JATIMSURABAYA

Letusan Gunung Kelud : Ancaman Kesehatan dan Urgensi Pembangunan Berkelanjutan

Salah satu contoh letusan gunung berapi (Foto: ist)

Oleh : Dosen Fakultas Kedokteran, UPN Veteran Jawa Timur : Laksmi Suci Handini, Hadi Susanto, Prita Aulia Nastaghfiruka, Hilmia Fahma, Wayan Dhea Agastya, Endang Susanti Warasanti

Mahasiswa Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jawa Timur : Jordan Melias Kembaren, Aura Cinta Jihada,

SURABAYA, BIDIKNASIONAL.com – LETUSAN GUNUNG KELUD baru-baru ini kembali menunjukkan betapa besar ancaman geologis di wilayah Indonesia. Gunung ini, yang terletak di antara Kabupaten Kediri, Blitar, dan Malang, memuntahkan material vulkanik dalam jumlah besar. Abu menyebar luas ke berbagai daerah, menimbulkan dampak serius pada kehidupan warga, terutama di bidang kesehatan. Lingkungan menjadi tercemar, udara penuh debu, dan aktivitas masyarakat terganggu. Banyak fasilitas umum seperti sekolah dan perkantoran harus tutup demi keamanan. Jadwal penerbangan pun terganggu karena jarak pandang yang rendah akibat abu pekat. Tak sedikit warga mengalami gangguan pernapasan karena terpapar partikel abu yang tajam. Pemerintah menetapkan status darurat dan memindahkan ribuan penduduk dari kawasan berisiko. Situasi ini menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi letusan gunung berapi.

Dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh letusan sangat membahayakan, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan. Debu vulkanik yang terhirup bisa menimbulkan gangguan saluran napas, termasuk iritasi dan infeksi seperti bronkitis. Dalam jangka panjang, debu tersebut bisa memperparah penyakit paru-paru kronis yang sudah ada sebelumnya. Rumah sakit di daerah terdampak mencatat peningkatan tajam pasien dengan keluhan napas. Distribusi masker dilakukan secara besar-besaran, namun distribusinya belum merata. Selain gangguan pernapasan, iritasi pada kulit dan mata juga kerap dilaporkan warga. Sumber air bersih menjadi tercemar akibat hujan abu, sehingga menambah risiko diare dan penyakit kulit. Di pengungsian, kurangnya fasilitas kesehatan memperparah situasi. Karena itu, mobilisasi tenaga medis menjadi langkah penting dalam merespons keadaan darurat.

Letusan Kelud menunjukkan hubungan langsung antara bencana alam dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-3 dan ke-13. SDG 3 menekankan pentingnya menjamin kehidupan sehat dan meningkatkan kesejahteraan untuk semua usia. Sementara itu, SDG 13 menekankan upaya menghadapi perubahan iklim serta mitigasi bencana. Kecepatan dan ketepatan dalam menangani bencana menjadi kunci meminimalkan korban dan kerugian. Pemerintah bersama masyarakat perlu bekerja sama untuk memperkuat kapasitas kesiapsiagaan. Edukasi publik dan latihan evakuasi perlu dilakukan secara berkala di daerah rawan bencana. Infrastruktur harus didesain agar mampu bertahan terhadap dampak letusan. Pendekatan pembangunan yang tangguh terhadap bencana akan melindungi lebih banyak jiwa. Letusan Kelud menjadi peringatan bahwa pembangunan tidak boleh mengabaikan aspek risiko bencana.

Dampak erupsi bagi masyarakat terlihat dari berbagai sisi, antara lain:

Terjadinya gangguan saluran pernapasan akibat abu.

Infeksi mata dan iritasi kulit karena kontak dengan partikel halus.

Kesulitan mendapat air bersih karena pencemaran sumber air.

Terhentinya kegiatan belajar dan bekerja.

Rasa cemas yang meningkat karena kurangnya informasi.

Keterbatasan logistik kesehatan dan pangan di tempat pengungsian.

Risiko kematian lebih tinggi bagi bayi dan lansia.

Kerusakan pada rumah dan lahan warga.

Masalah dalam pendistribusian bantuan yang tidak merata.

Peningkatan kemampuan penanganan bencana di kawasan rawan letusan menjadi keharusan. Sistem deteksi dini harus dikembangkan agar masyarakat dapat mengungsi lebih cepat dan aman. Logistik seperti obat-obatan, air bersih, dan makanan pokok perlu disiapkan secara berkelanjutan. Pemerintah daerah harus meningkatkan koordinasi lintas sektor agar penanganan lebih terorganisir. Peran relawan lokal sangat membantu dalam mempercepat proses evakuasi dan distribusi bantuan. Kolaborasi dengan lembaga luar negeri juga diperlukan untuk memperkuat dukungan. Media memiliki tanggung jawab dalam menyampaikan informasi yang akurat kepada publik. Fase rehabilitasi setelah bencana harus berorientasi pada kebutuhan warga. Komitmen terhadap pembangunan inklusif dan tangguh dapat mengurangi risiko serupa di masa depan. Pendekatan holistik menjadi kunci dalam memulihkan wilayah terdampak secara menyeluruh.

Dampak psikologis dari bencana juga sangat penting untuk diperhatikan dalam penanganan jangka panjang. Banyak warga mengalami trauma karena kehilangan tempat tinggal atau anggota keluarga. Anak-anak kehilangan rasa aman dan akses terhadap pendidikan. Orang dewasa merasa stres akibat tidak adanya kepastian penghasilan. Dukungan psikologis perlu diberikan kepada seluruh kelompok umur di pengungsian. Kegiatan konseling kelompok dan pendampingan keagamaan bisa mempercepat pemulihan mental. Aspek mental ini sering kali terabaikan dalam upaya pemulihan pascabencana. Padahal, keberhasilan rehabilitasi juga bergantung pada stabilitas psikososial masyarakat. Pembangunan berkelanjutan mencakup upaya menyembuhkan luka fisik maupun batin. Letusan ini menyadarkan bahwa manusia sangat rentan terhadap dinamika alam.

Setelah letusan usai, tahap pembangunan kembali memerlukan pendekatan yang matang dan inklusif. Infrastruktur yang dibangun kembali harus memperhitungkan potensi bencana ke depan. Partisipasi masyarakat lokal penting agar proses rekonstruksi benar-benar menjawab kebutuhan mereka. Lokasi relokasi harus memberi akses pada layanan dasar dan lapangan kerja. Pendanaan harus dikelola transparan dan tepat sasaran agar tidak menimbulkan ketimpangan baru. Pemantauan aktivitas gunung api perlu ditingkatkan melalui teknologi modern. Institusi pendidikan dan riset dapat terlibat aktif dalam mengembangkan inovasi mitigasi bencana. Pemulihan yang hanya berorientasi pada fisik tidak cukup, harus ada sistem sosial yang diperkuat juga. Ini adalah kesempatan untuk membangun kembali dengan cara yang lebih bijak dan adaptif. Prinsip SDGs akan tercapai jika semua aspek pemulihan dilandaskan pada keadilan dan keberlanjutan.

Letusan Gunung Kelud menjadi ujian serius bagi sistem kebencanaan nasional. Kita diingatkan bahwa pembangunan tanpa perlindungan lingkungan dan manusia bisa menimbulkan krisis. Ketahanan masyarakat harus menjadi bagian dari kebijakan pembangunan daerah. Semua pihak—pemerintah, swasta, dan komunitas—perlu bersinergi mewujudkan ketangguhan. Tujuan SDG 3, 6, dan 13 adalah panduan dalam membangun sistem yang lebih kuat dan tangguh. Ketika kesehatan terjaga, lingkungan terlindungi, dan mitigasi bencana dijalankan, kesejahteraan jangka panjang lebih mudah tercapai. Letusan ini bukan hanya tragedi, tetapi momen untuk berbenah. Dari sini kita bisa belajar pentingnya solidaritas dan kesiapsiagaan. Indonesia dapat bangkit lebih kuat dengan komitmen yang nyata. Masa depan akan lebih aman jika pembangunan berpihak pada manusia dan alam. (adv/*)

Laporan: suwoto

Editor: Budi Santoso

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button