BOJONEGOROJATIM

Study Tiru Desa Jono, Hj.Haenis: Desa Pangalipuran Kecamatan Bangli Bisa Menjadi Contoh Dan Manfaat Ilmu

Desa Jono Kecamatan Temayang study tiru di Pulau Dewata Bali (dok.foto: pri BN.com)

BOJONEGORO, BIDIKNASIONAL.com – Untuk mewujudkan desa yang sehat, bersih dan nyaman serta berpenghasilan tinggi, Desa Jono Kecamatan Temayang melakukan study tiru ke desa Pangalipuran Kecamatan Bangli Kabupaten Bangli Propinsi Bali.

Untuk diketahui, Desa Pangalipuran merupakan salah satu Desa yang mempunyai PAD sangat tinggi dari hasil wisata yang dikelola dengan baik dan managemet yang luar biasa. Desa Pangalipuran adalah desa terbersih se-Indonesia bahkan tersohor ke seluruh dunia lewat panorama alamnya yang bersih, Indah nan mempesona juga kental akan adat dan istiadatnya.

Kegotong – royongan masyarakatnya merupakan ciri khas yang tidak akan tertandingi serta kedamaian nampak dari kemajemukan masyarakat yang ada di desa tersebut. Bayangkan saja dalam satu hari desa tersebut bisa meraup penghasilan antara seratus juta sampai seratus lima puluh juta ..WOOOW!!.

Sementara, Kepala Desa Jono Kecamatan Temayang, Bu Hj.Haenis panggilan akrabnya di kantor desa setempat menuturkan kepada awak media ini pada (26 /12/2023) bahwa kunjungannya bersama perangkat desa, PKK, Karang Taruna dan BPD ke desa Pangalipuran merupakan sebuah gagasan untuk melihat langsung keadaan desa di sana sekaligus study yang nantinya bisa di implementasikan ke desa Jono.

” Banyaknya sampah yang ada di desa Jono belum teratasi secara maksimal meski sudah banyak tempat sampah yang di sediakan. Semua terbuang sia – sia yang sebenarnya mengandung nilai ekonomis yang luar biasa. Sampah organik bisa dimanfaatkan langsung sebagai pupuk dan sampah plastik mempunyai nilai jual sebagai peghasilan tambahan bagi warganya,” tutur Hj.Haenis.

Di samping itu lanjuynya, di desa Pangalipuran tidak ditemukan secuil sampah karena rakyatnya peduli sekali tentang kebersihan lingkungan. Dengan lingkungan yang bersih akan tercipta suasana yang nyaman dan Asri dengan begitu kesehatan pasti akan selalu terjaga.

” Di sana kaum ibu – ibu setelah bangun tidur pasti kegiatan yang dilakukan adalah memegang sapu untuk membersihkan lingkungannya,” ungkapnya.

Lebih jauh dikatakan,” ada tiga hal pokok yang wajib kita tiru yaitu hubungan dengan sang pencipta alam, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Ini semua harus seimbang dan terjalin dengan bagus. Namun, yang paling penting dan utama adalah sifat saling menghargai satu dengan yang lain termasuk gotong royong yang paling di utamakan,” cetusnya.

” Dengan rasa gotong royong yang ditanamkan maka seberat apapun pekerjaan maka akan cepat terselesaikan dengan cepat dan ringan,” sebut Hj.Haenis menegaskan.

Dipaparkan, Desa Pangalipuran mempunyai dua metode yaitu desa adat dan kelurahan, yang mana desa adat akan dikelola berdasarkan adat dan kelurahan akan dikelola seperti pemerintahan yang ada.

” Dari hasil study ke sana sedikit demi sedikit akan kita terapkan di sini yang utama adalah rasa gotong – royongnya dan terpenting adalah memberikan edukasi tentang pemanfaatan limbah sampah. Ini akan kita sosialisasikan setiap ada pertemuan di desa Jono supaya masyarakat ikut “HANDARBENI” desanya sendiri,” tandasnya.

Di penghujung penjelasan nya, Hj.Haenis mengungkapkan, sebenarnya desa Jono sendiri merupakan desa Wisata dan Budaya, namun itu semua belum ada apa – apanya bila di banding dengan desa yang dikunjungi untuk belajar dan menimba ilmu.

” Semoga rombongan yang kami bawa bisa menjadi contoh serta mau memanfaatkan ilmu yang di dapat dari desa Pangalipuran Bali,” pungkasnya.

Laporan: pri

Editor: Budi Santoso

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button