OPINI

Jas Merah: Jejak Waktu dan Sejarah Perkebunan PT. Socfindo di Aceh Singkil

Penulis : Razaliardi Manik, Direktur Pusat Hukum & Keadilan Aceh Singkil, Desa Kampung Baru Kecamatan Singkil Utara

ACEH SINGKIL, BIDIKNASIONAL.com -Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah (Jas Merah), bukan sekedar semboyan, yang pernah digaungkan oleh Soekarno. melainkan sebuah peringatan moral, yang terus relevan dalam membaca jejak perjalanan daerah. termasuk sejarah panjang, perkebunan PT. Socfindo di Aceh Singkil.

Perkebunan bukan hanya soal bidang kelapa sawit atau tanaman industri lainnya, tetapi juga menyimpan lapisan sejarah yang kompleks tentang kolonialisme, tenaga kerja, perubahan sosial, hingga dinamika ekonomi lokal.

Kehadiran PT. Socfindo, yang dihapus sejak masa kolonial Belanda di Rimo, menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan wilayah Aceh Singkil. Seiring berjalannya waktu, perusahaan ini telah menjadi salah satu penggerak perekonomian masyarakat. ribuan warga menggantungkan hidup dari sektor perkebunan, baik sebagai pekerja, mitra, maupun pelaku usaha pendukung.

Namun di balik kontribusi tersebut, sejarah juga mencatat adanya berbagai dinamika ketimpangan penguasaan lahan, konflik agraria, serta perubahan struktur sosial masyarakat setempat.

Desa Rimo dan wilayah sekitarnya, jejak itu masih terasa hingga kini. Generasi terdahulu menyaksikan bagaimana tanah-tanah yang dulunya merupakan ruang hidup masyarakat adat perlahan berubah fungsi menjadi areal konsesi perkebunan.

Proses ini tidak selalu berjalan mulus, Ada cerita tentang negosiasi, ada pula yang menyisakan luka sosial yang belum pulih sepenuhnya. Bukan berarti saya berpihak sama PT. Socfindo.

Dalam perspektif sejarah, keberadaan PT. Socfindo juga tidak bisa lepas dari sistem ekonomi kolonial, yang menempatkan wilayah-wilayah di Sumatera sebagai basis produksi komoditas ekspor.

Sistem warisan tersebut, dalam banyak hal, masih mempengaruhi pola hubungan antara perusahaan dan masyarakat hingga hari ini.

Namun demikian, sejarah tidak hanya untuk dikenang sebagai catatan masa lalu, melainkan juga sebagai cermin untuk menata masa depan.

Semangat “Jas Merah” mengajak kita untuk tidak melupakan akar sejarah, agar setiap kebijakan dan langkah pembangunan ke depan lebih berpihak pada keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat lokal.

Kini, di tengah tuntutan zaman yang semakin kompleks, mulai dari isu keberlanjutan lingkungan hingga hak-hak masyarakat, perlu ada refleksi bersama.

Bagaimana perusahaan, pemerintah dan masyarakat dapat membangun hubungan yang lebih setara? Bagaimana sejarah yang pernah ada menjadi pelajaran berharga untuk menciptakan tata kelola perkebunan yang adil dan berkelanjutan? Aceh Singkil bukan sekedar wilayah produksi, melainkan ruang hidup yang memiliki nilai sejarah, budaya dan identitas masyarakatnya. Oleh karena itu, memahami perjalanan PT. Socfindo di daerah ini adalah bagian dari upaya merawat ingatan kolektif sekaligus memperjuangkan masa depan yang lebih baik.

Ibarat pesan Sukarno, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah,” maka sudah sepatutnya kita menjadikan sejarah sebagai landasan untuk membangun kesejahteraan, bukan hanya bagi hari ini, tetapi juga bagi generasi yang akan datang.

Aceh Singkil, Jumat (3/4/2026).

ISI NASKAH TANGGUNGJAWAB PENULIS

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button