Dugaan Korupsi Proyek JIAT BBWS Citanduy

Aktivitas mesin bor proyek JIAT milik BBWS Citanduy di Desa Mangunjaya, Pangandaran. Pengeboran sedalam 135 meter di lokasi ini rencananya akan dipindahkan ke titik baru (dok. foto: Asep Sujana)
PANGANDARAN, BIDIKNASIONAL.com – Pekerjaan program Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Dusun Poris, Desa Mangunjaya, Kecamatan Mangunjaya, Kabupaten Pangandaran, mendapat perhatian masyarakat. Pekerjaan yang disebut merupakan program BBWS Citanduy tersebut telah melakukan pengeboran hingga sekitar 135 meter.
Salah seorang warga RT 10/RW 02 mengatakan, proses pengeboran telah mencapai kedalaman tersebut, namun air yang diharapkan belum dapat dimanfaatkan.
“Sudah sekitar 135 meter, tetapi air belum keluar,” ujar warga.
Warga juga mempertanyakan transparansi pekerjaan karena di lokasi yang didokumentasikan pada 23 September 2026 tidak terlihat papan informasi proyek. Masyarakat mengaku belum mengetahui secara jelas nilai anggaran, pelaksana, masa pelaksanaan maupun target teknis pekerjaan.
Kondisi tersebut bahkan membuat warga menyebutnya sebagai “proyek siluman”. Namun, istilah tersebut merupakan ungkapan warga dan bukan kesimpulan bahwa pekerjaan tersebut ilegal.
Sementara itu, pelaksana pekerjaan memberikan penjelasan bahwa persoalannya bukan sekadar tidak adanya air.
Menurut keterangan pelaksana, air yang ditemukan pada proses pengeboran kualitasnya kurang bagus, sehingga belum dapat dijadikan sumber air untuk kebutuhan JIAT. Saat ini, pihak pelaksana masih mencari kemungkinan lokasi lain yang dianggap lebih sesuai.
“Airnya kurang bagus, sekarang masih mencari lokasi dan akan diganti,” demikian keterangan pelaksana.
Keterangan tersebut menjadi penting untuk menjelaskan kondisi sebenarnya di lapangan. Dengan demikian, masyarakat perlu mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai parameter apa yang digunakan untuk menyatakan kualitas air tersebut kurang baik, apakah berdasarkan hasil uji laboratorium atau indikator teknis lainnya.
Kajian Teknis: Bukan Sekadar Kedalaman 135 Meter
Secara teknis, keberhasilan sumur bor tidak cukup diukur dari kedalamannya. Sumur yang telah mencapai 135 meter belum otomatis dapat dikatakan berhasil ataupun gagal.
Beberapa aspek yang perlu diperhatikan antara lain kondisi akuifer, debit air, kualitas air, konstruksi sumur, serta hasil uji pemompaan dan pengujian kualitas air.
Jika air ditemukan tetapi kualitasnya tidak memenuhi kebutuhan yang direncanakan, keputusan untuk mencari titik alternatif dapat dijelaskan secara teknis. Namun, masyarakat berhak mengetahui dasar pengambilan keputusan tersebut.
Pertanyaan pentingnya adalah:
Apakah air pada titik pertama sudah dilakukan pengujian laboratorium?
Parameter apa yang menyebabkan air dinilai kurang bagus?
Berapa kedalaman pengeboran pada titik pertama?
Berapa target kedalaman dan debit JIAT?
Apakah titik baru masih berada dalam lokasi pekerjaan yang sama?
Apakah perubahan titik membutuhkan perubahan desain atau dokumen teknis?
Bagaimana pertanggungjawaban biaya pengeboran pada titik pertama?
Berapa batas waktu penyelesaian pekerjaan?
Papan Informasi Juga Menjadi Sorotan
Selain persoalan teknis, papan informasi kegiatan menjadi salah satu perhatian warga.
Papan informasi sangat penting untuk memberikan gambaran kepada masyarakat mengenai identitas pekerjaan. Setidaknya publik perlu mengetahui nama kegiatan, sumber dana, nilai pekerjaan, pelaksana dan waktu pelaksanaan.
Karena itu, BBWS Citanduy perlu memberikan penjelasan secara terbuka, terutama apabila memang terdapat perubahan titik pengeboran.
Perubahan lokasi pekerjaan tentu bukan persoalan sederhana jika berkaitan dengan desain teknis dan target pekerjaan. Masyarakat perlu mengetahui apakah perubahan tersebut masih sesuai dengan perencanaan awal dan bagaimana mekanisme administrasinya.
Publik Menunggu Penjelasan BBWS
Program JIAT diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi sektor pertanian. Karena itu, masyarakat tidak hanya membutuhkan penjelasan bahwa air di titik pertama kurang bagus, tetapi juga membutuhkan kepastian bahwa titik pengganti nantinya benar-benar memiliki potensi air yang sesuai dengan kebutuhan irigasi.
Media masih menunggu penjelasan dari BBWS Citanduy/Satker yang menangani kegiatan JIAT mengenai nilai anggaran, pelaksana, target debit, hasil pengujian air, alasan perubahan lokasi serta progres pekerjaan secara keseluruhan.
Dengan adanya klarifikasi dari pelaksana bahwa air ditemukan tetapi kualitasnya dinilai kurang bagus dan lokasi sedang dicari untuk diganti, maka persoalan ini selanjutnya perlu diuji melalui data teknis dan administrasi pekerjaan.
Jangan sampai masyarakat hanya melihat mesin bor berpindah dari satu titik ke titik lain, tetapi tidak mengetahui apa dasar teknis perpindahan tersebut dan bagaimana target keberhasilan pekerjaan yang dibiayai anggaran negara. (Asep sujana)

