JATIMSURABAYA

Wagub Emil Dorong Kepemimpinan yang Peka terhadap Persoalan Masyarakat

Wagub Emil saat menjadi pembicara utama dalam RIE di SIS Jumat hari ini (foto: istimewa)

SURABAYA, BIDIKNASIONAL.com – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menekankan pentingnya membangun kepemimpinan yang peka terhadap persoalan masyarakat.

Kepekaan tersebut perlu ditumbuhkan dengan memadukan pengetahuan akademik, pengalaman langsung, serta keterbukaan untuk belajar dari kearifan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Wagub Emil saat menjadi pembicara utama dalam rangkaian Raffles Immersion Experience (RIE) Surabaya 2026 di Singapore Intercultural School (SIS) Surabaya, Jumat (9/10).

Mengusung tema “Sustainability Beyond Borders: Stewardship of Nature”, program yang berlangsung pada 1–9 Oktober 2026 tersebut mengajak para siswa mengenal alam Indonesia sekaligus memperkenalkan filosofi Jawa “Memayu Hayuning Bawono” sebagai landasan membangun kehidupan berkelanjutan.

Hadir sebagai alumni RI angkatan 2000, Wagub Emil membagikan pengalaman pendidikan dan perjalanan pengabdiannya sebagai pemangku kebijakan. Ia menilai, pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang dan karakter kepemimpinan, meskipun setiap generasi menghadapi tantangan yang berbeda.

“Di Raffles Institution, kita selalu mengatakan bahwa kita ingin menjadi pemimpin masa depan. Saya pikir perspektif itu sangat berbeda pada tahun 1999 dan sekarang. Tapi antara milenial dan Gen Z, bahkan dalam perbedaan generasi, saya bisa melihat ada common denominator yang berkaitan dengan bagaimana kita dibentuk oleh sekolah,” katanya.

Emil mengapresiasi Raffles Institution yang memilih Jawa Timur sebagai destinasi pembelajaran. Menurutnya, kesempatan mengenal kehidupan masyarakat secara langsung dapat mendorong siswa keluar dari zona nyaman sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis dengan menempatkan manusia dan kebutuhannya sebagai pusat perhatian.

Melalui pengalaman tersebut, para siswa dapat memahami lebih dekat bagaimana masyarakat menjalani kehidupan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk hal-hal yang selama ini mungkin dianggap sederhana.

“Indonesia adalah rekan dekat Singapura dan saya senang kalian memilih Jawa Timur sehingga Anda bisa betul-betul mengenal Indonesia. Kalian bahkan ke Gunung Arjuno, di mana kalian benar-benar dapat melihat kehidupan orang-orang yang sebenarnya. Bagaimana mereka mendapatkan makanan di meja mereka, karena kadang-kadang kita menyepelekan itu,” jelasnya.

Selain keluar dari zona nyaman, Wagub Emil menekankan pentingnya belajar sejarah dan contoh isu di masa lalu. Ia mengatakan, melihat rentang waktu alam semesta dengan fragmen yang begitu kecil dari seluruh perjalanannya selama ini, melihat sejarah adalah hal yang sangat vital untuk dapat mensimulasikan tantangan sekaligus mendapatkan jawaban.

“Memiliki pendidikan tinggi bisa menempatkan kita di menara gading. Kita cenderung berpikir bahwa semua masalah bisa diselesaikan oleh orang-orang dengan kualifikasi tinggi. Namun berada di jabatan ini membuat saya menyadari keterbatasan keahlian akademik saya, dan pentingnya menyelesaikan masalah dengan menggali pengalaman serta kearifan di tingkat akar rumput,” ucapnya.

Menyelesaikan masalah dengan berkaca dari sejarah dan pengalaman ini kemudian diintegrasikan Wagub Emil dalam pembuatan kebijakan. Salah satu yang diamalkannya adalah pengalaman studinya di RI dan Universitas Oxford yang lebih mengedepankan model interaktif dalam transfer ilmu.

Hal ini dilakukan karena kekhawatiran Wagub Emil akan _low-class energy_ yang biasa dialami guru dan siswa. Sehingga, saat masih menjadi Bupati Trenggalek ia, pernah merobohkan tembok di antara dua kelas dan mengubahnya menjadi model meja bundar tempat siswa duduk berkelompok.

“Kami kemudian melengkapinya dengan fasilitas multimedia dan menamakannya Active Learning Classroom (ALC). Dalam ALC, guru berperan sebagai fasilitator. Mata pelajaran apa pun, termasuk sains, ilmu sosial, atau matematika, selalu ada cara untuk mengkontekstualisasikannya,” jelasnya.

Di akhir, Wagub Emil mengingatkan bahwa di dunia nyata, tidak ada istilah ceteris paribus. Yakni istilah ekonomi yang berarti “hal-hal lain tetap sama” atau “faktor-faktor lain dianggap konstan”.

“Perbedaan antara keberhasilan dan kegagalan melibatkan lebih dari sekadar aspek teknis. Hal itu membutuhkan kearifan yang memerlukan banyak improvisasi serta pengetahuan tacit. Itulah hasil pembelajaran saya selama bertahun-tahun dalam memadukan apa yang saya dapatkan dari sekolah dan apa yang saya jalani dalam hidup,” pungkasnya. (dji)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button