
Salah satu contoh kebakaran hutan (Foto: ist)
Oleh : Dosen Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jawa Timur : Amalia Rahmadinie, Liana Verawaty, Laurentius Johan Ardian, Irfani Prajnaparamita, Fachrizal Arfani Prawiragara, Fitri Sepviyanti Sumardi
Mahasiswa Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jawa Timur : Fakhirah Nailah Anrofi, Nauval Lazuardi Pratama
SURABAYA, BIDIKNASIONAL.com – PEMBAKARAN hutan, baik secara disengaja maupun karena kelalaian, masih menjadi permasalahan lingkungan serius di Indonesia. Metode ini sering dipilih oleh pelaku usaha perkebunan untuk membuka lahan dengan cara yang cepat dan murah. Sayangnya, praktik ini menimbulkan dampak yang sangat merugikan baik bagi lingkungan maupun masyarakat. Hutan-hutan yang terbakar kehilangan keanekaragaman hayati dan fungsi ekologisnya. Selain itu, hewan-hewan liar kehilangan habitat, dan tanah menjadi rusak karena kehilangan lapisan humus. Dalam jangka panjang, kerusakan hutan memperparah perubahan iklim dan meningkatkan risiko bencana alam. Kebakaran ini juga berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca yang mempercepat pemanasan global. Ironisnya, keuntungan ekonomi dari pembukaan lahan tidak sebanding dengan kerugian ekologis yang ditimbulkan. Pembakaran hutan bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga menyangkut keselamatan manusia dan keberlanjutan pembangunan. Oleh karena itu, isu ini harus menjadi perhatian bersama seluruh pihak, dari pemerintah hingga masyarakat.
Dampak paling nyata dari pembakaran hutan adalah pencemaran udara akibat kabut asap tebal. Asap ini mengandung berbagai partikel berbahaya, seperti PM2.5, karbon monoksida, dan senyawa organik volatil. PM2.5 sangat berbahaya karena dapat masuk ke dalam paru-paru hingga ke aliran darah. Paparan jangka pendek menyebabkan gejala seperti batuk, iritasi mata, tenggorokan gatal, dan sesak napas. Dalam jangka panjang, paparan terus-menerus meningkatkan risiko penyakit kronis seperti asma, bronkitis, penyakit jantung, dan kanker paru-paru. Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan adalah kelompok yang paling rentan. Kabut asap juga menurunkan jarak pandang dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Selain itu, aktivitas luar ruangan seperti sekolah, olahraga, dan kerja lapangan terhambat akibat kualitas udara yang memburuk. Akibatnya, kehidupan sosial dan produktivitas masyarakat sangat terganggu. Asap ini tidak hanya berbahaya secara lokal, tapi juga bisa menyebar lintas provinsi dan bahkan ke negara tetangga.
Musim kebakaran hutan sering kali menjadi mimpi buruk bagi layanan kesehatan di daerah terdampak. Rumah sakit dan klinik mengalami lonjakan pasien yang mengeluhkan gangguan pernapasan. Data dari Kementerian Kesehatan mencatat peningkatan drastis kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di daerah seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Tengah. Dalam beberapa kasus ekstrem, sekolah dan perkantoran terpaksa ditutup untuk melindungi masyarakat dari bahaya asap. Masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap masker atau alat pelindung diri lainnya berada dalam posisi paling rentan. Kondisi ini juga memaksa keluarga dengan anak kecil untuk mengungsi ke wilayah yang lebih aman, menyebabkan gangguan psikososial. Banyak warga merasa tertekan, cemas, dan frustrasi karena kehilangan penghasilan serta terganggunya aktivitas sehari-hari. Perekonomian lokal pun ikut terdampak, terutama bagi sektor informal. Biaya pengobatan meningkat, dan beban pada sistem kesehatan publik semakin berat. Semua ini menunjukkan bahwa dampak kebakaran hutan meluas jauh melampaui sekadar persoalan lahan.
Kerusakan ekologis akibat kebakaran hutan juga mengganggu keseimbangan alam yang selama ini menopang kehidupan manusia. Hutan yang terbakar kehilangan kemampuan menyerap air hujan, membuat tanah menjadi kering dan rentan erosi. Akibatnya, saat musim hujan tiba, wilayah bekas hutan rawan banjir dan longsor. Kebakaran juga melepaskan karbon dioksida dan metana ke atmosfer dalam jumlah besar, mempercepat laju perubahan iklim global. Perubahan iklim yang terjadi berdampak pada ketidakstabilan musim, cuaca ekstrem, dan peningkatan suhu permukaan bumi. Hal ini menyebabkan penurunan hasil pertanian, gangguan terhadap pasokan air, dan kenaikan permukaan laut. Selain itu, banyak spesies tumbuhan dan hewan yang tidak mampu bertahan dan akhirnya punah. Padahal, keanekaragaman hayati sangat penting bagi keseimbangan ekosistem dan ketahanan pangan. Tanpa hutan, siklus air terganggu dan bencana alam menjadi lebih sering terjadi. Oleh karena itu, pembakaran hutan tidak hanya merusak lingkungan lokal, tetapi juga menciptakan krisis iklim berskala global.
Pembakaran hutan juga menghambat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Beberapa SDG yang terdampak langsung antara lain:
SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera): Asap mengancam kesehatan jutaan orang dan meningkatkan beban layanan kesehatan.
SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan): Asap bisa menyebar hingga ke kota-kota besar, menciptakan kualitas udara yang tidak layak huni.
SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim): Kebakaran hutan meningkatkan emisi gas rumah kaca secara signifikan.
SDG 15 (Ekosistem Daratan): Kebakaran menyebabkan degradasi hutan, kepunahan spesies, dan kerusakan habitat.
SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi): Hutan yang rusak mengganggu siklus air dan menurunkan kualitas sumber air. Setiap kali hutan terbakar, peluang Indonesia untuk mencapai target SDG pada 2030 menjadi semakin jauh. Ini menunjukkan bahwa kebakaran hutan bukan hanya persoalan nasional, tapi juga tantangan global. Komitmen terhadap SDG harus diwujudkan melalui tindakan nyata di lapangan. Kolaborasi lintas sektor dibutuhkan agar pembangunan tetap berjalan tanpa merusak alam.
Kabut asap dari pembakaran hutan bahkan menyebar ke negara tetangga, menciptakan konflik diplomatik. Negara-negara seperti Singapura dan Malaysia beberapa kali mengeluhkan penurunan kualitas udara akibat kebakaran di Indonesia. Ini menandakan bahwa dampaknya bersifat lintas batas dan memerlukan kerja sama regional. Di dalam negeri, kota-kota besar seperti Pekanbaru, Palangka Raya, dan Pontianak sering kali diselimuti kabut asap pekat. Akibatnya, kualitas hidup warga kota ikut menurun meskipun mereka tidak berada langsung di sekitar hutan. Sektor pariwisata, pendidikan, dan transportasi juga ikut terganggu akibat bencana asap. Kondisi ini menunjukkan bahwa tidak ada wilayah yang benar-benar aman dari dampak kebakaran hutan. Oleh karena itu, pengendalian kebakaran bukan hanya tugas daerah, tetapi juga tanggung jawab nasional. Semua elemen masyarakat, baik di kota maupun desa, harus ikut serta menjaga kelestarian hutan. Kesadaran bahwa ini masalah bersama perlu ditanamkan sejak dini.
Penanggulangan pembakaran hutan memerlukan pendekatan yang menyeluruh, kolaboratif, dan berkelanjutan. Pemerintah perlu memperkuat regulasi serta menegakkan hukum dengan tegas terhadap pelaku pembakaran. Denda dan hukuman pidana harus diterapkan secara adil agar menimbulkan efek jera. Penggunaan teknologi pemantauan titik api melalui satelit perlu dioptimalkan. Sistem deteksi dini dan pemadam kebakaran hutan harus tersedia hingga tingkat desa. Selain itu, masyarakat lokal perlu diberdayakan melalui program ekonomi alternatif yang tidak merusak hutan. Edukasi tentang dampak kebakaran juga harus ditingkatkan melalui sekolah, media, dan kegiatan masyarakat. Perusahaan besar wajib berkomitmen terhadap praktik produksi berkelanjutan dan transparansi lingkungan. Bantuan internasional dalam bentuk teknologi dan pembiayaan juga perlu dimanfaatkan. Tanpa kerja sama lintas sektor, upaya penanggulangan akan sulit membuahkan hasil nyata.
Pendidikan lingkungan memegang peranan penting dalam mencegah pembakaran hutan sejak dini. Kesadaran harus dibangun mulai dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat umum bahwa hutan adalah aset bersama. Tokoh masyarakat, guru, dan tenaga kesehatan dapat menjadi agen perubahan dalam menyampaikan pesan pelestarian lingkungan. Kampanye publik melalui media sosial, film dokumenter, dan kegiatan komunitas bisa memperkuat kesadaran kolektif. Kurikulum sekolah juga perlu memasukkan materi krisis iklim dan pelestarian hutan secara komprehensif. Generasi muda harus memahami bahwa mereka akan mewarisi dampak dari tindakan hari ini. Fakta bahwa kebakaran hutan terus terjadi menunjukkan adanya kelalaian struktural dan kurangnya tanggung jawab sosial. Oleh sebab itu, perlindungan hutan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Dengan memperkuat pendidikan dan partisipasi publik, kita bisa menciptakan perubahan yang berkelanjutan. Menjaga hutan berarti menjaga hidup kita sendiri dan masa depan generasi mendatang. (adv/*)
Laporan: suwoto
Editor: Budi Santoso



