Abdillah Nasih: PSEL Menarik, Tapi Harus Dibarengi Perencanaan


SIDOARJO, BIDIKNASIONAL.com – Persoalan sampah di Kabupaten Sidoarjo terus menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Di tengah meningkatnya volume sampah setiap hari, berbagai langkah strategis mulai disiapkan untuk menciptakan sistem pengelolaan yang lebih modern, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.
Salah satu upaya yang kini mulai dimatangkan adalah rencana pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL). Program tersebut dinilai dapat menjadi solusi jangka panjang dalam mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sekaligus menghasilkan energi listrik dari pengolahan sampah.
Komitmen tersebut disampaikan Ketua DPRD Sidoarjo, Abdillah Nasih saat melakukan kunjungan ke kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Sidoarjo, Rabu (1/5/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Abdillah Nasih menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak bisa dilakukan secara instan. Menurutnya, dibutuhkan perencanaan matang dan keterlibatan banyak pihak agar program yang dijalankan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia menilai, kehadiran PSEL memang membuka peluang baru bagi Kabupaten Sidoarjo dalam menangani persoalan sampah yang selama ini menjadi tantangan besar. Namun demikian, seluruh tahapan harus dirancang secara terukur agar tidak menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.
“PSEL ini menarik sekali, tapi kita perlu duduk bersama untuk merencanakan semuanya,” ujar Nasih.
Politikus PKB yang kini memimpin lembaga legislatif di Kota Delta itu menekankan pentingnya penyusunan master plan pengolahan sampah yang komprehensif. Menurutnya, dokumen tersebut tidak hanya menjadi rencana teknis, tetapi juga peta jalan pengelolaan sampah jangka panjang di Kabupaten Sidoarjo.

Nasih menjelaskan, master plan diperlukan untuk menghitung secara detail jumlah produksi sampah harian, kebutuhan anggaran, kesiapan infrastruktur, hingga mekanisme pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga sampai ke TPA.
Selain itu, Nasih juga mengingatkan agar program PSEL nantinya tidak mematikan program pengurangan sampah yang telah berjalan di tingkat Tempat Penampungan Sementara (TPS). Selama ini, sejumlah TPS di Sidoarjo telah menjalankan konsep zero waste dengan memilah dan mengolah sampah sebelum dibuang ke TPA.
Menurutnya, konsep tersebut tetap harus dipertahankan karena memiliki manfaat besar dalam mengurangi volume sampah sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan.
“Kalau semua terukur sejak awal, kita bisa melihat manfaat nyatanya, bukan hanya untuk pemerintah, tapi juga untuk masyarakat dan lingkungan,” tuturnya.
Nasih menilai persoalan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah semata. Kesadaran masyarakat dalam memilah dan mengurangi sampah dari sumbernya juga sangat menentukan keberhasilan program pengelolaan lingkungan.
Karena itu, ia berharap seluruh elemen masyarakat dapat dilibatkan dalam penyusunan kebijakan pengelolaan sampah, termasuk kalangan akademisi, pelaku usaha, komunitas lingkungan, hingga pemerintah desa dan kecamatan.
“Dengan kolaborasi yang kuat, kami optimistis Sidoarjo mampu memiliki sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan di masa mendatang,” imbuhnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLHK Sidoarjo, Arif Mulyono menjelaskan bahwa rencana pembangunan PSEL menjadi salah satu solusi untuk mengurangi beban TPA Jabon yang saat ini kondisinya semakin penuh.
Menurutnya, volume sampah yang masuk ke TPA Jabon setiap hari terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan aktivitas masyarakat. Bahkan, saat ini ketinggian tumpukan sampah di lokasi tersebut telah mencapai sekitar 20 meter.
Kondisi itu, kata dia, tentu menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena kapasitas TPA memiliki keterbatasan. Apabila tidak segera dilakukan langkah strategis, maka usia operasional TPA Jabon diperkirakan tidak akan mampu bertahan lama.
“Ini salah satu cara untuk menjaga lingkungan kita tetap nyaman,” ungkap Arif.
Arif menjelaskan, melalui program PSEL nantinya sebagian sampah akan dikirim untuk diolah menjadi energi listrik. Dalam tahap awal, direncanakan sekitar 150 ton sampah per hari akan dikelola melalui skema tersebut.
Dengan pengurangan volume sampah yang masuk ke TPA Jabon, masa pakai lokasi pembuangan akhir itu diharapkan dapat lebih panjang sehingga pemerintah memiliki waktu lebih luas untuk menyiapkan solusi lanjutan.
Selain membantu mengurangi beban TPA, keberadaan PSEL juga dinilai dapat memberikan nilai tambah dari sisi energi terbarukan. Sampah yang selama ini hanya dianggap limbah dapat diubah menjadi sumber energi yang memiliki manfaat ekonomi.
Namun demikian, Arif mengakui bahwa pelaksanaan program tersebut masih membutuhkan berbagai persiapan teknis dan administratif. Saat ini, DLHK Sidoarjo masih melakukan penghitungan terkait biaya operasional, skema pengangkutan sampah, hingga mekanisme kerja sama dengan pihak pengelola.
Ia menyebutkan, salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan adalah pengiriman sampah ke TPA Benowo Surabaya yang telah memiliki fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik.
Pemerintah daerah, lanjut Arif, juga masih melakukan kajian terkait efisiensi biaya serta dampak lingkungan dari sistem pengiriman sampah tersebut. Seluruh perhitungan dilakukan agar program yang dijalankan nantinya benar-benar efektif dan tidak membebani keuangan daerah.
“Perencanaannya masih terus dimatangkan, termasuk skema operasional dan pembiayaannya,” jelasnya.
DLHK menargetkan program PSEL dapat mulai berjalan pada tahun 2028. Sebelum target tersebut terealisasi, pemerintah daerah akan fokus menyusun regulasi, memperkuat infrastruktur pendukung, serta meningkatkan edukasi kepada masyarakat terkait pengelolaan sampah.
Arif menambahkan, edukasi masyarakat tetap menjadi bagian penting dalam sistem pengelolaan sampah modern. Menurutnya, teknologi secanggih apa pun tidak akan berjalan maksimal tanpa dukungan perilaku masyarakat yang peduli terhadap lingkungan.
Karena itu, pihaknya terus mendorong budaya memilah sampah dari rumah tangga serta mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai.
Ia berharap langkah-langkah yang sedang dipersiapkan pemerintah daerah dapat menjadi fondasi kuat bagi terciptanya sistem pengelolaan sampah yang lebih baik di Kabupaten Sidoarjo.
“Dengan perencanaan matang dan dukungan berbagai pihak, pengolahan sampah di Sidoarjo diharapkan tidak hanya menjadi solusi jangka pendek dalam mengatasi persoalan lingkungan, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi generasi mendatang,” pungkasnya. (ADV/yah)



