Virus Babi Mematikan Mulai Menyebar di Perbatasan RI-RDTL


ATAMBUA, NTT, BN-Untuk mengantisipasi virus African Swine Fever (ASF) diwilayah Kabupaten Belu, Perbatasan perbatasan RI-RDTL perlu dilakukan sosialisasi atau pemberian informasi kepada masyarakat luas agar masyarakat dapat mengetahui lebih dini sehingga terhindar dari virus tersebut.
Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Belu, Drs. Nikolaus Umbu K. Birri, MM kepada media ini di ruang kerjanya, Kamis pekan lalu mengatakan, Penyakit atau African Swine Fever (ASF) atau yang biasa disebut dengan demam babi Africa, penyakit ini di Indonesia memang belum ada, namun penyakit ini sudah menyebar hingga ke wilayah negara Cina pada umumnya.
“Terakhir sesuai informasi yang kami peroleh dari Badan Feterina Timor Leste, ternyata virus ini sudah sampai di Negara Timor Leste. ASF ini beda dengan virus Clasical Swine Fever (hoc cholera) dan virus ini jika sudah kena pada babi, maka hampir 100 persen mematikan. Dan sampai saat ini vaksin dan obat-obatannya belum ada. Namun karena sudah ada wabah di Negara tetangga Timor Leste maka sesuai instruksi atau surat edaran dari Menteri Pertanian yang membidangi peternakan bahwa sudah seharusnya di lakukan upaya-upaya pencegahan, dimana pencegahan ini dapat dilakukan melalui Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE),” ujarnya.
ASFV adalah virus mematikan dan menular sangat cepat, namun ASF tidak menular ke manusia. Adapun ciri-ciri ternak babi yang terinfeksi ASF yakni demam tinggi dan kulit memerah, hilang nafsu makan, muntah, batuk berdarah, hidung berlendir, pendarahan pada kulit dan organ dalam, lemas dan gangguan koordinasi alat gerak.
Sesuai Instruksi Bupati untuk pencegahannya, dilarang ternak babi beserta produk olahan mulai dari sosis, dendeng dan produk olahan lainnya yang berasal dari Negara tetangga Timor Leste tidak boleh masuk ke Indonesia.
“Saya menghimbau kepada masyarakat dan para peternak babi, baik yang dilepas maupun yang didalam kandang, apabila mengetahui gejala-gejala sakit diharapkan untuk segera laporkan ke petugas di lapangan atau ke Dinas Peternakan Kabupaten Belu,” pintahnya.
Sementara, Kabid Keswan, Kesmak dan Pemasaran pada Dinas Peternakan Kabupaten Belu, Vinsent Yulius Bere, S.Pt., MM menuturkan terkait virus ASF yang terjadi di Negara Timor Leste yang harus diketahui bahwa media penularan dapat terjadi melalui kontak langsung antar ternak babi terinfeksi dengan ternak babi yang sehat, bisa saja langsung terjadi di alam bebas. Kedua penularan melalui media yang tidak langsung misalnya melalui manusia ketika manusia yang sudah terinfeksi Virus ini bisa melekat pada pakaian sepatu bahkan kendaraan ketika mereka masuk ke wilayah Indonesia atau membawa bahan-bahan olahan dari daging babi.
Untuk mengantisipasi Virus yang mematikan ini perlu dilakukan upaya-upaya dengan memberikan penyuluhan dengan mengoptimalkan pos-pos Kesehatan Hewan, penyebaran informasi melalui brosur ditempat-tempat keramaian, membuat himbauan dirumah-rumah ibadat, dan di tempat-tempat umum.
“Kami terus berkoordinasi dengan teman-teman di pos penjagaan RI-RDTL pada pintu masuk yang tidak resmi supaya memastikan bahwa pelintas batas yang masuk ke wilayah Indonesia dipastikan tidak membawa ternak babi yang hidup maupun daging segar ataupun olahannya. Sejauh ini memang ada informasi babi yang mati. Kami tindaklanjuti dengan menurunkan dokter hewan untuk mengambil sampel di lapangan untuk didiagnosa, namun sampai saat ini kita belum bisa memastikan hewan ternak tersebut mati karena terinfeksi Virus atau penyebab lain karena untuk memastikan harus melalui uji laboratorium,” tuturnya.
Perlu diketahui bahwa jumlah populasi ternak di Kabupaten Belu berdasarkan Sensus 2018 mencapai 56.000 lebih karena ternak babi itu sekali beranak bisa lebih dari satu ekor sehingga ditaksir bisa mencapai 65.000 ekor. Bisa dibayangkan jika terserang wabah ASF, tentu secara ekonomi berdampak pada pendapatan para peternak masyarakat. (anis ikun).



