
Chintia Antariska (Foto: ist)
SURABAYA, BIDIKNASIONAL.com – Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan telah berjalan lebih dari satu dekade. Di balik keberlanjutan program tersebut, terdapat semangat gotong royong yang menjadi landasan utama bagi Chintia Antariska (23), salah seorang peserta dari segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) yang berdomisili di Darmo, Kota Surabaya. Sejak menjadi peserta JKN beberapa tahun lalu, Chintia mengaku selalu membayar iuran rutin setiap bulan, meski tidak pernah menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS) untuk berobat.
“Alhamdulillah saya selalu diberikan kesehatan dan tidak pernah telat dalam membayar iuran. Meskipun saya sempat bertanya-tanya terkait iuran yang telah dibayar itu untuk apa, apa ada manfaatnya jika tidak digunakan, atau uang saya akan hangus begitu saja,” kata Chintia saat ditemui di Surabaya, Rabu (15/10).
Selanjutnya Chintia menjelaskan bahwa ia mulai memahami manfaat penggunaan iuran dalam Program JKN, setelah mencari berbagai informasi dari media sosial BPJS Kesehatan. Chintia mengetahui terkait prinsip gotong-royong, yaitu ketika peserta yang sehat dapat membantu peserta yang sakit melalui pembayaran iuran secara rutin.
“Dari berbagai informasi yang telah saya baca, prinsip gotong-royong ini membuat Program JKN menjadi istimewa. Kita tidak perlu mengenal satu sama lain untuk saling membantu, karena melalui iuran yang telah kita bayar selama ini sudah dapat membantu jutaan peserta JKN di seluruh Indonesia,” ungkap Chintia.
Selain itu Chintia juga menambahkan informasi lain yang telah ia dapatkan, yakni terkait biaya tindakan operasi jantung sebesar Rp150 juta yang ditanggung seluruhnya oleh Program JKN. Sekitar 4.200 peserta JKN di kelas 3 dapat menanggung biaya operasi tersebut, sehingga setiap peserta hanya berkontribusi sekitar Rp35.700.
“Saya tidak menyangka bahwa manfaatnya luar biasa. Bayangkan saja dengan biaya iuran yang terjangkau, ternyata dapat menolong orang lain dalam menjalani operasi jantung,” tambah Chintia dengan mata berbinar.
Semenjak memahami makna gotong royong itu, Chintia merasa bersyukur dan bangga karena dirinya dapat memberikan manfaat yang besar kepada orang lain. Ia pun semakin semangat dalam membayar iuran setiap bulan serta berharap kesadaran semacam ini dimiliki oleh semua peserta JKN.
“Program JKN merupakan hal yang sangat penting, mengingat tingginya biaya pelayanan kesehatan yang terus meningkat. Program ini bukan hanya soal siapa yang menggunakan atau tidak, tetapi tentang menjaga solidaritas dan menjamin setiap orang mendapatkan hak yang sama untuk layanan kesehatan,” tegas Chintia.
Kemudian Chintia menyatakan bahwa dirinya mendapatkan rasa aman dengan menjadi peserta JKN. Ia tidak lagi khawatir jika sewaktu-waktu dirinya sakit parah dan membutuhkan biaya besar, karena semua bisa ditanggung oleh Program JKN selama menaati peraturan yang berlaku.
“Memang sejauh ini saya baik-baik saja, namun tidak ada yang tahu bagaimana kedepannya terutama ketika saya sudah tua dan tidak dapat bekerja lagi. Mungkin pada saat itu giliran saya yang dibantu,” ujar Chintia.
Tak lupa Chintia mengimbau kepada masyarakat untuk tidak menunda atau menunggak dalam hal membayar iuran, karena dampaknya dapat merugikan diri sendiri dan sistem gotong royong secara keseluruhan. Ia berharap masyarakat terus menerapkan prinsip gotong royong dengan penuh semangat agar program ini terus berjalan.
“Yuk kita sama-sama menjaga Program JKN ini dengan membayar iuran rutin maksimal di tanggal 10 setiap bulannya. Hal ini bukan hanya untuk menjaga diri kita saja, tetapi untuk memberi manfaat kepada orang lain,” tutur Chintia.
Prinsip gotong royong telah menjadi penyangga penting dalam Program JKN. Melalui kontribusi seluruh peserta, baik yang sehat maupun yang sedang sakit, JKN dapat menjadi solusi perlindungan kesehatan yang adil bagi seluruh rakyat Indonesia. (rn/vn/red)



