
Aksi bersih-bersih para relawan di Sungai Sukodono, Sidoarjo. (Foto: Teddy Syah/Bidiknasional)
SIDOARJO, BIDIKNASIONAL.com – Suasana berbeda tampak di sejumlah sungai wilayah Kecamatan Sukodono, Sidoarjo, Kamis (5/6). Ratusan relawan lingkungan turun langsung membersihkan sampah di bantaran sungai dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Aksi bersih-bersih ini tidak hanya melibatkan komunitas pecinta lingkungan, tetapi juga didukung penuh oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo. Tim gabungan menyusuri aliran sungai sambil memungut sampah plastik yang berserakan.
Selain membersihkan sungai, para relawan juga mengedukasi warga sekitar tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Dialog ringan dilakukan dari rumah ke rumah, sembari membagikan selebaran dan mengajak anak-anak berpartisipasi sebagai bentuk edukasi sejak dini.
Kepala DLHK Sidoarjo, Bahrul Amig, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya simbolik. Menurutnya, gerakan tersebut bertujuan untuk membangun kesadaran kolektif bahwa sungai adalah sumber kehidupan yang harus dijaga bersama.
“Ini bukan sekadar bersih-bersih. Kami ingin memantik kesadaran bahwa sungai bukan tempat buang limbah,” ujar Amig di lokasi kegiatan.

DLHK juga menerjunkan mobil laboratorium untuk memantau kualitas air sungai. Tim melakukan pengambilan sampel di sejumlah titik yang telah dipetakan sebelumnya untuk mengukur kadar pencemaran seperti BOD, COD, serta zat berbahaya lainnya.
“Tujuannya jelas, kami ingin tahu sejauh mana mutu air ini masih aman atau justru telah melampaui ambang batas pencemaran yang ditetapkan pemerintah pusat,” lanjutnya.
Dalam kesempatan yang sama, kerja bakti juga digelar serentak di seluruh kantor pemerintahan dan sekolah. Amig menekankan bahwa Hari Lingkungan Hidup tahun ini harus menjadi momentum membangun gerakan bersama, bukan sekadar seremoni.
DLHK mencatat bahwa peningkatan aktivitas ekonomi, terutama di kalangan masyarakat menengah ke bawah, berdampak pada bertambahnya volume sampah rumah tangga dan limbah plastik. Oleh karena itu, pendekatan kolaboratif dianggap penting agar dampaknya tidak merusak lingkungan secara permanen.
Salah satu relawan, Agus Setiawan (28), mengaku senang bisa terlibat langsung. “Ini baru awal. Harapannya, gerakan seperti ini bisa rutin digelar, bukan hanya pas Hari Lingkungan Hidup saja,” pungkasnya.
Laporan : Teddy Syah Roni



