
Kepala Perwakilan BKKBN Nusa Tenggara Barat, Lalu Makripuddin (Foto.dok: Ist)
MATARAM, BIDIKNASIONAL.com – Stunting masih menjadi permasalahan utama yang harus diselesaikan. Berbagai upaya telah dan sedang dilakukan demi menurunkan angka stunting di NTB termasuk dengan melakukan kegiatan Bina Keluarga Balita Holistik Integratif Unggulan (BKB-HIU).
Guna mempercepat program stunting yang sekarang ini masih menjadi salah satu fokus kerja pemerintahan dan karena ini menyangkut kualitas sumber daya manusia karena ke depan jika stunting ini dibiarkan dan tidak dicegah maka kedepan itu nanti generasi selanjutnya akan muncul generasi-generasi yang lemah baik secara fisik maupun secara mental dan kecerdasan.
Oleh karena itu untuk memberantas stunting ini landasannya adalah Peraturan Presiden nomor 72 tahun 2021 di dalamnya itu dikatakannya BKKBN itu sebagai koordinator percepatan pendengar stunting.
Hal tersebut dikatakan Kepala Perwakilan BKKBN Nusa Tenggara Barat, Lalu Makripuddin saat ditemui siang ini di ruangannya. Selasa (23/05/23).
“Ada banyak hal pembaharuan yang kemudian ini kita lakukan dibandingkan dengan sebelumnya misalnya kebaharuan itu ada tim pendamping keluarga, Jadi sekarang kita memiliki tim pendamping keluarga di seluruh desa”. Ungkapnya.
Ia mengatakan bahwa ada beberapa kegiatan lain yang akan diaudit seperti kasus stunting ada minilog dan sebagainya termasuklah di provinsi-provinsi dibentuk di provinsi kabupaten kota sampai Kecamatan Desa TPPS (Tim Percepatan Penurunan Stunting) pada level masing-masing, dan yang kedua tentu tidak bisa kita sendiri untuk mengatasi stunting itu karena penyebab stunting itu ada dua ada yang satu faktor sensitif dan ada yang faktor spesifik, faktor sensitif itu 70% berpengaruh ini termasuk pendidikan ekonomi sanitasi, dan faktor spesifik 30% itu terkait dengan gizi, interface – interface yang langsung dilakukan ke balita.
“Karena pengaruh faktor 70% tentu kita mengajak lintas sektor Kementerian lembaga perusahaan swasta yang kita kembangkan namanya seribu Mitra untuk 1000 hari pertama kehidupan”. Jelasnya.
Terkait dengan Bakti Stunting tentu waktu stunting ini bagian dari terobosan karena NTB memiliki waktu yang terbatas, tahun 2024 angka stunting di NTB harus bisa diturunkan menjadi 14%, karena itu target Nasional yang ada di RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional)
“Di sana disebutkan tahun 2024 harus turun menjadi 14% di Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 juga disebutkan harus kita capai 14%, tahun 2024 tentu berbagai upaya yang kemudian kita lakukan karena inovasi yang dilakukan di NTB”. Tuturnya.
BKKBN sendiri tentu terlibat di TPPS memastikan bahwa bantuan itu sampai ke mulut yang berhak melalui tim pendamping keluarga dan penyuluh KB.
“Bagaimana caranya tau kamu memiliki tim pendamping keluarga yang ada di seluruh desa, seluruh desa itu memiliki masalah kalau kita di NTB itu perbandingannya dua tim pendamping keluarga. untuk satu desa tim pendamping keluarga itu masing-masing tiga orang ada dari unsur tenaga kesehatan kader kb dan tim penggerak pkk”. Ungkapnya.
Diakhir pernyataannya ia berharap dari Banyak keluarga yang anaknya mengalami stunting tentu untuk ke depannya sangat diharapkan partisipasi bukan hanya dari siswa tapi juga dari Mahasiswa, Mahasiswa juga diharapkan apalagi saat ini kita juga kembangkan satu program yang namanya Mahasiswa Penting (Mahasiswa Peduli Stanting) harapan kita nanti pengumpulan telur itu juga bisa dilakukan oleh mahasiswa yang ingin mulai berperan aktif untuk membantu percepatan pengaruh stunting.
Laporan: Aini
Editor: Budi Santoso



