ARTIKEL

Pelabelan Gizi Makanan dan Minuman: Pencegahan Obesitas, Penyakit Metabolik, dan Gaya Hidup Modern serta Tantangan Kesehatan Perkotaan (Urban Health)

Oleh : Prof. dr. Hj. Rika Yuliwulandari, M.Hlt.Sc., M.MB., Sp.KKLP., Subsp. FOMC, Ph.D., Fakultas Kedokteran, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

PERKEMBANGAN kota modern membawa berbagai kemudahan bagi masyarakat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Teknologi yang semakin canggih membuat banyak pekerjaan dapat dilakukan dengan cepat dan praktis. Transportasi online, makanan instan, hingga layanan digital kini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat perkotaan. Namun di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul tantangan kesehatan yang semakin serius. Obesitas, kurang Gerak (Mager, malas gerak), polusi lingkungan, dan pola hidup dan pola makan yang tidak sehat menjadi persoalan yang terus meningkat di kota-kota besar. Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena berdampak langsung terhadap kualitas hidup masyarakat serta berkaitan erat dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera.

Obesitas kini menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan di wilayah perkotaan. Pola hidup sedentari atau kurang aktivitas fisik membuat tubuh lebih mudah mengalami penumpukan lemak berlebih. Banyak masyarakat yang menghabiskan waktu duduk terlalu lama di depan komputer atau menggunakan kendaraan bermotor untuk aktivitas jarak dekat. Selain itu, konsumsi makanan cepat saji yang tinggi gula, garam, dan lemak semakin sulit dihindari. Kebiasaan tersebut perlahan meningkatkan risiko obesitas pada berbagai kelompok usia. Bahkan, angka obesitas pada anak dan remaja juga terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun sehingga menjadi tantangan serius dalam pencapaian target kesehatan global SDGs. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 sebanyak 23,4% penduduk dewasa (usia >18 tahun) mengalami obesitas atau meningkat 21,8% dibanding data tahun 2018. Oleh karena itu perlu terus digalakkan kampanye gaya hidup sehat dan GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat). Gaya hidup yang kurang sehat ini turut memperburuk kondisi kesehatan masyarakat perkotaan. Kesibukan pekerjaan sering membuat banyak orang mengabaikan pola makan sehat dan waktu istirahat yang cukup. Aktivitas fisik yang dahulu dilakukan secara alami kini banyak tergantikan oleh teknologi. Masyarakat lebih sering menggunakan lift daripada tangga dan lebih memilih memesan makanan daripada memasak sendiri di rumah. Selain itu, penggunaan gawai secara berlebihan juga membuat masyarakat semakin jarang bergerak aktif. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka risiko penyakit kronis akan semakin meningkat di masa mendatang dan dapat membebani sistem kesehatan masyarakat.

Dampak obesitas tidak hanya berkaitan dengan perubahan bentuk tubuh, tetapi juga memengaruhi berbagai fungsi kesehatan lainnya. Obesitas dapat meningkatkan risiko diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung, hingga stroke. Penumpukan lemak dalam tubuh juga dapat mengganggu sistem metabolisme dan menurunkan kualitas hidup seseorang. Tidak hanya kesehatan fisik, obesitas juga dapat memengaruhi kondisi psikologis seperti rasa kurang percaya diri dan stres. Banyak masyarakat yang belum menyadari bahwa obesitas merupakan penyakit yang perlu ditangani secara serius. Oleh karena itu, upaya pencegahan perlu dilakukan sejak usia dini sebagai bagian dari dukungan terhadap SDG 3 mengenai peningkatan kesehatan masyarakat.

Selain obesitas, polusi udara menjadi ancaman besar bagi kesehatan masyarakat perkotaan. Pertumbuhan kendaraan bermotor dan aktivitas industri menyebabkan kualitas udara semakin memburuk setiap tahunnya. Asap kendaraan, debu jalanan, dan pembakaran sampah menjadi sumber utama pencemaran udara di kota besar. Paparan polusi dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan pernapasan seperti asma dan penyakit paru kronis. Bahkan, polusi udara juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan gangguan metabolik. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesehatan masyarakat sangat dipengaruhi oleh kualitas lingkungan tempat tinggalnya dan berkaitan dengan SDG 11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan. Hubungan antara polusi dan obesitas ternyata juga semakin banyak dibahas dalam penelitian kesehatan. Paparan polusi udara dapat memicu peradangan kronis dalam tubuh yang memengaruhi sistem metabolisme manusia. Akibatnya, tubuh menjadi lebih rentan mengalami gangguan metabolik dan peningkatan berat badan. Risiko tersebut akan semakin tinggi jika disertai pola makan tidak sehat dan kurang aktivitas fisik. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak polusi lingkungan. Karena itu, pengendalian polusi tidak hanya penting untuk lingkungan, tetapi juga untuk kesehatan masyarakat secara keseluruhan serta mendukung SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim.

Selain itu, anak-anak di perkotaan menghadapi tantangan kesehatan yang semakin kompleks akibat perubahan gaya hidup modern. Minimnya ruang bermain terbuka membuat anak lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah dengan gawai. Konsumsi makanan siap saji yang tinggi kalori dan minuman manis juga semakin meningkat di kalangan anak dan remaja. Jika kondisi ini tidak dikendalikan, maka risiko obesitas sejak usia dini akan semakin tinggi. Dampaknya tidak hanya dirasakan saat anak-anak, tetapi juga dapat berlanjut hingga usia dewasa. Generasi muda berisiko mengalami berbagai penyakit kronis lebih cepat dibandingkan generasi sebelumnya sehingga perlu perhatian serius dalam pembangunan kesehatan berkelanjutan.

Mengatasi permasalahan obesitas dan polusi tentu membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Pemerintah perlu memperkuat kebijakan pengendalian polusi dan menyediakan lebih banyak ruang terbuka hijau di perkotaan. Fasilitas olahraga publik dan jalur pejalan kaki juga perlu ditingkatkan agar masyarakat lebih aktif bergerak. Selain itu, edukasi mengenai pola hidup sehat harus dilakukan secara berkelanjutan melalui sekolah maupun media sosial. Tenaga kesehatan dan akademisi juga memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. Upaya bersama sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih sehat, nyaman, dan sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan dalam SDGs.

Kebijakan promotif-preventif terkait pengendalian obesitas dan potensi timbulnya penyakit kronis saat ini telah menjadi perhatian Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang resmi diluncurkan pada tanggal 14 April 2026 dan dituangkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 tentang pencantuman label gizi dan pesan kesehatan pada pangan siap saji. Pencantuman label gizi berupa Nutri Level pada pangan siap saji, terutama minuman berpemanis akan diterapkan pada usaha skala besar sebagai upaya mendorong agar Masyarakat menerapkan pola konsumsi masyarakat yang lebih sehat. Kebijakan ini menjadi langkah strategis dalam pengendalian obesitas, terutama di tengah lingkungan perkotaan yang tidak hanya menghadapi paparan polusi, tetapi juga tingginya konsumsi makanan ultra-proses, minuman tinggi gula, garam, dan lemak. Melalui sistem pelabelan yang informatif dan mudah dipahami masyarakat, konsumen diharapkan dapat membuat keputusan konsumsi yang lebih sadar dan sehat. Penentuan nutri-level didasarkan pada kandungan gula, garam, dan lemak jenuh per 100 mL. Level A (hijau tua) adalah piliihan paling sehat karnaa mengandung kadar gula, garam dan lemak paling rendah. Level B (hijau muda) tergolong masih sehat dan sesuai dengan pedoman standar Kesehatan. Level C (kuning) artinya membutuhkan perhatian dan sebaiknya dikonsumsi dalam jumlahh sedang. Level D (Merah) berarti mengandung kadar gula, garam dan lemak yang tertinggi, sehingga harus dibatasi dalam mengkonsumsinya. Informasi Nutri-level pada kemasan produk dapat menjadi bentuk intervensi perilaku yang efektif untuk menekan faktor risiko obesitas, diabetes, hipertensi, dan penyakit kronis lainnya.

 

Kebijakan ini juga sejalan dengan upaya menciptakan lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat, sebagaimana pembangunan ruang terbuka hijau, fasilitas aktivitas fisik, dan edukasi kesehatan yang berkelanjutan. Dengan demikian, pengendalian obesitas tidak hanya berfokus pada perubahan perilaku individu, tetapi juga pada pembentukan sistem lingkungan dan pangan yang lebih sehat. Sinergi antara pemerintah, industri pangan, akademisi, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci dalam mewujudkan ekosistem perkotaan yang sehat, produktif, dan berkelanjutan, selaras dengan target United Nations melalui Sustainable Development Goals (SDGs) terutama pada tujuan kesehatan yang baik, konsumsi yang bertanggung jawab, serta pembangunan kota yang berkelanjutan.

Masyarakat juga harus mulai membangun kesadaran untuk menjaga kesehatan dari lingkungan dan kebiasaan sehari-hari. Langkah sederhana seperti rutin berjalan kaki, mengurangi konsumsi makanan cepat saji, serta memperbanyak konsumsi buah dan sayur dapat memberikan manfaat besar bagi tubuh. Senantiasa mengecek kandungan gizi pada makanan dan minuman yang akan dikonsumsi harus menjadi bagian dari gaya hidup. Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi juga dapat membantu menekan tingkat polusi udara di perkotaan. Kesadaran kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan jangka panjang. Pada akhirnya, kesehatan masyarakat perkotaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama. Dengan lingkungan yang lebih sehat dan gaya hidup yang lebih baik, kualitas hidup masyarakat pun dapat meningkat sekaligus mendukung tercapainya tujuan SDGs di Indonesia. (Adv/wot)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button