
BOJONEGORO, BIDIKNASIONAL.com – Karmijah (65), adalah Calon Jemaah Haji (CJH) asal warga Desa Saringembat, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban. Sebelum berangkat, segala kebutuhan pun dipersiapkan termasuk kepesertan aktif peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Ia merasakan betul pentingnya persiapan yang matang. Menurutnya bukan hanya dari segi ibadah, tetapi juga dari sisi kesehatan. Ia bercita-cita jika perjalanan spiritualnya di tanah suci harus sehat dan bahagia.
“Pertama tentunya sangat bersyukur dapat menunaikan rukun islam yang ke lima. Terlebih, memastikan kepesertaan JKN dalam kondisi aktif harus dapat diwujudkan. Sehingga saat membutuhkan layanan kesehatan, sudah tidak perlu bingung lagi. Kita juga tidak bisa memprediksi, kapan datangnya sakit. Bagu saya, kedatangan dan kepulangan wajib diupayakan sehat,” jelasnya, Rabu (20/05).
Karmijah menyadari bahwa biaya berobat saat sakit tanpa memanfaatkan layanan JKN, tentu sangat besar. Ia pun mengantisipasi, sedia payung sebelum hujan itu sangat penting.
“Setelah pulang dari haji, kondisi tubuh sering kali mengalami penyesuaian akibat perbedaan cuaca dan aktivitas fisik selama ibadah. Dengan adanya JKN, saya tidak perlu khawatir memikirkan biaya berobat di tanah air jika terjadi sakit. Biaya berobat yang tidak murah, harus saya upayakan perlindungannya. Sehingga, menjadi peserta JKN itu tidak ada ruginya. Manfaatnya yang besar pun telah saya dan keluarga rasakan,” tuturnya.
Karmijah juga menuturkan jika ia merasa lebih tenang saat beribadah haji. Seluruh anggota keluarga yang ditinggalkannya pun telah ia daftarkan menjadi peserta JKN.
“Menjadi peserta JKN bukan untuk kebutuhan pribadi. Seluruh anggota keluarga pun telah saya daftarkan menjadi pesertanya. Sehingga, saat meninggalkan rumah dalam kurun waktu lama, saya tidak khawatir lagi. Ibadah haji adalah momen yang membutuhkan kekhusyukan dan ketenangan hati. Akan sulit bagi saya untuk fokus beribadah jika masih dihantui kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan keluarga di rumah. Dengan perlindungan JKN, saya yakin mereka juga dapat memperoleh pelayanan kesehatan kapan pun dibutuhkan tanpa kendala biaya,” ungkapnya.
Karmijah juga mengingatkan diri sendiri bahwa menjadi peserta JKN tidak cukup hanya mendaftar.
“Saya juga mengingatkan diri sendiri bahwa menjadi peserta JKN tidak cukup hanya dengan mendaftar. Kepesertaan pun harus aktif dan tidak boleh ada tunggakan iuran. Saat ini, saya secara rutin memanfaatkan kemudahan yang disediakan seperti PANDAWA di WhatsApp 08118165165 maupun melalui Aplikasi Mobile JKN. Dengan begitu, saya dapat memastikan semuanya dalam kondisi aman dan siap sebelum keberangkatan,” katanya.
Karmijah juga mengungkapkan jika Program JKN bukan sekadar perlindungan kesehatan, tetapi juga merupakan bentuk amal jariyah.
“Saling gotong royong di dalamnya, di mana iuran yang kita bayarkan turut membantu sesama yang membutuhkan. Saya pun bangga menjadi pesertanya. Saya pun merasakan bahwa keberangkatan haji ini dapat berjalan seiring dengan niat untuk terus berbagi manfaat melalui Program JKN ini. Saya percaya, bagi kita yang telah dimampukan untuk memenuhi panggilan haji, InsyaAllah juga dimampukan untuk membayar iuran JKN secara tertib dan tanpa tunggakan. Ini adalah bagian dari tanggung jawab dan kepedulian kita, baik untuk diri sendiri maupun untuk masyarakat luas,” cetusnya.
Tidak lupa, dengan para CJH, Karmijah mengungkapkan telah memastikan pentingnya menjadi peserta JKN aktif.
“Perjalanan haji ini harus membahagiakan. Waktu tunggu yang lama, tidak akan saya sia-siakan. Sehingga jangan lupa untuk menciptakan tubuh yang sehat dan hati yang tenang. Sehingga ibadah haji yang lebih khusyuk dan pernuh keberkahan dapat kita upayakan. Sekali lagi jangan lupa untuk menjadi peserta JKN aktif,” tutupnya. (ru/red)



