AREA LAPANGAN WIRA MANDALA BERUBAH MENJADI RUANG TERBUKA KUMUH KARENA MANGKRAK DAN TIDAK TERURUS


TULUNGAGUNG, JATIM, BN – Puluhan Rumah Toko (Ruko) yang dibongkar Pemkab Tulungagung sejak empat tahun silam, hingga kini dibiarkan tidak terurus.
Kawasan Ruko yang berada persis didepan lapangan Wira mandala atau lebih dikenal dengan sebutan Pasar Pahing, berada satu blok di samping Terminal Gayatri. Kini berubah menjadi kawasan kumuh dan sangat memprihatinkan.
Area bekas bongkaran itu, dipakai warung kopi plus makanan denganpenerangan yang kurang memadai. Pada malam hari kawasan ini menjadi Ruang Terbuka Kumuh (RTK). Padahal mestinya area tersebut menjadi etalase suatu wilayah Kabupaten.
Pembongkaran itu dilakukan, usai dilantiknya Pasangan Sahry Mulyo-Maryoto Bhirowo (SAHTO) menjadi Bupati Tulungagung periode tahun 2013/2018. Namun pasca dibongkar ditengarai tidak ada rencana yang pasti, hendak digunakan untuk apa lokasi tersebut.
Hal ini nampak dengan tidak terurusnya area bekas Ruko itu. Tumpukan sampah dan bau tidak sedap seolah menambah parah kumuhnya area itu. Kawasan ini semula nampak asri dan menjadi tempat berkumpulnya kawula muda pada malam minggu.
Are parkir yang cukup memadai dengan hiasan tanaman yang cukup bagus. Ditambah maraknya Ruko yang menjajakan beragam pakaian kawula muda dan peralatan elektronik serta yang lainnya. Kini pemandangan itu berubah total menjadi kawasan kumuh yang sangat tidak sedap dipandang.
“Ironis, pembongkaran Ruko yang mestinya kian menambah bagus lokasi terminal serta menopang pendapatan Pemkab maupun para pedagang dan puluhan karyawan Ruko, Kini kawasan itu merana dan tidak terurus sama sekali,” Ujar mantan penyewa Ruko dengan nada prihatin.
Mestinya, Pemkab Tulungagung tidak grusa-grusu membongkar Ruko yang tidak sedikit menyetor pemasukkan ke Kas Daerah.
Dengan tidak jelasnya pasca pembongkaran Ruko itu Pemkab jelas rugi begitu juga sebaliknya puluhan penyewa dan karyawan ruko kehilangan mata pencaharian.
“Kalau SAHTO waktu itu ingin kawasan itu menjadi kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH), kini sebaliknya jomplang jadi Ruang Terbuka Kumuh (RTK) mas, “ ujar Modin yang kini membuka warung makan yang tidak jauh dari lokasi terminal ini.
Masyarakat sangat menyayangkan dengan kondisi kawasan terminal Gayatri ini. Pembongkaran tersebut selain masa sewa Ruko habis dan tidak diperpanjang lagi oleh Pemkab Tulungagung, ditengarai untuk menghapus ikon pembangunan yang ditinggalkan oleh pejabat lama.
Malahan kini sering kali area itu menjadi pos para gelandangan dan pengemis. Sementara pemerintah pusat giat-giatnya mencanangkan program Ruang Terbuka Hijau namun sayang, Pemkab Tulungagung seolah terlena dengan kondisi wilayah yang berada di dalam kota ini.
Hingga kini proses pembangunan pintu masuk bus ke terminal saja belum juga kelar kawasan lainnya sudah dilakukan pembongkaran. Disamping itu kawasan trotoar yang berada disepanjang jalan depan arean terminal hingga ke perempatan jepun sepanjang kisaran 1 kilometer baik disisi kanan maupun kiri rusak berat.
Namun tidak pernah tersentuh pembangunan. Paling Cuma di cat bagian pinggir trotoar yang sebenarnya sudah tidak layak ini.
Berkaitan dengan terminal Gayatri, ada yang sangat unik dan mungkin saja satu-satunya di Indonesia. Jalan di area pintu keluar bus, digunakan juga untuk akses keluar kendaraan dari Pom Bensin yang berada persis di samping kanan terminal ini.
Kendaraan yang keluar lewat jalan tersebut harus ekstra hati-hati karena sangat rawan. Meski sampai saat ini belum pernah terjadi kecelakaan di akses jalan keluar terminal itu.
“Baru di Terminal Tulungagung ini saya mengetahui pintu keluar bus digunakan juga untuk kepentingan pribadi pengusaha, ada apa sebenarnya ini,” Tanya seorang penumpang bus yang mengaku dari Surabaya ini seraya geleng-geleng kepala.
Dari Pantauan BN, kawasan lapangan olahraga yang juga sering menjadi arena pameran maupun konser seni budaya itu, kini tidak terawat. Pagar tembok dan pintu gerbang sebagai akses keluar masuk, lapangan tidak luput dari pembongkaran. Bangunan model joglo yang berada diselasar lapangan, genting asbesnya banyak yang rusak dan tidak pernah sekalipun tersentuh perbaikan. Padahal area lapangan ini satu-satunya lapangan sepakbola yang berada di kawasan perkotaan.
Sangat disayangkan, meski sudah tiga tahun lebih pergantian pimpinan di Kabupaten Tulungagung ini, kawasan yang menjadi etalase Tulungagung, malah menjadi sebaliknya. Tumpukan sampah dan barang bekas nampak teronggok pada pojok lapangan. Begitu juga gerobak para pedagang yang nampak rusak ikut diparkir di selasar depan lapangan yang tidak terurus ini. Pepohonan dipinggir lapangan tidak terawat ditambah tidak tersedianya bak sampah yang cukup memadai.
Sampah nampak berserakan diarea tersebut. Saat malam hari, area tersebut layaknya warung remang-remang, karena penerangannya minim dan pedagang yang berjualan di selasar kurang menjaga kebersihan lingkungan lapangan tempat mereka berjualan.
“Mungkin lantaran tidak pernah tersentuh perbaikan dan sewaktu-waktu mereka bakal digusur warung itu tidak dibangun secara permanen mas,” ujar salah seorang pengunjung warung.
Secara terpisah sumber BN di Pemkab Tulungagung menyatakan, awalnya kawasan lapangan Wiramandala itu hendak dibangun Maal yang cukup megah. Malahan setting gambarnya dibuat oleh arsitek dari Singapura dengan desain modern. Namun entah kenapa hal itu tidak direalisasikan. Dan segera dilakukan. Padahal sejak tiga tahun silam sudah dilakukan tahap awal yakni dibongkarnya puluhan Ruko yang berada di halaman depan lapangangan tersebut. Bersamaan dengan berakhirnya masa sewa Ruko itu.
Lantas muncul ide hendak digunakan untuk kawasan Ruang Terbuka Hijau. Hal inipun tidak juga segera terwujud. Dan kini dibiarkan merana begitu saja oleh Pemkab Tulungagung. Sejatinya area tersebut sangat strategis sekali. Disatu sisi menjadi sumber Pendapan Asli Daerah dari system sewa Ruko tersebut. Sisi lainnya menambah kian asrinya kawasan terminal Gayatri.
“Sayang semauanya cuma berupa wacana mesti sudah terlanjur dilakukan pembongkaran yang otomatis mengurangi setoran ke Kas Daerah,” pungkas salah satu penjabat Pemkab Tulungagung kepada BN yang enggan disebutkan namanya. (Subiyanto)



