Dua Perguruan Pecak Silat Di Perbatasan RI-RDTL Lakukan Sumpah Adat Dengan Minum Darah Mentah Kerbau


ATAMBUA, NTT, BN – Sumpah adat dengan minum darah mentah sangat sakral dan apabila dikemudian hari ada yang melanggar maka taruhannya adalah nyawa. Hal ini dilakukan oleh pemerintah daerah bersama Forpimda Plus Kabupaten Belu perbatasan RI-RDTL dalam mewujudkankan Kamtibmas yang aman, damai dan kondusif.
Acara sumpah adat dengan minum darah mentah bersama oleh dua perguruan pencak silat PSHT Cabang Belu dan IKS-PI Kera Sakti cabang Belu dilakukan di lapangan umum simpang lima Atambua Belu NTT sabtu, 18/5/2019.
Sumpah adat itu ditandai dengan meminum darah mentah campuran dari tiga jenis binatang, yakni darah kerbau jantan, darah kambing jantan dan darah babi jantan. Darah ketiga binatang itu kemudian dicampur lagi dengan miras beralkohol dan air cuci tangan yang dianggap simbol darah manusia dari kedua perguruan yang selama ini berseteru di wilayah Kabupaten Belu yang selalu meresahkan masyarakat.
Selanjutnya campuran darah dan air itu disatukan dalam satu wadah berupa gelas lalu diminum sedikit demi sedikit secara bergilir oleh seluruh anggota perguruan PSHT dan IKS-PI yang hadir saat itu.
Darah kambing diambil dengan cara menusukkan bambu suling runcing dari lubang anus. Sedangkan darah kerbau dan babi diambil dari penyembelihan biasa.
Sumpah adat dengan minum darah mentah binatang mempunyai makna yang sangat sakral sehingga oknum- oknum dalam dua perguruan silat itu tidak lagi membuat keonaran dan keresahan yang selalu mengganggu stabilitas keamanan masyarakat di Kabupaten Belu selama ini.

Acara sumpah adat ini terselenggara atas kerja sama pemerintah daerah, Kodim 1605, Polres, Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Forum Pembauran Kebangsaan, tokoh agama, tokoh pemuda dan tokoh masyarakat Kabupaten Belu.
Ketua PSHT Cabang Belu, Ruben Tavarez dalam sambutannya menuturkan bahwa moment ini sangat bersejarah bagi semua organisasi bela diri di wilayah pemerintahan daerah Kabupaten Belu, khususnya PSHT dan IKS-PI.
Kedua organisasi ini, diketahui oleh khalayak sebagai organisasi yang selalu berbuat onar dan keributan di tengah masyarakat. Setiap masalah yang timbul itu, sebagai ulah dari oknum- oknum anggota kedua organisasi tersebut.
“Organisasi apa pun pasti selalu mengajarkan kebaikan, dharma, etika dan sopan santun, serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,” tuturnya.
Tavarez selaku ketua PSHT cabang Belu bersama segenap anggotanya menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya kepada pemerintah, TNI, POLRI dan seluruh masyarakat kabupaten Belu, apabila selama ini perbuatan oknum- oknum tertentu dari organisasi PSHT telah meresahkan dan menciptakan suasana tidak nyaman bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Saya mengucapkan limpah terima kasih kepada Bupati dan Wakil Bupati Belu bersama jajaran pemerintah daerah, Kapolres bersama jajaran, Dandim 1605 bersama jajaran, para tokoh agama dan tokoh masyarakat, unsur forkopimda plus, tokoh adat yang telah berupaya selenggarakan kegiatan sumpah adat ini.
Tavares menghimbau kepada seluruh anggota PSHT untuk bisa menahan diri serta membuang rasa ego masing- masing demi memelihara martabat organisasi PSHT.
“Prinsip organisasi PSHT itu, NKRI harga mati; Pancasila dan Undang- Undang adalah landasan; Musuh Negara adalah musuh PSHT juga (terorisme, narkoba, makar, kelompok separatis); oleh karena itu, kami siap membantu pemerintah daerah, Polri, TNI dan masyarakat kapan saja apabila dibutuhkan,” imbuhnya.
Tavares juga dengan tegas menandaskan bahwa apabila ke depannya masih ada masalah atau ada pihak- pihak tertentu yang masih ingin memprovokasi dan melakukan tindakan pidana, maka segera laporkan kepada pengurus cabang atau langsung kepada pihak keamanan dalam hal ini TNI dan Polri, pungkasnya.
Sementara pada kesempatan yang sama Ketua IKS-PI Cabang Belu, Alfonzo Maya dalam sambutannya menyampaikan bahwa PSHT dan IKS-PI itu sesungguhnya sama, yakni pesilat Indonesia. Perbedaannya adalah hanyalah nama perguruan. Satu hal yang harus dibanggakan adalah prestasi. Olahraga itu untuk membentuk fisik yang kuat agar bisa berlaga dalam event-event baik di tingkat Kabupaten, Propinsi, Nasional dan Internasional.
“Saya mengajak agar semua anggota kedua perguruan ini untuk bersatu karena PSHT dan IKS-PI itu satu dalam persudaraan,” ujarnya.
Maya juga berharap agar pemerintah daerah melibatkan kedua perguruan itu dalam pesta olahraga agar bisa dinilai.
“Ini momentum bersejarah bagi kita semua. Jadi kita ini sebagai generasi penerus, pejuang Indonesia. Belu sahabat yang saling berpelukan. Ingat, kita jangan melanggar apa yang sudah ditandatangani. Kita ditertibkan oleh pemerintah dan aparat yang berwajib,” tegasnya.
Bupati Belu, Wilibrodus Lay dalam sambutannya mengatakan bahwa Belu itu artinya sahabat. Lay berharap lapangan umum yang menjadi tempat silaturahmi itu menjadi tempat sahabat. Tempat bukan untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar.
“Saya sebagai pemimpin wilayah Kabupaten Belu mengajak seluruh masyarakat untuk membangun Belu dengan satu kata, yaitu cinta kasih,” ujarnya.
Lay berharap agar di bulan suci ramadhan bagi umat muslim ini untuk bersilaturahmi dalam satu tekad, satu perdamaian adat sehingga tidak lagi meneteskan air mata karena kesalah pahaman.
“Saya percaya dan berharap bahwa pada kesempatan ini semua orang yang mengucapkan kata bisa untuk bersilaturahmi, pasti bisa juga untuk membuat persahabatan bersama atas dasar kepercayaan diri, solidaritas dan harga diri, dan ini komit kita bersama yang harus dipertahankan untuk selama- lamanya,” harapnya.
Persahabatan adalah satu kata kunci untuk kita hidup bersama dalam persaudaraan di kabupaten Belu.
“Kita harus ingat bahwa Belu itu artinya sahabat. Bersahabat ini, satu kata yang menggembirakan sekaligus menjadi satu siraman yang menyejukkan bagi kita semua,karena damai itu indah,” pintahnya.
Sementara Kapolres Belu, AKBP. Christian Tobing ketika diwawancarai wartawan BN, NTT di sela- sela kegiatan acara perdamaian sumpah adat oleh kedua perguruan itu mengatakan bahwa pada prinsipnya acara silaturahmi ini digelar selain untuk mengumpulkan perguruan silat di Kabupaten Belu, juga untuk memberi pengertian kepada seluruh anggota pesilat, dalam rangka menciptakan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif.
“Saya berharap agar para pesilat dari kedua perguruan ini dapat menghindari hal- hal yang mengarah kepada perkara pidana atau kejahatan dan harus lebih banyak saling berinteraksi, saling berdamai di antara para pesilat karena kita adalah sahabat dan saudara,” harapnya.
Terkait dengan sumpah adat minum darah mentah Christian juga menghimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Belu, khususnya bagi kaum generasi muda agar dalam mengikuti latihan bela diri harus bisa kendalikan emosi untuk tingkatkan prestai di bidang olah raga.
“Saya menghimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Belu khususnya bagi kaum generasi muda pesilat, agar dalam mengikuti latihan bela diri agar bisa sedapat mungkin kendalikan emosi untuk tingkatkan prestasi di bidang olahraga. Jangan mengarah kepada hal- hal kriminal, pengerahan massa, kemudian kehormatan kepada organisasi yang berlebihan. Jadi, intinya mereka bisa saling membaur satu sama lain di antara seluruh anggota perguruan silat di Belu ini,” pintahnya.
Turut hadir dalam acara tersebut, Wakil Bupati Belu, J.T Ose Luan, Kapolres Belu, AKBP Christian Tobing, Dandim 1605 Belu, Letkol (Inf) Ari Dwi Nugroho, Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Benny Manek, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama dan tokoh pemuda kabupaten Belu dan insan pers. (anis ikun/jati).



