JATIM

Penanggulangan Reproduksi Pada Ternak Sapi

JOMBANG, JATIM, BN – Untuk mem-percepat pencapaian swasembada daging sapi dan kerbau pada peningkatan populasi sejak  tahun 2017, Kementrian Pertanian melun-curkan Progam UPSUS SIWAB (Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting).

Progam ini bertujuan untuk mengak-selerasikan percepatan target pemenuhan populasi sapi potong dalam negeri yang di tuangkan dalam Peraturan Menteri Pertanian No. 48/Permentan/PK12/102016 tentang Upaya Khusus Percepatan Pening-katan Populasi Sapi dan Kerbau bunting.

Progam ini merupakan komitmen pemerin-tah dalam mewujudkan swasembada da-ging sapi yang ditargetkan tercapai pada 2026 dan mewujudkan Indonesia mandiri pemenuhan pangan asal hewan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat.

Progran utama UPSUS SIWAB yaitu memak-simalkan potensi potensi sapi indukan di dalam negeri untuk dapat menghasilkan pedet melalui Inseminasi Buatan (IB).

Dilakukan dengan penerapan systim manegemen reproduksi yang meliputi :  pemeriksaan status reproduksi dan gang-guan reproduksi, pelayanan IB dan kawin alam, pemenuhan semen beku dan N2 cair, pengendalihan betina produktif dan pemenuhan hijauan pakan ternak dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya peternak untuk mencapai kebuntingan nasional sejumlah 3 juta ekor dari akseptor sapi/kerbau tahun 2018.

Di Kabupaten Jombang alokasi taget ke-giatan UPSUS SIWAB tahun 2018 yaitu :  penanggulangan gangguan reproduksi seju-mlah 4.000 ekor, IB mencapai 26.000 ekor, target kelahiran 21. 060 ekor.

Penanganan gangguan reproduksi dilakukan pada sapi betina. Diharapkan hasil pena-nganan gangguan reproduksi, ternak dapat kembali normal, sehingga menghadilkan kebuntingan dan kelahiran pedet untuk menambah populasi.

Penanggulangan gangguan reproduksi di Kabupaten Jombang di bawah kendali dan kordinasi Balai Besar Vateriner Wates Yogyakarta.

Kepala Dinas Peternakan Jombang menga-takan. “Tujuan terlaksananya kegiatan penanganan gangguan reproduksi sapi dan kerbau, gangguan reproduksi siap dilakukan Inseminasi Buatan (IB), meningkatksm sejumlah kwalitas sapi dan kerbau betina produktif akseptor IB membantu meng-optimalkan inseminasi buatan mendukung untuk progam UPSUS SIWAB, sehingga menghasilkan kebuntingan, kelahiran pedet dan populasi produktifitas ternak meni-ngkat,” ujarnya.

Kriteria pemilihan ternak program ini, menurutnya yaitu ternak yang memiliki Bodi Condition Score (BCS – 2) atau kondisi tidak kurus mengalami atau lebih gang-guan/gejala berikut: ternak yang telah IB lebih dari 2x tidak bunting (kawin berulang), ternak keguguran/abortus/melahirkan pre-mature/anak mati. Ternak yang mengalami prolapsus uteri, ternak yang mengalami birahi tenang/silent heat/siklus estrus abnormal, estrus yang tidak teramati 50 hari post partus ternak yang mengalami retensi plasenta adanya duscarge abnormal keluar dari vulva.

Penanggulangan gangguan tersebut dilak-sanakan dua tahap: periksaan/ pengobatan (lanjutan) dan pemantauan.

Kegiatan tersebut untuk penanggulangan reproduksi tahap I dilaksanakan untuk 4.000 ekor, terdiri dari tim yang di bentuk : dokter hewan, asusten dokter hewan, petugas pemeriksa bunting, IB, dan rekorder data.

Pada kegiatan di mulai tanggal 2 April-19 Mei di 16 kecamatan dan 92 desa.Tahapan pengobatan akseptor sapi mengalami gangguan reproduksi nendaoatkan pengo-batan vitamin ADE meningkatkan fungsi organ reproduksi. Selanjutnya pemberian obat cacing dan mineralpremix (suplemen multi vitamin), mineral nafsu makan.

Sedangkan untuk obat-obatan lain, hor-monal, antibiotik, vitamin ATP dan antiseptik sesuai penyakit reproduksi didiagnosa.

Penanggulangan gangguan reproduksi di laksanakan secara manual dan online (portal ISKHNAS), pelaporan langsung terhubung (online) dengan sistem pelaporan terintegrasi dalam informasi sistem kese-hatan nasional Kementrian Pertanian. Selanjutnya gangguan reproduksi dilanju-tkan pada tahap II di berikutnya. (Tok)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button