GROBOGANJATENG

Krisis Air Meluas, 108 Desa di Grobogan Masih Bergantung pada Distribusi Air Bersih

Di tengah kemarau, distribusi air bersih terus berlangsung untuk memenuhi kebutuhan warga di wilayah terdampak kekeringan di Grobogan (ist)

GROBOGAN, BIDIKNASIONAL.com – Krisis air bersih akibat kemarau masih membayangi sejumlah wilayah Kabupaten Grobogan. Hingga memasuki akhir September 2026, sedikitnya 108 desa tercatat mengajukan bantuan pasokan air bersih kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih masyarakat masih tinggi meski kalender mulai mendekati penghujung musim kemarau.

Kepala Pelaksana BPBD Grobogan, Wahyu Tri Darmawanto, menyebut penanganan kekeringan terus dilakukan melalui distribusi air secara bertahap ke wilayah terdampak.

Berdasarkan pembaruan data yang disampaikan BPBD pada 23 September 2026, sebanyak 617 tangki atau sekitar 3,1 juta liter air bersih telah disalurkan sejak periode kekeringan berlangsung.

“Sejak Mei sampai menjelang akhir September ini, sudah didistribusikan 617 tangki air atau setara sekitar 3,1 juta liter air bersih ke wilayah terdampak,“ kata Wahyu, Rabu (23/9/2026).

Namun, penanganan tidak berhenti pada angka tersebut. BPBD masih melakukan distribusi karena sejumlah desa tetap membutuhkan suplai air.

Bahkan pada 25 September 2026, BPBD Grobogan bersama CSR PT Podo Rukun kembali menyalurkan 48.000 liter air bersih ke masyarakat terdampak di Kecamatan Karangrayung dan Penawangan. Bantuan tersebut menggunakan dua truk tangki BPBD dan satu truk tangki CSR.

Sejumlah wilayah seperti Karangrayung, Geyer dan Toroh termasuk kawasan yang dilaporkan mengalami dampak kekeringan cukup berat. Distribusi air dilakukan dengan mengerahkan armada BPBD serta dukungan berbagai pihak.

Selain mengandalkan armada pemerintah daerah, penanganan kekeringan juga melibatkan lembaga sosial dan dunia usaha melalui dukungan CSR. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting untuk memperluas jangkauan distribusi ketika kebutuhan masyarakat meningkat.

Situasi kekeringan ini juga sejalan dengan informasi klimatologi Jawa Tengah. Stasiun Klimatologi Jawa Tengah mencatat Grobogan termasuk wilayah yang mendapat peringatan kekeringan meteorologis pada dasarian kedua September 2026.

BMKG sebelumnya memprakirakan sebagian besar wilayah Jawa Tengah mengalami puncak musim kemarau sekitar Agustus 2026, dengan sejumlah wilayah berpotensi mengalami musim kemarau lebih panjang dari kondisi normal.

Sementara itu, informasi prakiraan curah hujan Jawa Tengah menunjukkan September masih berada pada kategori rendah, sedangkan peningkatan curah hujan diperkirakan mulai terjadi secara bertahap pada Oktober-November.

Dengan kondisi tersebut, BPBD Grobogan mengimbau masyarakat tetap menghemat penggunaan air bersih dan memanfaatkan sumber air alternatif yang tersedia secara bijak.

Penyaluran bantuan air bersih akan terus dilakukan selama masih terdapat masyarakat yang membutuhkan, terutama di wilayah yang sumber airnya mengalami penurunan akibat kemarau.

Laporan: Heru Budianto

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button