
Audensi Media, LSM bersama Sekda Kabupaten Ngawi dan Kadindik Ngawi, Rabu (26-8-2026). Foto: Yoseph
NGAWI, BIDIKNASIONAL.com – Jalannya audiensi antara wartawan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngawi di ruang pertemuan Sekretaris Daerah diwarnai ketegangan. Suasana mendadak memanas setelah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadindik) Ngawi, Kabul Tunggul Winarno, melontarkan pernyataan kontroversial mengenai kepemilikan “pasukan”.
Di depan peserta forum, Kadindik menyatakan siap menerima kritik terkait rapor merah dinasnya, termasuk kebijakan satu pintu yang dinilai menghambat pers. Namun, situasi memuncak ketika ia mengklaim memiliki “pasukan” di ratusan sekolah yang tersebar di 219 desa se-Kabupaten Ngawi.
Ia juga mengisyaratkan bisa mengaktifkan “mode telepon” kepada jaringannya tersebut kapan saja.
Pernyataan tersebut memantik reaksi keras dari para aktivis. Mereka menangkap pernyataan itu sebagai bentuk ancaman terselubung untuk membenturkan jurnalis dan LSM dengan basis massa di bawah kendali dinas.
“Apakah mungkin teman-teman media dan LSM akan diserang dan dimatikan oleh Kadindik?” tegas Budi, perwakilan dari pihak media, dengan nada tinggi menuntut klarifikasi.
Budi mengecam keras arogansi verbal tersebut dan menilai kalimat itu mencederai etika birokrasi. “Perkataan seperti ini tidak pantas diucapkan oleh seorang pejabat publik yang jelas-jelas digaji dari uang rakyat,” tambahnya.
Melihat tensi yang meninggi, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Ngawi, Drs. Sodiq Tri Widianto, langsung mengambil alih pembicaraan untuk menengahi situasi.
Dengan tegas namun menyejukkan, Drs. Sodiq meluruskan ucapan bawahannya tersebut. Menurut Drs. Sodiq, Kadindik telah salah dalam memilih diksi di dalam forum resmi.
Penggunaan kata ‘pasukan’ itu salah diksi, karena kata tersebut sangat identik dengan perang,” jelas Sekda untuk meredakan suasana agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berlarut-larut.
Lebih jauh, Drs. Sodiq menyatakan bahwa langkah yang diambil oleh rekan-rekan media dan LSM untuk menggelar audiensi ini sudah sangat benar. Pihaknya melihat gerakan ini bukan untuk mencari musuh, melainkan bentuk kepedulian tinggi terhadap daerahnya.
“Langkah teman-teman mengadakan audiensi ini sudah benar, yaitu dengan mengedepankan jalur dialogis. Ini artinya teman-teman wartawan dan LSM masih sayang dengan Kota Ngawi,” tutur Drs. Sodiq.
Di akhir forum, Sekda berharap agar semua pihak tetap menjaga situasi Kabupaten Ngawi agar tetap kondusif. Pemkab Ngawi berjanji akan menjadikan seluruh poin aduan mulai dari transparansi, penanganan kasus asusila di sekolah, hingga masalah atlet berprestasi sebagai bahan evaluasi mendalam terhadap kinerja Dinas Pendidikan ke depan.
Audiensi yang sempat memanas antara wartawan, LSM, dan Pemkab Ngawi akhirnya mencair setelah di tengahi oleh Sekda Ngawi.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Ngawi mengakui bahwa penghargaan terhadap atlet berprestasi masih menjadi pekerjaan rumah akibat keterbatasan anggaran, serta menyampaikan permohonan maaf. Ia kemudian turun dari kursinya untuk menyalami para peserta audiensi. (Yoseph)



