolongan pertama dan mengevakuasi Suaidi ke Puskesmas Prambon. Karena kondisinya terus menurun, almarhum kemudian dirujuk ke RS Muhammadiyah Kediri. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan angka yang mengerikan: tekanan darah mencapai 240/130 mmHg. Angka yang nyaris mustahil bagi tubuh manusia untuk bertahan.
Pihak sekolah mengungkapkan Suaidi memang memiliki riwayat hipertensi dan stroke. Dari pemeriksaan kesehatan rutin di Puskesmas pada Agustus lalu, tensi almarhum sudah tercatat tinggi 180 mmHg.
Selama empat hari, tim medis berupaya keras menstabilkan kondisi Suaidi. Namun pada Sabtu sore, takdir berkata lain. Pendidik yang telah mengabdi itu menghembuskan napas terakhir, meninggalkan keluarga, rekan sejawat, dan ratusan murid yang kehilangan sosok pendidiknya.
Meski pihak keluarga mengikhlaskan kepergian almarhum sebagai musibah yang tak terelakkan murni akibat kambuhnya penyakit hipertensi aparat kepolisian tetap melakukan penyelidikan secara profesional untuk memastikan seluruh kronologi terungkap jelas.
Kematian Suaidi menjadi tamparan keras bagi semua pihak. Sebuah kesalahpahaman sederhana, seharusnya bisa diselesaikan dengan tenang, justru berujung pada kehilangan nyawa.
“Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua guru, siswa, maupun orang tua. Kesabaran dan pengendalian emosi adalah kunci. Satu kata yang terucap tanpa kendali, bisa berakibat fatal,” ujar seorang rekan guru yang masih tampak berduka.
Semoga kepergian Bapak Suaidi menjadi pengingat: kesehatan dan ketenangan jiwa adalah hal yang paling berharga. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan yang luas. (Agung Mada)



